
Suasana ibukota sudah mulai lengang saat rombongan Mathanadeva sampai.. rombongan itu pun bisa dengan cepat melaju di jalan kota dan menuju ke istana.
"Chen Khu.. jika kamu ada waktu.. malam ini aku ingin bertanya tentang banyak hal padamu.. " Mathanadeva membuka suara saat kereta kuda berhenti di depan kediamannya.
"Baik yang mulia.. tapi jika anda ijinkan saya akan kembali ke sini setelah membersihkan badan.. "
"Kamu tidak perlu ke sini Chen Khu.. nanti aku yang ke tempatmu.."
"Baiklah kalau begitu yang mulia.. " jawab Chen Khu lalu melangkah turun dari kereta dan segera menuju bangunan lain yang digunakannya untuk tinggal dan diikuti oleh Shiva.
"Tuan muda... maukah tuan muda mengajariku terbang seperti tadi..? " ujar Shiva sambil berjalan beriringan dengan Chen Khu.
Chen Khu tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil memijit keningnya.. dia baru menyadari..jika dirinya telah menarik perhatian saat dirinya terlihat mampu terbang di udara.
"Tuan.. ayolah tuan.. " pinta Shiva merengek seperti anak kecil.
"Hmmm.. baiklah.. tapi bisa saja akan memakan waktu yang cukup lama, dan aku mungkin tidak bisa terlalu lama berada di sini " jawab Chen Khu yang disambut sorak kegirangan oleh Shiva.
"Mandilah cepat.. sebentar lagi yang mulia akan ke sini " sambung Chen Khu..
"Mm.. ada tujuan apa yang mulia ke sini.? padahal kan malam sudah agak larut.. " gumam Shiva sambil mengeryitkan keningnya.
"Aku juga tidak tau.. tapi terserah yang mulia.. kan dia rajanya.. " jawab Chen Khu sambil tertawa lalu melangkah menuju kamar mandi.
Malam itu.. setelah membersihkan badan dan mengisi perut yang kosong.. Chen Khu dan Shiva duduk di beranda menunggu kedatangan Mathanadeva.. kedua saling bertukar cerita dan terlihat akrab.. dan tak lama kemudian tampak dari kejauhan seseorang bergerak sangat cepat dengan ilmu meringkan tubuh menuju ke tempat mereka.
"Yang mulia.. " sambut keduanya pada Mathanadeva yang datang sendirian tanpa pengawal.
"Shiva..!! tinggalkan kami berdua..!! perintah Mathanadeva.. dan Shiva dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan Chen Khu dan Mathanadeva, meskipun dia sangat ingin ikut dalam percakapan mereka.
"Chen Khu.. saat kamu belum lama siuman.. kamu pernah mengatakan jika sebelum kamu tersedot oleh lubang hitam yang membawamu ke sini.. kamu sedang membantu Mahaguru Wing Chun yang sedang bertarung.." Mathanadeva memulai pembicaraan sambil duduk bersila berhadapan dengan Chen Khu.
"Benar yang mulia.. " jawab Chen Khu singkat.
" Saat itu sebenarnya aku masih memiliki sedikit pertanyaan padamu, hanya karena kondisimu belum pulih betul, sehingga aku menunda untuk menanyakannya... "
__ADS_1
"Apa yang akan anda tanyakan yang mulia..? "
"Aku ingin tau.. siapa lawan mahaguru Wing Chun dan sehebat apa dia.. serta seberapa tinggi kemampuan mahaguru Wing Chun..? " tanya Mathanadeva dengan tatapan serius pada Chen Khu.
"Aku tidak tau siapa nama orang yang menjadi lawan mahaguru Wing Chun..hanya saja.. orang itu mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, serta memiliki sebuah pusaka berbentuk tongkat yang terbuat dari batu giok dan tongkat tersebut selain bisa digunakan untuk menyerang lawan dengan kekuatan luar biasa.. tongkat itu juga mampu memulihkan tenaga dalam penggunanya dengan cepat.. bahkan mahaguru Wing Chun hampir saja terbunuh oleh orang itu.. " jawab Chen Khu
"Lalu sebesar apa kekuatan mahaguru Wing Chun sampai - sampai bisa dikalahkan oleh orang itu..? " tanya Mathanadeva kembali.
