
Jendral Chou menjadi percaya diri untuk melakukan perang terbuka melihat jumlah prajurit yang sudah berimbang.. luka - lukanya serta tenaga pendekar - pendekar yang dipimpinya juga sudah pulih. Jendral Chou tidak lagi ingin hanya bertahan..kali ini dia ingin segera mengusir pasukan Kekaisaran Qing dari perbatasan.
Setelah berdiskusi dengan beberapa walikota dan ketua aliansi Jendral Chou lalu memerintahkan pasukannya untuk keluar dari benteng dan bersiap melakukan perang terbuka.
Terompet yang menandakan seluruh prajurit untuk berkumpul telah dibunyikan.. seluruh prajurit juga sudah berkumpul menunggu Jendral Chou yang sudah siap memberikan pidato.
"Prajurit - prajurit dan Pendekar Ming yang saya cintai.. Hari ini.. hari ke empat kita menyabung nyawa ditempat ini.. dan Hari ini.. akan menjadi pertaruhan terbesar kita untuk mengusir bangsa mongol yang ingin menguasai tanah kita.. "..pidato Jendral Chou disambut riuh oleh seluruh pasukannya.
"Prajurit - prajuritku yang saya hormati.. kita tidak tau apa yang akan terjadi di luar sana.. nyawa kita bisa saja melayang. tapi... tindakan kita hari ini akan menjadi sejarah yang akan terus dikenang oleh anak cucu kita.." pidato Jendral Chou yang sangat berapi - api mampu menyulut semangat pasukannya.. dan setelah menyampaikan pidatonya.. Jendral Chou menuruni tangga diiringi oleh enam orang walikota serta komandan - komandan masing - masing kelompok pasukan menuju kudanya.
Pintu gerbang terbuka.. petinggi pasukan kaisaran Ming melangkahkan kudanya keluar dari benteng dan diikuti seluruh pasukan kecuali pasukan pemanah dan pendekar - pendekar yang mempunyai kemampuan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.
Wing Chun bersama pendekar lain bersama pasukan pemanah tatap berada diatas benteng.. melihat dari ketinggian..hampir dua ratus lima puluh ribu parajurit kekaisaran Ming berbaris rapi pada pelataran luas tepat di depan benteng.. Genderang perang yang juga terus di bunyikan menambah semangat pasukan yang akan bertempur.
Hampir dua ratus lima puluh ribu prajurit terpisah - pisah menjadi beberapa kelompok.. kelompok yang berada di garis depan tepat berada di belakang para perwira adalah pasukan infantri yang bersenjatakan tombak dan dilengkapi dengan perisai.
Pasukan berkuda terbagi menjadi dua kelompok yang masing - masing berjumlah lima puluh ribu ditempatkan pada sisi kiri dan kanan pasukan..
Sedangkan prajurit infantri dengan beraneka jenis senjata berada dibelakang pasukan yang menggunakan tombak..
Genderang perang kembali ditabuhkan.. pasukan Ming bergerak maju perlahan.. sampai pada salah satu batu yang telah diberi tanda warna putih sebelumnya.. Jendral Chou mengangkat tangan yang dikepalkan memberi tanda pada pasukannya untuk berhenti..dia kemudian memerintahkan pasukan yang memegang tombak dan perisai untuk membuat formasi berbentuk segitiga dengan tombak diselipkan pada lubang - lubang khusus yang dibuat pada perisai - parisai yang digunakan. Perwira - perwira pasukan Ming.. mundur dan masuk kedalam formasi yang telah dibuat tersebut.
__ADS_1
***
"Yang Mulia.. Ming sudah membunyikan genderang perang lebih dulu.. sepertinya mereka akan mengadakan perang terbuka " ujar Jendral Tian Li ketika mendengar genderang perang dan terompet berbunyi.
"Perintahkan pasukan untuk bersiap.. kita yang akan menyerang mereka lebih dulu " jawab Kaisar Yong Zheng.
"Baik yang mulia.. tapi apakah tidak sebaiknya yang mulia kembali ke ibukota.. biar Aku saja dan Pendekar Fei yang bersama pasukan " ujar Jendral Tian Li..
Wong Fei.. adalah pendekar yang disewa oleh kaisar Yong Zheng.. Wong Fei adalah salah seorang pimpinan dari Kuil Dewa Api yang mempunyau sembilan orang pemimpin. Wong Fei yang sudah berusia lebih dari seratus tahun itu adalah pimpinan kedua dalam Kuil Dewa Angin tersebut. Wong Fei selalu mengenakan pakaian serba putih dan memiliki pusaka sebuah tongkat yang terbuat dari giok.
" Aku sudah sejauh ini Jendral.. aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kalian di sini.. segera siapkan seluruh prajuritmu.. kita selesaikan semua hari ini.. " ucap Kaisar Yong Zheng lalu mengenakan helm perangnya lalu menuju ke kereta perang miliknya dan didampingi oleh Wong Fei.
