
Pagi hari.. suasana pelataran istana kekaisaran Ming terlihat sangat sibuk.. ribuan orang prajurit berkuda bersiap untuk mengawal kaisar Shun Zhi untuk meminang putri kaisar Han.
Sebuah kereta Kuda dengan ukiran naga berwarna emas pada kedua sisinya terlihat mewah juga sudah disiapkan sebagai tumpangan sang kaisar dan diiringi oleh beberapa kereta kuda lainnya.
Setelah memeriksa kesiapan pasukan, Jendral Chou terlihat masuk ke ruang pertemuan untuk melaporkan pada kaisar Shun Zhi. Jendral Chou memastikan sendiri kesiapan pasukannya karena dia tidak ingin ada hal kecil atau satu hal yang terlewat...
Tak lama berselang tampak kaisar Shun Zhi menuruni tangga dan didampingi oleh Jendral Chou serta beberapa pengawal pribadi kaisar dan lima orang utusan dari kekaisaran Han sendiri melangkah menuju kereta kuda yang mewah tersebut, sedangkan empat orang pengawal pribadinya naik ke atas kereta sedangkan yang lainnya memasuki kereta kuda yang lain bersama para anggota keluarga kekaisaran yang sudah lebih menunggu, sedangkan jendral Chou seperti biasanya menunggangi kuda hitam gagah yang ada disebelah kereta kuda yang ditumpangi oleh kaisar Shun Zhi.
Terompet tanda keberangkatan berbunyi.. dan Ryu yang merupakan salah seorang pengawal pribadi kaisar yang kali ini bertugas untuk memimpin iring - iringan memberi tanda pada seluruh rombongan untuk bergerak meninggalkan istana.
Rombongan besar kaisar Shun Zhi berjalan pelan di jalan kota karena banyaknya penduduk yang begitu antusias melihat kaisar mereka yang akan segera naik ke pelaminan.. banyak diantara mereka yang bersorak - sarai meneriakkan nama Shun Zhi saat sang kaisar melihat keluar jendela dan melambaikan tangannya...namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan keputusan Shun Zhi yang tetap memaksakan untuk melangsungkan pernikahan ditengah kacau balaunya kondisi keamanan kekaisaran saat ini.. namun suara - suara sumbang itu seolah tenggelam dalam sorak - sorai yang mendukung langkah kaisar Shun Zhi tersebut.
Rombongan mulai berjalan cepat saat meninggalkan gerbang kota, kuda - kuda mulai dipacu dan meninggalkan debu - debu yang beterbangan di belakangnya.. namun hal itu tidak menyurutkan niat penduduk yang ingin melihat kaisar yang sudah mendapatkan tempat khusus di hati mereka sejak keberhasilannya menggagalkan invasi kekaisaran Qing dengan segala keterbatasan yang dimiliki.
***
Ditempat terpisah.. lokasi - lokasi yang diperkirakan oleh jendral Chou akan menjadi lokasi rawan yang akan digunakan oleh aliran hitam untuk menghambat perjalanan mereka sedang terjadi pertarungan yang ditidak seimbang.
Lima ratus orang prajurit yang ditempatkan pada titik rawan ketiga itu tidak mampu bertahan lebih dari sepuluh menit menghadapi serangan ribuan orang pendekar dari aliansi aliran hitam.
__ADS_1
Seluruh prajurit itu dibunuh tanpa sisa dan pakaian mereka dilucuti lalu kemudian digunakan oleh pendekar - pendekar aliran hitam untuk mengelabui iring - iringan kaisar Shun Zhi yang diperkirakan akan melewati jalur tersebut pada keesokan harinya.
Para pendekar aliran hitam itu juga bergerak cepat membereskan mayat - mayat prajurit kekisaran Ming dan menempatkan pemanah - pemanahnya dibalik bukit.. Zhao Li mempersiapkan serangan kejutan dari pasukan pemanah sebelum kelompok penyerang pertama yang dipimpin oleh Yang Sun akan membuka pertempuran terbuka.
Perubahan rencana yang dilakukan oleh Zhao Li bertujuan untuk meminimalisir jumlah korban dari pihak mereka jika langsung melakukan konfrontasi terbuka mengingat.. dari laporan terakhir mata - mata yang mereka terima.. ada lima orang utusan dari kekaisaran Han yang akan ikut mengawal kaisar Shun Zhi.
Meskipun nama kelima orang tersebut belum diketahui.. namum.. kehebatan prajurit - prajurit elit kekaisaran Han yang dipimpin oleh Kaisar Xiao Yan sangat disegani baik oleh prajurit ataupun pendekar yang ada di benua daratan tengah.. untuk itu.. Zhao Li dan para tetua aliansi aliran hitam berusaha untuk mengurangi jumlah prajurit kekaisaran Ming sebanyak - banyaknya dengan menggunakan pemanah yang ditempatkan pada dua sisi bukit.
