
Malam yang hening ditambah minimnya cahayabulan memudahkan pergerakan Chen Khu dan Mathanadeva yang bergerak dengan sangat cepat tapi juga sangat berhati - hati..sesekali keduanya terlihat berhenti untuk mengamati keadaan dan kemudia bergerak kembali dengan cepar menggunakan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki.. kedua tidak ingin kehadiran mereka diketahui sedangkan mereka sendiri belum mengetahui apa yang akan mereka hadapi.
Perlahan namun pasti kedua pendekar itu mulai mendekati pinggir perkampungan dan nampak beberap orang penjaga yang sedang berpatroli..Chen Khu menahan laju Mathanadeva dan kemudia kedua bersembunyi pada batang pohon besar yang ada didekatnya sambil menunggu kelima orang yang berpatroli itu melewati persembunyian mereka..dan beberapa saat setelah penjaga - penjaga itu lewat Chen Khu dan Mathanadeva kembali bergerak dan melompat ke atas atap.
Dari satu atap ke atap bangunan yang lain, Chen Khu dan Mathanadeva terus bergerak mencari bangunan yang mencurigakan dan sesekali mengintip dari sela atap yang terbuat dari ilalang dan saat sampai pada bagunan yang cukup besar dan terdiri dari beberapa puluh bangunan dengan bentuk serupa keduanya terkejut melihat apa yang ada di dalam bangunan tersebut.
Bangunan tersebut seperti barak pasukan yang mana setiap bangunannya terdapat puluhan ranjang bersusun dan semua ranjang - ranjang itu terisi penuh.. dan jika Chen Khu tidak salah menghitung, kurang lebih ada seribu lima ratus ranjang yang diisi oleh pemuda - pemuda dengan tubuh atletis seperti orang - orang yang terlatih.
Dibagian lain terdapat juga sebuah bangunan dengan ukuran yang hampir sama besar dengan barak pasukan yang sebelumnya dilewati oleh Chen Khu dan Mathanadeva, hanya saja di dalam ruangan tersebut tidak satu orang pun terlihat akan tetapi ruangan tersebut mendapatkan penjagaan lebih ketat dibandingkan bangunan - bangunan lainnya.
Chen Khu mencoba melihat kedalam melalui celah atap berbahan ilalang sementara Mathanadeva terus mengawasi sekitar mereka dan Chen Khu merasakan keheranan saat melihat isi ruangan tersebut.. ribuan kendi yang terbuat dari bahan keramik tersusun rapi pada rak - rak yang terbuat dari kayu yang disusun vertikal.. Chen Khu mencoba menebak - nebak apa isi kendi - kendi tersebut sebab dia bisa merasakan jika ada aura aneh yang ada disetiap kendi yang tersusun rapi itu akan tetapi Mathanadeva memberinya tanda jika ada beberapa orang sedang berjalan seperti tergesa - gesa menuju bangunan tersebut.
Chen Khu dan Mathanadeva mencoba mencari tua tiga orang yang datang selarut itu ke bangunan tersebut dan saat ketiganya sampai didepan pintu, sepuluh orang penjaga memberi hormat pada ketiganya.
__ADS_1
"Ketua Rajesh.. Ketua Vikhram.. Ketua Gulika !! " sambut penjaga - penjaga itu sambil memberi hormat.
"Buka pintunya..!" ucap Vikram memberi perintah, den beberapa orang dari penjaga itu kemudian membuka pintu yang menimbulkan suara berderit.. lalu ketiga orang itu memasuki ruangan tersebut dan berhenti pada salah satu rak yang tidak terlalu tinggi akan tetapi terlihat berbeda dibandingkan dengan rak - rak lainnya dan sepertinya rak itu merupakan sebuah rak khusus untuk menyimpan kendi-kendi dengan ukuran sedikit lebih besar dibandingkan kendi - kendi lainnya.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran tuam Tamil.. kita sudah mempunya cukup banyak pasukan baik manusia maupun siluman tapi kita terus bersembunyi di sini bagaikan tikus.. " ucap Rajesh sambil berjalan mendekati kendi - kendi pada rak khusus tersebut.