"Mahaguru Wing Chun sudah membuka dua puluh titik cakra, serta memiliki tiga ribu lebih tingkat tenaga dalam, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan lawannya.. hanya saja.. pusaka yang digunakan oleh lawannya itu membuat tenaga dalam yang dimilikinya seperti tidak pernah berkurang.. itulah sebabnya.. mahaguru Wing Chun akhirnya terdesak dan hampir saja terbunuh setelah bertarung cukup lama.. "
Mathanadeva terdiam sejenak.. dalam benaknya dia membayangkan tingkat tenaga dalam sebanyak itu yang dimiliki oleh gurunya dan masih bisa kalah bahkan hampir terbunuh dalam sebuah pertarungan.
"Lalu..bagaimana pertarunganmu dengan orang itu..? " tanya Mathanadeva kembali.
"Hmmm.. aku lengah pada saat - saat terakhir.. hingga aku tersedot oleh lubang hitam yang dibuat oleh orang itu.. padahal berkat petunjuk dari mahaguru Wing Chun.. tinggal selangkah lagi aku hampir membunuhnya.. "
Mathanadeva berdecak kaget.. sebab.. Wing Chun yang memiliki tiga ribu lebih tingkat tenaga dalam hampir saja terbunuh, tapi Chen Khu mampu mengungguli lawan Wing Chun tersebut.
"Apa..!!? " memangnya sebesar apa kekuatanmu Chen Khu..? " tanya Mathanadeva sambil memperhatikan Chen Khu seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya sebab dari penampilannya Chen Khu masih berusia sangat mudah dan sangat mustahil jika kekuatan Chen Khu bisa lebih tinggi dari Wing Chun yang berusia lebih dari seratus tahun.
"Apaaa..!? mustahil.. bagaimana bisa kamu memiliki kekuatan sebesar itu.. apa penampilanmu hanya menutupi usiamu yang sebenarnya..?? " tanya Mathanadeva setengah berteriak..membuat beberapa pengawal yang berjaga disekitar tempat tinggal Chen Khu berlarian menghampiri mereka.
" Kembalilah ke posisi kalian..!! " perintah Mathanadeva pada pengawal - pengawal itu sebelum Chen Khu sempat menjawab pertanyaannya.
Pengawal - pengawal itu saling menatap satu sama lain.. lalu kembali ke posisi mereka semula.. sebagian dari mereka saling berbisik, sebab mereka yakin jika sebelumnya mereka mendengar Mathanadeva bersuara cukup keras..
"Mmm.. yang mulia.. bagaimana kalau kita mencari tempat yang lebih sepi..? " Malam sudah mulai larut dan jika yang mulia seperti tadi terus.. maka perhatian orang - orang dalam istana pasti akan terpusat pada kita.. " ujar Chen Khu yang juga terkejut melihat ekspresi keterkejutan yang dilakukan oleh Mathanadeva.
"Baiklah.. diluar kompleks istana ini ada sebuah bukit.. kamu pasti sudah melihatnya.. bagaimana kalau kita ke sana saja..? " ucap Mathanadeva menyetujui usulan Chen Khu.
Chen Khu kemudian merangkul Mathanadeva lalu membawanya terbang ke bukit yang dimaksud oleh Mathanadeva. Bukit tersebut terletak diluar kompleks istana dan berjarak kurang lebih lima kilometer tapi dengan kecepatannya Chen Khu manempuhnya hanya kurang dari sepuluh menit. Chen Khu memang sengaja mengurangi kecepatannya agar Mathanadeva tidak mengalami sesak nafas..lalu setelah berputar sejenak Chen Khu turun pada sebuah batu ukuran besar dan cukup datar.
"Sepertinya disini lebih baik yang mulia.. " ujar Chen Khu lalu melepaskan pegangannya pada Mathanadeva, dan keduanya kembali duduk bersila saling berhadapan.
"Sekarang.. jawablah..!! berapa usiamu sebenarnya.. ?! Mathanadeva mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
" Persisnya saya kurang ingat betul yang mulia.. tapi kalau tidak salah ingat.. usiaku saat ini dua puluh dua menjelang dua puluh tiga tahun yang mulia.. " jawab Chen Khu sambil memegang dagunya.. mencoba mengingat jelas usianya saat ini.. kesibukannya berlatih serta banyaknya urusan dalam dunia persilatan memang membuatnya tidak sempat untuk memikirkannya.
