Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#124. Pertempuran. II


__ADS_3

Cahaya matahari perlahan mulai menghangatkan seisi alam, tapi suhu udara di pemukiman sekte Aghori sudah lebih dulu panas.


Anggota sekte Aghori berkemampuan rendah atau anggota biasa yang terdiri dari ibu - ibu dan anak - anak melarikan diri ke hutan, tapi pemuda - pemuda yang menjadi prajurit sekte itu terus bertarung sampai mati.


Gulika.. yang menjadi dewi racun dalam sekte Aghori memiliki kemampuan bela diri yang tidak terlalu tinggi hanya saja, teknik bertarungnya yang membiarkan dirinya terkepung sebelum melepaskan bubuk - bukun racun telah merenggut nyawa puluhan orang prajurit Gurjara. Racun yang dimiliki oleh Gulika sangat mematikan karena dapat membunuh musuhnya hanya dalam hitungan detik, hal ini membuat prajurit Gurjara yang melihat strategi Gulika dalam membunuh mulai menjaga jarak.


Sesekali salah satu atau beberapa dari mereka maju untuk menyerang sedangkan lainnya memperhatikan gerakan tangan Gulika dan saat Gulika mengeluarkan racun, prajurit yang mengawasi tadi langsung memberikan aba - aba untuk mundur sambil menahan nafas agar bubuk racun tidak terhirup dan kembali menjaga Gulika dalam posisi terkepung dan bersiap kembali menyerang saat bubuk racun Gulika yang berhamburan di udara tidak lagi terlihat..strategi seperti ini membuat persediaan racun yang dibawa oleh Gulika semakin menipis dan prajurit Gurjara hanya tinggal menunggu waktu untuk menghabisinya.. tapi tiba - tiba..


" PEDANG PERUSAK HATI TINGKAT TIGA... PISAU ANGIN..!! "


sebuah serangan jarak jauh yang tidak diduga oleh Gulika mengenai tubuhnya dengan telak. Aahana yang melihat prajurit Gurjara kesulitan untuk mendekati pengguna racun itu mengambil inisiatif untuk melakukan jarak jauh..dengan menggunakan jurus pisau angin.. Aahana mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lalu mengayunkannya secara menyilang menghasilkan energi pedang yang menyerupai pisau dan melesat dengan cepat ke arah Gulika.


Gulika terlempar beberapa meter ke arah depan dan baru berhenti saat tubuhnya membentur sebuah bangunan.. darah segar mengalir dari mulutnya dan pisau angin yang mengenai punggungnya menghasilkan luka sayatan membentuk pola seperti huruf X.


"Cuiih...!! pengecut... beraninya menyerang dari belakang.. " umpat Gulika sambil membuang darah dari mulutnya.


Aahana tidak menghiraukan ucapan Gulika dan kembali memasang kuda - kuda bersiap untuk menyerang kembali dan sesaat kemudian dengan cepat dia maju menyongsong Gulika yang masuh berlutut pada sebelah kakinya..


Menyadari adanya serangan.. Gulika yang belum mampu berdiri langsung berguling ke arah kanan sambil melemparkan tiga buah bulatan kecil berbentuk bola.


Aahana yang mengenali bola - bola itu seperti yang digunakan oleh Rajesh segera merubah arah pergerakannya dengan menancapkan pedangnya ke tanah untuk menghentikan lajunya.. dan dengan memanfaatkan kelenturan pedang miliknya. dia melemparkan tubuhnya ke udara.


"Jauhi bola - bola itu....!!! " teriak Aahana pada prajurit Gurjara sesaat sebelum mendaratkan kakinya pada dahan pohon, sedangkan prajurit Gurjara yang mendengar teriakan Aahana juga langsung melompat menjauh tiga buah bola yang dilemparkan oleh Gulika.. dan saat ketiga bola itu menyentuh tanah.. bola - bola itu menghasilkan ledakan yang disusul asap putih beracun.


Mayat - mayat yang berada dekat dengan titik ledakan meleleh setelah terkena asap tersebut, sedangkan prajurit Gurjara yang sudah lebih dulu menjauh hanya bisa menelan ludah dan melihat dengan penuh kengerian melihat efek yang ditimbulkan oleh asap beracun milik Gulika.

__ADS_1


"Siall..!! bagaimana dia bisa tau jika itu adalah sebuah senjata rahasia..?? apa jangan - jangan.. Rajesh...!! " gumam Gulika dalam hati lalu bangkit dan kembali merogoh kedalam jubahnya dan mengambil lebih banyak bola beracun.


Masing - masing tangan Gulika kini memegang tiga buah bola beracun dan tidak ada satupun prajurit Gurjara yang berani mendekatinya, sedangkan Aahana yang sedang berdiri pada dahan pohon memutar otak mencari cara untuk melakukan serangan jarak jauh, sebab pedang pusaka miliknya masih tertancap di tanah.