***
Genderang perang milik Kekaisaran Qing mulai ditabuhkan.. pasukan berkuda yang menjadi barisan terdepan dan berjumlah lebih dari seratus ribu prajurit langsung maju menyerang.. parajurit berkuda ini bertugas untuk menghancurkan formasi segitiga yang dibuat oleh pasukan Jendral Chou.
Jarak tinggal beberapa puluh meter dan berkurang terus dengan cepat.. pasukan berkuda itu mulai memasuki daerah yang sudah diberi tanda oleh Jendral Chou.. Jendral Chou lalu mengangkat tongkat pedangnya memberi tanda pada pasukan pemanah di atas benteng untuk bersiap.. dan ketika Jendral Chou menurunkan tongkat pedangnya. ribuan anak panah meluncur ke udara..
Ribuan anak panah itu mengeluarkan suara desingan yang terdengar mengerikan.. lalu anak panah itu meluncur deras menuju ke pasukan berkuda milik kekaisaran Qing.. perkiraan Jendral Chou sangat tepat.. ribuan anak panah itu jatuh di depan pasukannya.. yang satu persatu menemui sasarannya..
Kuda - kuda yang terkena anak panah terjungkal ke tanah dan melemparkan prajurit yang menungganginya.. sedangkan anak panah yang mengenai penunggang kuda.. membuat prajurit - prajurit itu terjatuh dari tunggangannya.. dan kuda - kuda itu berlarian tak tentu arah..
__ADS_1
Jumlah pasukan berkuda terus berkurang dengan cepat.. tapi dari arah belakang.. pasukan infantri sudah menyusul mereka..pasukan pemanah yang berads di garis belakang sudah berada pada posisinya.. dan seketika.. hujan panah juga mulai menerpa pasukan Ming.
Beberapa prajurit yang membentuk formasi segitiga satu persatu berjatuhan akibat terkena anak panah.. tapi dengan cepat prajurit lain yang berada di sampingnya langsung menggantikan posisi yang ditinggalkan itu. Meskipun pasukan Ming membuat atap dari tameng.. tapi tetap saja ada anak panah yang berhasil menerobos masuk..
Formasi segitiga mulai goyah.. gempuran dari pasukan berkuda, infantri dan pemanah perlahan - lahan mulai menggerogoti kesolidannya. Kaisar Yong Zheng melihat peluang.. dengan segera dia memerintahkan seluruh pasukankannya untuk maju menyerang.
Jendral Tian Li sebenarnya tidak setuju dengan perintah Kaisar.. sebab dia belum melihat pergerakan dari pasukan berkuda milik Jendral Chou.. tapi Kaisar sudah mengeluarkan perintah.. mau tidak mau.. suka tidak suka perintah tersebut harus dilaksanakan.
Seluruh prajurit Qing menyerbu maju.. dipimpin langsung oleh sang Kaisar.. meskipun kereta perangnya tidak luput dari hujan anak panah.. tapi tidak satupun anak panah yang mengenainya.. Wong Fei hanya mengibas - kibaskan tongkatnya.. dan anak panah yang menuju kereta mereka terjatuh akibat terkena hempasan angin yang kuat.
Ketika seluruh prajurit Qing sudah maju.. formasi segitiga yang dibuat Jendral Chou juga berubah.. jika sebelumnya formasi itu berbentuk seperti anak panah yang menghadap pada musuh.. kali ini formasi itu berubah menjadi anak panah terbalik.. dan terus melebar.. pasukan Qing masuk kedalam formasi itu.. dan saat itu terjadi Jendral Chou memerintahkan prajurit berkuda dari kedua sisi untuk menyerang..
Jendral Tian Li menyadari pasukannya masuk kedalam jebakan.. tapi nasi sudah menjadi bubur.. pasukan Qing kali ini terkepung oleh pasukan Ming yang jumlahnya sedikit dibawah jumlah mereka..
Pasukan - pasukan Kaisar Yong Zheng tidak bisa keluar dari formasi yang dibuat.. sebab tameng yang digunakan untuk membentuk formasi itu ternyata sangat kokoh untuk diterjang.. kali ini musuh ada di depan belakang serta samping mereka..
Perang terbuka sudah terjadi.. Wong Fei terpaksa turun dari kereta perang untuk melakukan pertarungan jarak dekat.. gerakan Wong Fei sangat cepat dan bahkan tidak terlihat oleh prajurit Ming..
Wing Chun yang mengawasi dari kejuahan merasa jika pendekar yang berpakain serba putih itu merupakan ancaman bagi pasukan Ming.. dan segera.. Wing Chun melompat jauh kedepan dan langsung berhadapan dengan Wong Fei..
"Setidaknya.. pilihlah lawan yang setera denganmu " ujar Wing Chun.
__ADS_1