Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#120. Menghadapi Perang Yang Lebih Besar


__ADS_3

Bau amis darah serta dentingan suara pedang dan tombak beradu menjadi penghias perbatasan kota Nalagarh dengan hutan hari itu.. teriakan kesakitan serta teriakan - teriakan penyemangat juga terus terdengar.


Satu - persatu anggota pasukan sekte Aghori menemui ajal akibat pertempuran yang tidak seimbang sedangkan Mathanadeva yang berkolaborasi dengan Aahana perlahan mulai mendesak lawan - lawannya.


Perhatian yang terpecah serta bala bantuan yang datang membuat moral bertarung pasukan sekte Aghori menurun, sehingga perlahan - lahan dengan mudah mereka terus didesak akan tetapi satu hal yang membuat Mathanadeva mengeriyitkan dahi adalah.. anggota pasukan itu lebih memilih mati daripada menyerah.. hal itu terlihat pada beberapa anggota pasukan sekte Aghori yang sudah terluka parah..bukannya meletakkan pedang.. mereka malah menarik pisau yang tersimpan dalam lengan pakaian yang mereka kenakan dan langsung menusukkannya pada ulu hati untuk mengakhiri hidup mereka.


Wajah Rajesh yang semula sumringah melihat kemenangan sudah di depan mata, kini terlihat pucat.. jangankan mempertahankan keunggulan yang sempat mereka peroleh, untuk mempertahankan nyawanya saja yang sekarang sudah berhadapan langsung dengan Mathanadeva boleh dikatakan sangat mustahil.. sebab semua pasukan yang dibawanya sudah menjadi mayat.. yang terlintas saat ini dipikirannya hanyalah bagaimana membawa Mathanadeva ke alam baka bersamanya.


Kemampuan Rajesh memang hanya setingkat di bawah Mathanadeva hanya saja tekanan mental saat melihat pasukannya dibantai serta Chen Khu dan Aahana yang bisa menyerangnya kapan saja membuatnya kehilangan fokus hingga akhirnya Mathanadeva dengan mudah memberikan luka - luka sayatan yang cukup dalam pada tubuhnya.. hingga akhirnya Rajesh tak mampu lagi berdiri dan hanya berlutut menggunakan kedua lututnya.. tangannya pun sudah tidak sanggup lagi untuk mengangkat pedang tapi dengan sebuah gerakan lengan, sebuah bola berukuran kecil terkepal di tangan kirinya.


"Apalagi yang kamu tunggu Mathanadeva..?? cepat habisi aku..!! " teriak Rajesh sambil tertawa meskipun tawanya terhenti saat dia terbatuk dan memuntahkan darah.


Mathanadeva yang semula akan menghabisi Rajesh menghentikan langkahnya saat merasakan ada sesuatu yang tersembunyi dari kalimat yang baru saja diucapkan olehnya.


"Kenapa Mathanadeva..?? kamu takut..?? apa kamu merasakan hal yang sama saat membantai para orang tua kami..??! ayo Mathanadeva... tunggu apa lagi..?? " Rajesh terus mengeluarkan kata - kata untuk memancing Mathanadeva mendekat padanya, dengan demikian dia bisa melaksanakan rencana terakhirnya.


Mathanadeva sedang mengamati situasi sebelum memutuskan untuk melangkah mendekati Rajesh yang terpisah dengan jarak sekitar sepuluh meter dengannya dan baru saja dia hendak melangkah Aahana yang sebelumnya sudah berang karena mendapai ayahandanya telah mengalami banyak luka.. sudah melesat dan mengarahkan pedangnya pada Rajesh yang sedang berlutut.


"Setidaknya ada yang ikut bersamaku.." guman Rajesh dalam hati sambil tersenyum, dan saat jarak antara dirinya dan pedang Aahana tinggal beberapa jengkal saja dia mengayunkan lengan kirinya membanting bola yang ada dalam genggamannya.


Chen Khu yang mengawasi dari jarak sekitar dua puluh meter merasa ada yang sedang dirancanakan oleh Rajesh dan saat Rajesh menggerakkan lengannya Chen Khu melesat dengan mengerahkan seluruh kemampuannya dan menyambar tubuh Aahana yang hampir mencapai tubuh Rajesh dengan pedangnya.

__ADS_1


Pengalam buruk yang dialami saat berhadapan dengan Wong Fei sedikit memberinya pelajaran untuk tetap tidak lengah meskipun dihadapan musuh yang sudah tidak berdaya tapi belum mau menyerah.


Sergapan Chen Khu tepat waktu dan Aahana tidak terkena asap dari ledakan yang ditimbulkan dari bola kecil yang ada di genggaman Rajesh.. tubuh keduanya berguling di tanah dalam posisi Chen Khu memeluk Aahana dan saat tubuh keduanya berhenti berguling...pandangan keduanya tertuju pada tubuh Rajesh yang seketika membiru lalu kemudian meleleh seteleh terkena asap yang timbul akibat ledakan kecil yang dibuatnya sendiri.