***


Chen Khu yang sedang mengamati situasi tiba - tiba terkejut saat salah seorang komandan prajurit Gurjara melompat di depannya dan langsung menyerang Tamil Nadu.


Salah seorang komandan prajurit itu memang berkemampuan setara pendekar level lima tahap akhir.. usianya juga masih sangat muda saat mencapai jabatan kapten dan menjadi komandan prajurit dibandingkan dengan komandan - komandan lainnya.


Pria muda berbakat itu menyerang Tamil Nadu dengan cepat dengan pedangnya, tapi serangan pedangnya dengan mudah dapat dipatahkan oleh Tamil Nadu hanya dengan menggunakan selembar kain mirip seperti selendang yang salah satu ujungnya melingkar di peninggangnya sedangkan ujung lainnya ada di lengannya.


Chen Khu yang terkejut akan hal itu mencoba mengamati dengan jelas setiap gerakan yang dilakukan oleh Tamil Nadu dan setelah dipaksa bertahan akibat serangan yang datang secara tiba - tiba.. Tamil Nadu mulai bisa menguasai keadaan.


Tubuh komandan itu terlempar cukup jauh kebelakang.. Chen Khu yang semula mengamati langsung menyongsong dan menangkap tubuh komandan itu agar tidak terhempas ke tanah.


Bekas pukulan berbentuk telapak tangan terlihat jelas di dadanya, dan asap hitam serta bau daging yang hangus juga keluar dari luka yang baru saja didapatkan oleh komandan itu.


Chen Khu segera menotok beberapa bagian tubuh komandan itu serta beberapa bagian sekitar luka berupaya menghentikan aliran racun yang mengalir kedalam darahnya.


"Hmm.. Tenaga dalam racun..!! " gumam Chen Khu dalam hati lalu membaringkan komandan yang sudah tidak sadarkan diri itu.


"Bawa dia menjauh dari sini..!! " perintah Chen Khu pada beberapa orang prajurit didekatnya dan dengan sigap, empat orang prajurit langsung membawa tubuh komandan muda itu menjauh dari arena pertarungan.


Chen Khu yang merasa kebingungan menghadapi pendekar yang memiliki tenaga dalam beracun memutar otak mencari cara untuk bisa menyerang Tamil Nadu namun tiba - tiba sebuah bisikan terdengar dalam pikirannya.

__ADS_1


"Memang betul - betul bodoh..!! asal tidak terkena serangannya kamu pasti baik - baik saja.. " bisik suara itu dan mengagetkan Chen Khu.


"Kedengarannya mudah.. tapi apakah kamu tidak melihat jika gerakannya sangat cepat.. " gumam Chen Khu dalam hati mencoba berkomunikasi melalui pikirannya.


"Aah.. siall..!! kenapa pemilikku sebelumnya memilih anak bodoh sepertimu untuk menggunakanku..?? " umpat suara itu kembali dalam pikiran Chen Khu.


"Jangan hanya memakiku..!! sebaiknya bantu aku menemukan cara untuk melawannya atau...??"


"Atau apa..? " bentak suara itu..


"Atau kamu akan kusimpan sebagai besi tua karatan.. " jawab Chen Khu lalu kemudia melesat kedepan menyerang Tamil Nadu yang memang bersikap pasif dan tidak berinisiatif untuk menyerang lebih dulu dan hanya menanti serangan yang datang.


Gerakan - gerakan Chen Khu yang cepat saat mengayunkan pedangnya selalu dapat dipatahkan oleh Tamil Nadu.. hanya saja Tamil Nadu kesulitan untuk mendekati Chen Khu yang terus menjaga jarak dengan memanfaatkan jangkauan pedangnya.. saat Chen Khu membuat jarak beberapa meter, Tamil Nadu memutar tubuhnya dan mengarahkan kedua telapak tangannya pada Chen Khu dan menghasilkan sebuah gelombang udara yang sangat besar dan mampu menghempaskan Chen Khu cukup jauh meskipun Chen Khu berusaha menangkis gelombang udara tersebut dengan pedangnya.


"Apa untuk buang air besar kamu juga memerlukan tenaga dalam..?? " terdengar kembali bisikan dikepala Chen Khu sambil terkekeh.


"Maksudnya..?? "


-------------###***###---------


Terimakasih buat yang masih setia membaca Pendekar Pedang Naga Langit..saya sebagai penulis memohon maaf yang sebesar - besarnya karena sudah lama tidak update dikarenakan satu dan lain hal.


Next.... Bonus Chapter ini untuk kalian yang tetap setia dengan novel ini, dan setelah ini.. Pendekar Pedang Naga Langit akan kembali rilis setiap hari.


Mohon dukungannya yaa.. 🙏

__ADS_1


__ADS_2