***
Chen Khu yang baru saja menyelesaikan sarapannya memutuskan akan melanjutkan perjalanan setelah memastika kembali arah yang akan diambilnya sesuai petunjuk Maruka.
"Jika melihat arah matahari terbit.. seharusnya aku mengambil arah sedikit ke timur jika ingin sampai ke daratan tengah.. bukan malah ke arah barat seperti kemarin.. aahh.. dasar kakek tua sinting..!! " umpat Chen Khu dalam hati.
Dengan menyimpan kekesalan dalam hati.. Chen Khu akhirnya memutuskan untuk ke arah timur seperti perkiraannya.. dan untuk membayar sehari keterlambatannya Chen Khu harus meningkatkan kecepatannya..agar bisa sampai ke tujuannya lebih cepat.
Chen Khu yang sekarang sudah memiliki Qi dalam tubuhnya..memang bisa menambah kecepatannya empat sampai lima kali dari kecepatannya sebelumnya dan hal ini membuatnya ingin mencoba kecepatannya sampai batas maksimal hanya untuk merasakan sensasi baru dari Qi.
Hampir satu hari terbang.. Chen Khu mulai bernas lega.. karena gunung himalanya seperti petunjuk Mathanadeva sudah mulai tampak disisi kirinya dan karena hari sudah mulai senja.. Chen Khu kembali memutuskan untuk beristirahat di dalam hutan sambil memulihkan kembali tenaganya yang banyak terkuras karena menggunakan seluruh kemampuannya.
__ADS_1
***
Sore hari menjelang malam.. iring - iringan Kaisar Shun Zhi telah sampai di lokasi rawan pertama yang dijaga oleh prajurit kekaisaran Ming.. meskipun masih bisa sampai pada lokasi kedua yang hanya terpaut empat jam perjalanan dengan berkuda.. namun Ryu sebagai pimpinan rombongan tidak ingin mengambil resiko memaksakan rombongannya berjalan dimalam hari..
Selain kondisi prajurit yang sudah keletihan setelah perjalanan sehari penuh tanpa istirahat.. serangan dari pihak lain bisa saja terjadi dalam gelapnya malam.
Kedatangan iring - iringan kaisar disambut meriah oleh prajurit - prajurit yang berjaga.. sedangkan Ryu langsung memerintahkan prajuritnya untuk membuat kemah sementara karena mereka harus melanjutkan perjalan lebih dini esok pagi jika ingin sampai pada lokasi ketiga tepat waktu.. sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kekaisaran Han.
Malam mulai merambat naik.. tapi Jendral Chou tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya.. rasa lelah dan letih setelah seharian berkuda tidak mampu membuat matanya terpejam walau sebentar saja...
Jendral Chou masih berkeliling memastikan kondisi pasukannya untuk memastikan keselamatan mereka selama perjalanan. Perjalan yang seharusnya mudah itu, kali ini berbeda.. jika saja dulu aliansi aliran putih bisa melumpuhkan aliran hitam.. tentu saja kondisinya kali ini akan berbeda.
"Istirahatlah Jendral.. kita masih dalam wilayah sendiri...!! " Ryu menyapa Jendral Chou yang tidak bisa menyembunyikan kelelahan dari raut wajahnya.
"Ini adalah pertaruhan karirku Ryu.. aku tidak pernah setakut ini sebelumnya.. bahkan saat menghadapi pasukan kekaisaran Qing.. " balas Jendral Chou menghentikan langkahnya.
"Kita sudah lama berperang bersama Jendral.. dan jika ini akan menjadi akhir karir kita.. maka kita akan melakukannya dengan sebaik - baiknya.. hanya saja.. aku juga tidak pernah melupakan nasehat anda.. jika dalam pertempuran.. kondisi fisik juga ikut berperan untuk memenangkan pertempuran.. " ujar Ryu berusaha menenangkan Jendral Chou.
"Hahaha.. jangan mengejekku seperti itu.. aku memang sudah tua.. tapi aku masih belum pikun..! " balas jendral Chou sambil menepuk pundak Ryu yang merupakan salah seorang ajudannya sebelum ditarik menjadi pengawal pribadi kaisar karena bakat dan kemampuannya.
__ADS_1
"Baiklah Ryu.. istirahatlah.. aku hanya akan berkeliling sedikit lagi.. aku akan menemui adikmu.. Bing dan utusan sekte Kuda Terbang..! " ucap Jendral Chou sebelum kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Ryu.