Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#149. Kuokaa


__ADS_3

Malam mulai beranjak saat Chen Khu sedang memanggang ayam hutan hasil tangkapannya di atas perapian yang dibuatnya. Bulan terlihat muram karena langit mendung, pertanda hujan akan turun.


Setelah mengisi perutnya.. Chen Khu kemudian mengumpulkan ranting - ranting kecil serta dedaunan kebar untuk membuat sebuah bivak, karena untuk mencari sebuah gua sebagai tempat berlindung sudah tidak memungkinkan. Setelah beberapa tahun.. inilah pertama kalinya Chen Khu kembali merasakan bermalam sendiri di sebuah hutan..


Chen Khu masih bisa mengingat dengan jelas, saat melarikam diri dari amukan sekte Kalajengking merah di desanya dan sebelum bertemu Lee Han.. saat itulah pertama kalinya dia bermalam sendiri di hutan, hanya saja kali ini situasinya sangat berbeda. Jika saat itu dia harus mencari dahan untuk menghindari binatang buas, kali ini dia hanya membuat bivak sederhana, sebab binatang buas akan menjadi makan malamnya jika berani mendekat.


Chen Khu terlihat merenunh di dalam bivak buatannya saat air hujan mulai turun, meskipun hanya gerimis, tapi suara air jatuh terdengar sangat jelas di kesunyian malam, sungguh sebuah pengalam aneh sebab tidak ada suara serangga malam terdengar di hutan itu.


Hutan yang disinggahi Chen Khu saat ini memang masih merupakan wilayah kerajaan Nishada.. hanya saja untuk sampai ke desa berikutnya, minimal dibutuhkan waktu satu setengah hari lagi dengan berjalan kaki.


Hutan yang disinggahinya ini, sudah masuk dalam kawasan pegunungan Himalaya hanya saja belum seperempat dari kawasan hutan dimana tempatnya berada saat ini. Hutan itu memang sangat luas..disatu sisi Chen Khu menyesali keputusannya yang lebih memilih untuk mengambil jalan pintas melalui udara, daripada harus mengikuti jalur sutra.. jalur yang selalu ramai oleh pedagang - pedagang yang bepergian dari dan ke benua daratan selatan.


Jika saja Chen Khu mengikuti jalur tersebut, paling tidak dia tidak akan kesepian malam ini, sebab menurut Mathanadeva, di jalur tersebut dia pasti akan menjumpai rombongan - rombongan pedagang yang selalu beriringan dalam jumlah besar. Mereka juga sering bermalam dihutan dengan kemah - kemah yang cukup besar dan dengan pengawalan ketat.


Malam seolah berlalu begitu lambat, setelah memulihkan sebagian tenaga dalamnya.. Chen Khu merbahkan tububnya diatas ranting - ranting pohon yang tersusun rapi dan dilapisi dengan dedaunan.


"Hmmm.. tidak seempuk kasur istana.. " gumam Chen Khu dalam hati, sambil melihat langit yang sangat gelap, dan bahkan satu bintangpun tidak nampak malam itu.. air hujan juga sudah mulai turun dengan derasnya..bahkan sampai mengalir melalui bivak yang dibuatnya, tp berkat ranting - ranting yang disusun rapi, air itu tidak membasahi pakaian Chen Khu.


Chen Khu berusaha memejamkan matanya dalam gelapnya malam serta gemericik air hujan.. tapi baru beberapa saat matanya terpejam, Chen Khu tiba - tiba terbangun saat tubuhnya merasakan sebuah aura besar, yang bahkan membuat bulu kuduknya merinding seperti sedang menuju ke arahnya.


Saat bertarung dengan Wong Fei aura yang dirasakannya tidak sebesar ini bahkan terasa berkali - kali lipat, dan untuk pertama kalinya sejak bertemu siluman serigala puluhan tahun lalu, Chen Khu merasakan takut dan panik.


Sayup - sayup dari kejauhan terdengar orang berbicara..suara terdengar parau dan sedikit bergetar layaknya suara orang yang sudah sangat tua.. tapi Chen Khu tidak menangkap aura lainnya yang menjadi lawan bicara orang tersebut.


"Taring perak.. kamu ada dimana..? " begitulah suara yang terdengar oleh Chen Khu yang diselingi sesekali umpatan dari suara tua itu.

__ADS_1


Perlahan suara itu semakin dekat yang diiringi dengan umpatan berkali - kali.. seolah orang yang berbicara itu menyalahkan hujan yang turun karena menyulitkan pandangannya. Saat suara dari org itu semakin dekat.. Chen Khu mulai merasakan tekanan yang luar biasa pada tubuhnya.. bahkan membuat nafasnya sesak, Chen Khu dengan terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk mengurangi tekanan tersebut namun tekanan yang didapatkannya hanya berkurang sedikit bahkan saat keringat bercucuran membasahi pakaiannya.


"Sial....!!apa ini..?! " gumam Chen Khu dalam hati.


