
Berita kematian Chen Khu akhirnya sampai juga pada Kaisar Shun Zhi.. bagi Shun Zhi.. Chen Khu masih merupakan sosok yang misterius baginya.. meskipun memiliki jasa yang sangat besar padanya dan bahkan pernah sekali menyelamatkan nyawanya dari incaran pendekar - pendekar aliran hitam.
Jadi.. meskipun Kaisar Shun Zhi yang merasa belum pernah bertemu dengan Chen Khu tapi Kaisar Shun Zhi merasakan duka yang sangat mendalam.. untuk itu.. setelah mendengar kabar tersebut.. Kaisar Shun Zhi langsung berangkat menuju kota Tainan untuk menyampaikan rasa dukanya pada sekte Kuda Terbang yang merupakan tempat Chen Khu bernaung.
Setelah menempuh tiga hari perjalanan, akhirnya Kaisar Shun Zhi sampai di kota Tainan dan disambut dengan meriah oleh seluruh pasukannya yang meneriakkan yel - yel sambil menyebut nama Shun Zhi..
Kaisar Shun Zhi langsung menemui ketua sekte Kuda Terbang bersama seluruh anggotanya dan menyampaikan rasa dukanya akan kematian Chen Khu.. beberapa pimpinan pasukan termasuk Jendral Chou dan Ken serta ketua - ketua sekte lain yang mengetahui andil Chen Khu yang berhasil membalikkan keadaan sehingga pasukan Kekaisaran Ming bisa memenangkan pertempuran tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan mereka.. mereka yang mengetahui secara pasti jika Chen Khu tidak datang tepat waktu, maka Kekaisaran Ming hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh.. menganggap Chen Khu sebagai pahlawan mereka.
Hari itu.. meskipun sebagian besar pasukan merayakan kemenangan mereka bersama Kaisar Shun Zhi.. tapi.. hari itu juga merupakan hari ketiga untuk berkabung bagi sebagian kecil lainnya yang merasakan kehilangan atas kematian Chen Khu.. bahkan Wing Chun.. orang yang merupakan orang terakhir diselamatkan oleh Chen Khu berancana akan membuat sebuah biara khusus di Kuilnya dan biara tersebut akan diberi nama Biara Chen Khu untuk mengenang pemuda yang pernah menyelamatkannya dan mengembalikan tongkat pusaka milik gurunya.. Wing Chun sendiri beserta seluruh anggotanya kembali ke sekte mereka setelah berpamitan dengan Kaisar Shun Zhi yang masih akan tinggal beberapa hari lagi di kota Tainan.
Sebagai balas jasa Chen Khu yang besar pada Kekaisaran Ming.. maka Kaisar Shun Zhi akan membangun patung Chen Khu di pusat kota Tainan agar orang - orang dapat terus mengenangnya.
***
"Anak muda rupanya kamu sudah sadar.. " ujar seorang pria sepuh dengan janggut panjang memutih dan sorban yang melilit kepalanya..
Chen Khu yang mendengar ucapan pria sepuh itu masih sesekali membuka matanya karena terasa silau sedangkan Chen Khu tidak menjawab pria sepuh tadi karena Chen Khu tidak mengetahui bahasa yang digunakan oleh pria sepuh yang sedang duduk bersila disampingnya berbaring.
"Sampaikan pada yang mulia Mathanadeva jika puda ini sudah siuman " perintah pria sepuh tafi pada salag seorang pengawal yang berada di ruangan itu.
Pengawal tersebut langsung berjalan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh pria sepuh tersebut dan menuju ke satu arah yang sayup - sayup terdengar ada suara pedang beradu yg meskipun kondisi badannya masih lemah, tapi suara itu terdengar oleh Chen Khu.
"Ohh.. anda sudah siuman rupanya anak muda.. " terdengar suara dengan bahasa yang dimengerti oleh Chen Khu dan pemilik suara tersebut berusia sekitar empat puluh tahun itu masuk kedalam ruangan dengan cepat dan diikuti oleh pengawal yang tadi diperintahkan oleh pria sepuh tadi.
Chen Khu berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki posisinya agar bisa melihat pemilik suara tersebut tapi pria sepuh yang ada disampingnya berusaha mencegahnya dan memintanya untuk tetap berbaring dengan menggunakan bahasa isyarat.
__ADS_1
"Kondisimu masih sangat lemah anak muda.. perkenalkan aku Mathanadeva.. "
"Maaf tuan Mathanadeva.. saya ada dimana sekarang..? "tanya Chen Khu
"Saat ini kamu berada di Gurjara.. tapi sebaiknya setelah kondisimu membaik baru kita berbicara lebih banyak.. saat ini sebaiknya istirahatlah dulu dan Dhanwantari yang akan menemanimu " jawab Mathanadeva pada Chen Khu sambil menoleh pada pria sepuh yang sejak tadi menemani Chen Khu seolah memberitahu pada Chen Khu jika pria sepuh tersebut bernama Dhanwantari.
