
"Maaf aku merepotkan. Aku seharusnya tidak berakhir dengan menyedihkan seperti tadi ," Erlangga berkata kepada Laksminingrum. Erlangga mengenang beberapa pertempuran terakhir yang selalu berujung dengan kekalahan dimulai dari pertarungannya dengan pendekar misterius waktu itu. Ia merasa sedang dikutuk olehnya.
"Tidak mengapa. Aku juga tidak merasa direpotkan. Aku bergerak sesuai dengan instingku saja," dengan santai Laksminingrum menjawab .
"Kalau boleh tahu, nisanak ini siapa? Dan hendak kemana?"
"Namaku Laksminingrum. Panggil saja Laksmi. Aku sebenarnya tidak punya tujuan yang pasti. Guruku menyuruhku mencari tahu siapa diriku yang sebenarnya tanpa petunjuk apapun."
"Bagaimana kalau ikut denganku saja? Walaupun aku tidak bisa membantu, setidaknya aku bisa menemanimu. Tenang saja, aku bersama seorang wanita juga jadi kami tidak perlu takut denganku," Erlangga memberi penawaran.
"Aku pikir itu bagus juga. Dimana temanmu?" Laksminingrum sepertinya setuju dengan usulan itu.
__ADS_1
Mereka berjalan mencari Dewi Ratih yang nampaknya tidak berada ditempat dimana Erlangga dan dirinya beristirahat tadi. Tak seberapa lama akhirnya mereka menemukannya sedang membilas rambutnya.
"Hai, maaf ya aku pergi tanpa berkata dulu padamu. Kenalkan, ini Laksminingrum," Erlangga agak canggung saat berkata, dia sendiri tidak tahu kenapa.
"Bagus ya, dasar genit," Dewi Ratih nampaknya cemburu.
"Aku tidak genit. Hanya saja tadi melihat dua orang wanita sedang kesusahan. Saat aku membantu mereka, aku mendapat masalah," Erlangga berusaha membela diri.
"Itu adalah karma dari Dewata yang agung karena kakang tidak memberitahu aku dulu," nampak sekali dia sangat sebal.
"Wanita itu siapa? Pasti habis kena bujuk rayunya kakang kan? Ayo ngaku!"
__ADS_1
"Dia yang menolongku saat aku berada dalam bencana. Aku menawarinya untuk ikut bersama kita untuk sementara."
"Boleh, tapi lawan aku dulu. Kalau dia menang baru boleh ikut," tanpa memberi aba-aba kepada musuhnya ia langsung menyerang dengan membabi buta. Dengan jurus andalan yang mematikan Dewi Ratih nampaknya tidak ingin wanita yang datang bersama kakak seperguruannya yang diam-diam ia sukai ikut bersamanya. Ia ingin hanya berdua saja, tapi tidak mungkin ia menolak permintaan Erlangga. Ia tak punya alasan yang cukup kuat untuk berkata.
Laksminingrum tak mau kalah. Walaupun ia sebenarnya tidak mengerti alasannya mengapa ia diserang, yang terpenting baginya adalah melindungi dirinya sendiri. Ia tidak mau kalah dari wanita itu. Rasanya malas saja, baru juga turun gunung masa sudah langsung kalah.
Ia menangkis setiap gerakan yang diluncurkan lawannya dengan pedang yang sarungnya tidak ia buka. Sebenarnya ia tahu, dengan membuka sarung pedangnya maka pertarungan akan segera berakhir. Lagipula ia merasa senang bisa melawan wanita yang di depannya. Ia tak tahu mengapa, yang jelas ada kepuasan sendiri saat melawannya.
Erlangga sebenarnya ingin melerai pertarungan diantara dua wanita yang menurutnya tidak berguna. Tapi tubuhnya masih terasa sakit. Ia berharap ada keajaiban yang membuat kekuatannya kembali seperti dulu lagi. Ia benci dirinya yang sekarang. Rasanya seperti hanya beban saja.
"Buka sarung pedangmu! Bertarung kah denganku dengan serius!"
__ADS_1
Sebenarnya Laksminingrum ingin sekali melakukannya. Ia ingin menunjukkan seberapa dahsyat pedang yang diberikan gurunya itu. Tapi akibatnya sangat berbahaya, ia tidak ingin membunuh seseorang yang tak bersalah dengan pedangnya itu.
"Tidak perlu. Tanpa membuka sarung pedangku aku bisa mengalahkan mu.