"Aku juga sebenarnya sudah bosan terus berada di lembah ini.. kalian masih sedikit bisa lebih baik dan masih bisa keluar masuk tempat ini untuk mengawasi siluman - siluman yang kita karahkan tapi saya sama sekali belum pernah meninggalkan tempat ini dan hanya meramu obat serta racun.. " ucap Gulika. Gulika adalah salah seorang ketua yang ada dalam sekte Aghori yang khusus ditugaskan oleh Tamil Nadu untuk meracik obat - obatan serta racun - racun untuk kelengkapan pasukan yang dipimpin oleh Rajesh.. dan Gulika sendiri adalah seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun dengan rambut panjang yang selalu terurai indah.. tapi dibalik keindahan rambutnya itu tersimpan ratusan jarum beracun yang bisa dilemparkannya dengan keahlian khusus yang dimilikinya. Tangan kanan Gulika juga melepuh sampai sikunya..dan itu terjadi akibat kecelakaan saat dirinya sedang meramu racun yang diberinya nama bubuk api.
Saat Gulika sedang mencampur bahan - bahan untuk membuat racun bubuk api, wadag yang digunakannya tiba - tiba terjatuh dan tumpahan bubuk api yang hampir jadi mengenai tangan kanannya hingga akhirnya melepuh dan tulangnya hampir terlihat.
"Lihatlah kendi - kendi ini.. aku sudah mengumpulkan ribuan siluman den ratusan siluman ribuan tahun dan tuan Tamil masih belum juga mau mengadakan perang terbuka dengan mereka.. " ucap Vikhram lalu mengambil sebuah kendi yang ada pada rak khusus dan memanggil beberapa orang penjaga untuk mengambil kendi - kendi lainnya yang tersimpan pada rak - rak yang berbeda.
"Apa rencanamu dengan siluman musang api itu..? tanya Gulika saat Vikhram berniat membawa kendi itu keluar.
__ADS_1
" Aku akan mengejutkan Mathanadeva.. aku akan memerintahkan siluman musang api ini menyerang istananya..!! " jawab Vikhram dengan senyum simpul.
"Apaa..!??" apa kamu sudah gila..? teriak Rajesh dan Gulika bersamaan.
"Justru rencana gila ini sudah lama aku rencanakan.. " jawab Vikhram sambil tersenyum.
"Maksudmu..?? jangankan siluman musang api.. siluman kera api saja dibuat tidak berdaya meskipun hanya menyerang kota disekitar ibukota.. apalagi jika musang api menyerang ibu kota..?? apalagi kekuatan musang api satu tingkat dibawah kera api..? " Rajesh masih tidak yakin dengan rencana yang akan dijalankan oleh Vikhram.
"Siluman musang api menyerang ibu kota hanya sebagai pengalih perhatian.. dan di saat bersamaan kamu bersama pasukanmu menyerang daerah - daerah lain untuk membuat kepanikan yang lebih besar, dan saat Mathanadeva sudah mengalahkan musang api.. segera tarik mundur seluruh pasukanmu.. " ucap Vikhram menjelaskan rencananya, membuat kedua rekannya manggut - manggut.
"Tapi apakah tuan Tamil akan menyetujui rencanamu..? Gulika tiba - tiba bertanya saat ketiga berjalan kembali meninggalkan ruang penyimpanan kendi tersebut.
"Kita akan merahasiakan hal ini darinya.. tuan Tamil masih berusaha menyempurnakan ilmunya jadi dia tidak akan terlalu sering keluar dari ruang pribadinya.. " jawab Vikhram penuh keyakinan.
__ADS_1
Setelah kepergian ketiga orang tersebut, Chen Khu dan Mathanadeva saling pandang dan keduanya kemudian bergerak cepat kembali ke lokasi persembunyian mereka.
"Kita harus menghentikan mereka sebelum mendekati ibukota, dan kita harus mencari tau kota mana yang akan dijadikan sasaran lainnya.. " ucap Mathanadeva saat keduanya hampir mencapai bukit yang dijadikan tempat persembunyian.