
Nyi Arum Sari sangat terkejut begitu melihat kondisi Erlangga yang terlihat sangat kesakitan . Ia terlihat sedang meronta-ronta. Di sana ada tiga orang lain yang sepertinya sedang mengkhawatirkan kondisi Erlangga. Nyi Arum Sari segera membantu Erlangga dengan kekuatan tenaga dalamnya.
"Kamu harus kuat. Mungkin sampai besok kamu akan terus merasakan sakit. Tapi percayalah, tubuhmu akan merasa lebih baik setelah kamu melewati semuanya," kata Nyi Arum Sari berusaha menenangkan Erlangga.
Karena tidak tahan dengan rasa sakit itu, Erlangga tidak sadarkan diri . Melihat kondisinya, teman-temannya itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Jangan panik, dia pasti akan baik-baik saja. Semoga esok hari dia sudah sembuh. Kalau boleh saya tahu tujuan kalian berdua berjalan cukup jauh untuk apa?" Nyi Arum Sari bertanya kepada Laksminingrum dan Aji Dharma.
"Aku ingin mencari pengalaman. Aku juga ingin jadi lebih kuat dibandingkan dengan diriku yang sekarang," jawab Aji Dharma.
"Kalau saya , saya ingin tahu mengenai keluargaku. Aku diperintahkan oleh guruku untuk mencari jati diriku yang sebenarnya."
__ADS_1
"Tujuan kalian terdengar seperti kebanyakan pendekar lainnya. Walaupun begitu, jalan kalian akan berat. Kalau kalian hendak mencari jalan pintas, aku akan menyarankan kalian untuk menemukan tujuan kalian di kaki gunung Luhur. Di sana terdapat sebuah buku yang bisa memberikan kalian petunjuk yang akurat untuk kalian bisa melangkah lebih jauh ."
"Gunung Luhur? Sepertinya itu terdengar asing bagiku," jawab Laksminingrum.
"Aku akan memberikan kalian peta agar bisa sampai kesana dengan lebih cepat," kata Nyi Arum Sari.
Laksminingrum sebenarnya tidak ingin menerima bantuan dari orang yang berada didepannya. Namun ia juga tidak tahu harus kemana dia akan pergi setelah ini. Ditambah lagi ia benar-benar tidak punya petunjuk mengenai apa yang dia cari selama ini.
"Kalau begitu, kami akan menerima tawaranmu nyisanak," Laksminingrum mengiyakan setelah beberapa kali mengobrol dengan pangeran Aji Dharma melalui mata masing-masing.
***
__ADS_1
Malam tiba, suara jangkrik yang tadi terdengar begitu riuh tiba-tiba tidak terdengar lagi. Hujan deras yang datang mendadak menimbulkan hawa dingin yang amat sangat. Walau begitu, Aji Dharma tetap tidak mau beranjak dari teras rumah itu.
Disana ia memikirkan tentang istana Prabakerta. Entah kenapa pikirannya selalu tertuju kesana. Ia takut rakyatnya bertambah penderitaannya setelah seorang yang asing menduduki singgasana kerajaan. Keraguannya benar-benar tidak tertahankan, tapi ia tak bisa pulang sekarang. Dengan pedang yang dimiliki oleh Arya Bayu pasti ia hanya menjadi bulan-bulanan saja jika sekarang ia kembali ke sana. Ia tak mau hal itu terjadi.
Mengenai pergi ke gunung Luhur yang dibicarakan tadi ia sebenarnya tidak merasa yakin bahwa ada buku yang bisa memiliki kekuatan seperti itu. Ia belum pernah mendengarnya sebelumnya, tapi kalau hanya itu satu-satunya jalan tercepat jelas ia akan mencoba untuk kesana. Dia tak peduli apakah itu hanya jebakan atau memang sungguh-sungguh ada.
Jika memang buku itu benar-benar ada, ia ingin ditunjukkan cara mendapatkan kekuatan yang bisa menandingi kekuatan yang dimiliki Arya Bayu. Dengan begitu, tahta yang seharusnya adalah milik kakaknya tidak akan akan bisa ia rebut kembali.
Aji Dharma benar-benar sangat bersemangat untuk memulai perjalanan baru menuju Gunung Luhur itu. Walaupun katanya akan berat sekali, namun ia yakin bisa menghadapinya. Apalagi disisinya ada Laksminingrum yang punya salah satu pedang legendaris.
Hari semakin malam, hujan juga semakin deras. Angin yang membuat tulangnya serasa membeku memaksanya untuk segera masuk ke dalam. Segera ditutupnya pintu rumah itu untuk kemudian masuk ke dalam kamarnya dan kemudian bermimpi banyak hal yang indah.
__ADS_1