Kali ini Mathanadeva mencoba meredam keterkejutannya.. pandanganya terus menyelidiki Chen Khu dengan dibantu oleh sinar bulan yang mulai meninggi.
"Jika usiamu semuda itu.. bagaimana kamu bisa memperoleh kekuatan sebesar itu..?!" tanyanya kemudian.
"Semua berkat bimbingan guruku serta kitab Dewa Naga Khayangan yang diwariskannya padaku.. "
"Kitab Dewa Naga Khayangan..?!
"Iya yang mulia.. petunjuk - petunjuk didalamnya sangat lengkap dan terperinci sehingga sangat memudahkan kita untuk mempelajarinya.. " jawab Chen Khu lalu memperlihatkan kitab tersebut pada Mathanadeva.
Meskipun pertemuannya dengan Mathanadeva terhitung relatif singkat.. tapi.. sikap serta perilaku Mathanadeva yang disaksikannya.. membuat Chen Khu tidak ragu untuk memperlihatkan kitab miliknya.. sebab dalam hatinya.. Chen Khu berharap agar Mathanadeva bisa menjadi lebih kuat karena hasrat Mathanadeva dalam melindungi rakyatnya sudah teruji di mata Chen Khu.
"Jika yang mulia bersedia.. aku akan membantu yang mulia berlatih dengan kitab itu.. dan jika waktunya sudah tepat.. aku juga akan memberikan pedang halilintar agat yang mulia bisa menggunakannya melindungi rakyat anda.."
Nafas Mathanadeva tersedak.. dia tidak menyangka akan mendengar hal itu.. begitu mudahnya Chen Khu akan mewariskan sesuatu yang sangat berharga padanya.. orang yang baru dikenalnya.
"Apa kamu yakin..??! bagaimana bisa kamu mempercayaiku..?" tanya Mathanadeva.
"Aku juga tidak tau yang mulia.. tapi batinku mengatakan jika yang mulia bisa menjaga kitab serta pedang ini dengan baik.. lagipula.. setelah bertahun - tahun menggunakan pedang halilintar.. aku merasa jika aku berubah menjadi semakin haus darah.. jadi mungkin saja pedang itu membutuhkan tuan yang baru untuk menetralkannya kembali.. " jawab Chen Khu.
"Jika kamu memberikannya pada.. lalu kamu akan pakai pedang apa..?!
"Aku masih punya yang lain yang mulia... hanya saja kekuatanku masih belum cukup untuk menggunakannya.. itulah kenapa tadi saya katakan jika saatnya tepat aku akan menyerahkan pedang halilintar pada anda.. "
Malam itu.. perbincangan Chen Khu dan Mathanadeva pun berlanjut.. Chen Khu menceritakan perihal isi kitab Dewa Naga Khayangan pada Mathanadeva, sedangkan Mathanadeva menyimak dengan hikmat dan sesekali bertanya jika ada hal yang tidak dimengertinya...kedua pria itu terlihat lupa waktu hingga kokok ayam jantan mengingatkan keduanya..
"Chen Khu.. sebentar lagi pagi.. sebaiknya untuk hari ini kita cukupkan dulu.. " ujar Mathanadeva.
"Baik yang mulia.. bawalah kitab ini.. agar yang mulia bisa membacanya.." ucap Chen Khu sambil menyerahkan kitab Dewa Naga Khayangan pada Mathanadeva.
Setelah Mathanadeva memasukkan kitab tersebut dalam jubahnya.. Chen Khu lalu merangkul kembali Mathanadeva dan terbang menuju istana.. tapi kali ini Chen Khu menambah kecepatannya sebab dia tidak ingin ada orang yang melihat mereka.
"Yang mulia.. besok.. saat dinihari.. aku akan menunggu yang mulia disini.. untuk hari ini.. sebaiknya yang mulia istirahat untuk mempersiapkan diri.. " ujar Chen Khu sesaat setelah menjejakkan kakinya di halaman belakang kediaman Mathanadeva tanpa seorang pun pengawal yang mengetahui kehadiran mereka.
__ADS_1
"Baik Chen Khu.. kamu juga.. istirahatlah..! "