Chen Khu mengangguk pelan, dan Matahanadeva langsung meninggalkan ruangan itu karena seorang gadus cantik berusia sekitar delapan belas tahun yang masih memegang pedang ditangan kanan sudah menyusulnya..
"Ayahanda.. apakan latihannya sudah selesai..? " tanya gadis itu.
"Untuk hari ini kita cukupkan dulu Aahana.. aku akan menunggu kondisi pemuda itu sedikit membaik" jawab Mathanadeva yang ternyata adalah ayah dari gadis tersebut.
"Ayahanda.. apakan benar.. jika pemuda itu berasal dari tempat yang ayahanda pernah ceritakan..? "
"kalau begitu kita harus menunggu..semoga secepatnya dia bisa pulih lebih cepat" ujar Aahana
"saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan.. sebaiknya lanjutkan sendiri latihanmu.. "jawab Mathanadewa.
"Baik ayahanda..!! " jawab Aahana singkat dan pergi meninggalkan ayahya yang duduk bersila dan bermeditasi sambil menunggu kondisi Chen Khu lebih baik.
Chen Khu yang sudah menemukan kesadarannya kembali mulai memulihkan tenaganya sambil berbaring.. meskipun energi chi yang ada dalam tubuhnya hampir habis saat melindunginya dalam lubang hitam yang menyedotnya..tapi sisa chi yang dimilikinya masih cukup untuk kembali memulihkan kondisinya..
Dhanwantari yang tetap setia menemani Chen Khu juga tidak bisa melakukan hal lain lagi selain menunggu Chen Khu pulih dengan sendirinya sambil terus memantau denyut jantung Chen Khu pada pergelangan tangannya.
Raut wajah Dhanwantari perlahan - lahan berubah.. senyumnya juga mulai tersungging karena dia mulai merasakan jika denyut nadi Chen Khu perlahan - lahan terus membaik dan Dhanwantari juga bisa merasakan jika tubuh Chen Khu juga menjadi lebih hangat karena Chen Khu sudah bisa membangkitkan kembali tenaga dalamnya.
__ADS_1
Chen Khu yang memejamkan matanya tidak ingin berbaring lebih lama karena dia ingin mengetahui kemana lubang hitam melemparkannya.
Kurang lebih dua jam.. Chen Khu kembali membuka matanya.. sambil terbatuk pelan.. dia berusaha untuk duduk.
"Maaf tuan.. kalau boleh tau.. sekarang saya ada dimana..? " tanya Chen Khu pada Dhanwantari yang sedang tersenyum melihatnya sudah bisa bangun lalu kemudian duduk.
Pertanyaan dari Chen Khu tentu saja tidak dijawab oleh Dhanwantari sebab pria sepuh itu tidak mengetahui bahasa yang digunakan oleh Chen Khu dan satu - satunya cara adalah memerintahkan salah seorang pengawal untuk memberitahu Mathanadewa kembali yang sedang duduk bersila di bawah pohon yang sangat rindang.
"Rupanya kamu bisa pulih lebih cepat dari perkiraanku anak muda " ujar Mathanadewa pada Chen Khu.
"Maaf tuan.. saat ini saya berada dimana..? " tanya Chen Khu kembali meskipun sebelumnya dia sudah melontarkan pertanyaan yang sama.
"Oh.. iya.. perkenalkan.. saya adalah Mathanadewa.. Raja dari kerajaan Gurjara yang berada yang ada di benua daratan selatan.." jawab Mathanadewa.
"dan kalau kamu sendiri..? " tanya Mathanadewa kembali pada Chen Khu.
"Aku Chen Khu dari benua daratan tengah, lebih tepatnya aku berasal dari kekaisaran Ming.. "jawab Chen Khu
"tapi bagaimana tuan bisa berbicara dengan bahasa kami..? " tanya Chen Khu kembali.
Mata Mathanadewa terbelak keget mendengar daerah asal Chen Khu.. ternyata apa yang dipikirkannya sebelumnya benar adanya.
"Saat usiaku baru lima belas tahun.. ayahku Yadu yang menjadi raja Gurjara sebelumnya memerintahkan aku untuk berkelana ke arah timur untuk berguru pada seorang bijak dan berilmu tinggi agar kelak aku dapat menggantikannya dan setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan akhirnya aku sampai di Gunung Hang Chu..dan aku menghabisakan waktu sepuluh tahun di kuil itu sebelum ayahku mengirim utusan untuk memanggilku kembali..itulah sebabnya aku bisa berbicara dengan bahasa yang kalian gunakan.." Mathanadewa menuturkan dengan panjang lebar.
Chen Khu terdiam saat mendengar penjelasan dari Mathanadewa.. meskipun terkejut.. setidaknya dia memiliki harapan untuk kembali ke benua daratan tengah.. karena Raja Mathanadewa pernah melakukannya.
__ADS_1