Dalam kegelapan malam, Chen Khu samar - samar bisa melihat sesosok bayangan yang terus mendekat ke arahnya, semakin dekat, Chen Khu bisa memastikan jika seorang pria sedang berjalan ke arahnya sambil mengumpat tidak henti - hentinya.. satu yang paling diingat oleh Chen Khu adalah tentang taring perak.. sepertinya pria tersebut sedang mencari sebuah benda yang disebutnya taring perak.


"Ho.. ho.. ho.. ada anak manusia disini.. " gumam pria itu kemudian duduk pada batang pohon tumbang yang dijadiakan Chen Khu sebagai gelagar untuk menyangkutkan kayu yang menjadi rangka atap bivaknya.. batang pohon itu sampai berderit menanggung berat pria tersebut meskipun samar - samar Chen Khu bisa melihat jika pria itu bertubuh kurus kering.


"Ho.. ho.. hoo.. Apa yang kamu lakukan disini anak muda.. " ujar pria tua itu sambil menoleh ke arah bivak yang digunakan Chen Khu, satu hal yang membuat Chen Khu takjub adalah pakaian pria tua itu seperti tidak basah terkena guyuran air hujan.


"Aa.. aku... "Chen Khu berusaha menjawab, namun nafasnya yang sesak serta beratnya tekanan yang diterimanya membuatnya sulit untuk menjawab.


"Oh.. maaf.. maaf.. anak muda.. aku lupa.. aku menggunakannya untuk mencegah binang buas mendekatiku.. " ucap pria itu lalu menarik sebagian besar auranya dan menyisakan sedikit disekitar tubuhnya.


"Dia menggunakan perisai tenaga dalam untuk melindunginya dari air hujan " gumam Chen Khu dalam hati sambil menarik nafas dalam - dalam setelah tekanan yang dirasakannya menghilang.


"Hmm.. Sekedar lewat..??! di hutan Ankra..??! kamu berusah membohongiku ya..?? kamu juga pasti sedang mencari taring perak bukan..??! " ucap pria tua itu setengah menghardik dan kembali mengeluarkan auranya untuk menekan Chen Khu.


"Kakek.. kakek.. ini salah paham.. kita bisa bicarakan dulu.. " ujar Chen Khu dengan nafas yang sangat berat.


"Kakek..?? " oh Dewaaa.. ternyata aku sudah kelihatan sangat tua..." ucap pria itu tiba - tiba menangis sambil memandangi tubuhnya yang kurus kering...namun beberapa saat kemudian pria itu menghentikan tangisannya.


"Salah paham katamu..?! kamu pikir aku akan percaya begitu saja.. hah..?!! tidak sembarang orang berani memasuki hutan ini kecuali dia memiliki tujuan tertentu.. " hardik pria tua itu.


"Maaf kek..tapi bisakah kakek menarik aura ini dulu aku bisa mati tercekik...!!" ucap Chen Khu dengan suara terputus - putus..

__ADS_1


"Oh.. maaf.. maaf... " ucap pria tua itu dan kembali menarik auranya membuat Chen Khu kembali bernafas lega.


"Kakek.. masuklah dulu.. kita bicarakan baik - baik.. " ucap Chen Khu mempersilahkan kakek tua itu memasuki bivaknya.


"Kamu tidak berusaha menjebakku bukan..?! " ucap kakek tua itu sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Kakek bisa membunuhku dengan mudah jika aku melakukan hal itu.. " balas Chen Khu lalu memberi hormat.


"Iya.. iya.. iya.. benar juga..! " jawab kakek tua itu lalu memasuki bivak.


"Sebelumnya perkenalkan namaku Chen Khu.. "..Chen Khu kemudian menceritakan asal - usulnya secara singkat termasuk alasannya melewati hutan yang bernama hutan Ankra itu.


Kakek tua itu tampak manggut - manggut mendengarkan penuturan Chen Khu lalu menatap dalam - dalam pemuda dihadapannya itu.


"Maaf kek.. kenapa kakek melihatku seperti itu..? " Chen Khu merasa risih karena tatapan pria tua itu seolah ingin menyelami qalbunya.


"Ah.. tidak apa - apa.. aku hanya ingin tau.. apakah kamu punya arak..? " tanya pria tua itu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Arak..?? aku terlalu lama di benua selatan.. sampai lupa jika aku memiliki simpanan arak.. " jawab Chen Khu sambil tersenyum lalu mengeluarkan dua guci arak dari dalam kantonh ajaibnya..


Mata pria tua itu terbelak saat Chen Khu mengeluarkan dua guci besar dari dalam jubahnya..


"KUOKAA..??! " dari mana kamu mendapatkannya..? " ucap pria tua itu sambil menunjuk kantong ajaib yang tersembunyi dibalik jubah Chen Khu..


"Kuokaa..?! maksud kakek kantong ajaib ini..?? " Chen Khu mengeryitkan keningnya lalu mengeluarkan kantong ajaib yang telah bersamanya cukup lama..

__ADS_1


"Iya.. Kuokaa..!!ooh.. kamu sudah lusuh.. " ucap pria tua itu sambil mengelus - elus kantong ajaib milik Chen Khu tersebut.


"Kuokaa..??! " gumam Chen Khu dalam hati sambil menggaruk kepalanya.


__ADS_2