Keduanya masih terpana melihat kejadian yang baru saja hampir membuat tubuh Aahana meleleh, dan mereka baru tersadar saat Mathanadeva berjalan mendekat.


"Ehm.. ehm.. sepertinya pertarungan sudah selesai..! " ucap Mathanadeva yang mengagetkan keduanya dan rupanya keduanya masih dalam posisi berpelukan.


Tentu saja hal tersebut membuat wajah keduanya memerah dan spontan keduanya langsung berdiri sambil membersihkan debu yang menempel pada pakaian mereka akibat salah tingkah.. karena sebelumnya pakaian mereka telah penuh berlumuran darah lawan - lawan mereka masing - masing.


"Maaf yang mulia.. saya hanya... " ucap Chen Khu berusaha memberi penjelasan pada Mathanadeva dan belum sempat dia menyelesaikan ucapannya Mathanadeva sudah mengangkat tangannya meminta Chen Khu untuk berhenti berbicara.


"Aku mengerti..!! terimakasih Chen Khu telah menyelamatkan satu - satunya permata yang kumiliki.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika sampai terkena ledakan tadi.. " ujar Mathanadeva merangkul putrinya sambil mengelus rambut putri satu - satunya yang masih tertunduk malu sebab baru kali ini ada pria yang berhasil menyentuh tubuhnya,yang jika dalam situasi normal.. kepala Chen Khu tentu saja menjadi taruhannya jika berani menyentuh Aahana.


Mayat - mayat yang berseragan prajurit Nalagarh dipisahkan dengan mayat yang berseragam sekte Aghori dan tiba - tiba terdengar teriakan salah satu prajurit..


"Tuan Shiva.. yang ini masih hidup..!! " teriak prajurit itu. Chen Khu dan Shiva saling berpandangan lalu bersama - sama dengan setengah berlari menuju ke arah prajurit itu.


"Tuan Kumar..!! " teriak Shuva lalu segera berlutut dan memeriksa nadi pada pergelangan tangan kumar.. Shiva bisa merasakan denyut nadi Kumar yang sudah sangat lemah.. dia kemudian memeriksa nafas Kumar yang juga sudah semakin pelan.


"Dudukkan dia..! " perintah Chen Khu tiba - tiba.

__ADS_1


Shiva dan prajuritnya segera mengerjakan perintah Chen Khu dan setelah Kumar terduduk Chen Khu segera duduk dibelakangnya dan menempelkan kedua telapak tangan pada punggungnya.


Chen Khu mengerahkan tenaga dalam ke tubuh Kumar untuk menghentikan pendarahan serta sesekali melakukan totokan pada beberapa bagian tubuh Kumar.. dan setelah beberapa saat Kumar kemudian memuntahkan darah kental. Hanya saja tubuhnya yang terlalu lemas membuatnya tetap tidak bisa sadarkan diri.


Chen Khu kemudian memasukkan buah cery yang berwarna keemasan kedalam mulut Kumar dengan mendorong sedikit buah tersebut agar dapat tertelan.. lalu memerintahkan beberapa orang prajurit untuk membawa Kumar kembali ke kediamannya untuk memulihkan kondisinya.


"Bagaimana keadaannya Chen Khu..? " tanya Shiva setelah Kumar dibawa pergi oleh beberapa orang prajurit.


"Semoga saja masih bisa tertolong.. dan jika tubuhnya bisa menyerap manfaat dari buah yang kuberikan.. mungkin dua atau tiga hari dia akan siuman jawab Chen Khu.


Mathanadeva yang didampingi Aahana mendekati Chen Khu dan Shiva. Keduanya mengawasi prajurit - prajurit Gurjara yang mulai mengali lubang besar untuk memakamkan korban jiwa pada hari itu.


Pertempuran hari itu telah selesai dan meninggalkan banyak korban jiwa.. hanya saja tidak ada korban jiwa dari rakyat yang tidak berdosa. Genangan darah yang ada di segala tempat ditimbun dengan tanah dan mayat - mayat sudah hampir dikuburkan semua saat hari mulai senja.


"Sebaiknya kita kembali ke kediaman walikota..! " ujar tiba - tiba Mathanadeva lalu berdiri.


"Shiva.. setelah semua selesai.. kumpulkan semua prajurit di kediaman walikota.. kita akan menghadapi perang yang lebih besar setelah ini.. " ujar Mathanadeva melanjutkan.


"Tapi luka - luka anda yang mulia..? " tanya Shiva yang melihat cukup banyak luka pada tubuh Mathanadeva.


" Aku akan memulihkan diriku untuk beberapa hari.. dan setelah itu kita akan berperang lagi.. "

__ADS_1


"Perang lagi..? " ucap Shiva sambil menoleh pada Chen Khu dan Chen Khu membenarkan dengan anggukan kepala.


__ADS_2