Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
14. Jurus Pamungkas


__ADS_3

"Akhirnya kau bertarung juga. Aku jadi penasaran, apa kau bisa menghiburku atau kau akan mati," sambil menangkis serangan Erlangga yang sesungguhnya ia berkata. Nampaknya dia adalah orang yang sangat haus dengan bertarung.


"Siapa yang Sudi mati disini? Yang akan mati itu kau!" Erlangga berkata sambil terus berusaha menyerang . Pertempuran dua lawan satu itu terus berlanjut. Erlangga sebenarnya sudah merasa berada diambang batas untuk bertarung . Tapi tetap saja ia paksakan. Ia tahu ia akan kalah, tapi ini demi harga diri. Ia tidak ingin berlindung dibalik badan wanita.


"Kau yang di sana, cepat bangun! Kamu tidak boleh berhenti bertarung sampai mati!" ia berkata ke arah Dewi Ratih yang sedang berusaha untuk bangkit.


"Tanpa disuruh pun aku akan bertarung," dia kemudian bangkit dan kemudian ikut bertarung bersama kedua temannya itu.

__ADS_1


Sambil bertarung, Dewi Ratih merasa seperti sedang tidak bertarung dengan manusia biasa. Pria yang sedang bertarung itu dimatanya seperti iblis yang menyamar untuk memenuhi hasrat bertarung yang tiada batasnya. Itu terlihat dari tengkorak-tengkorak yang berserakan. Mereka rupanya terus bertarung tanpa henti hingga menemui ajalnya. Dalam hati ia berharap agar bisa keluar dari situasi ini.


Tapi ia merasa tidak yakin karena ia melihat pedang yang dipakai oleh Laksminingrum itu seperti tidak ada apa-apanya. Padahal kata gurunya itu adalah pedang yang memiliki kekuatan sangat dahsyat. Sehingga ia tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah.


Walaupun sekarang sepertinya sudah tak mungkin untuk menang, ia berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya selamat. Seberapapun kecilnya ia berharap ada keajaiban. Walaupun ia tahu bahwa ksatria tidak boleh takut pada kematian tapi sebagai manusia biasa, rasa itu tidak bisa ia kesampingkan.


"Hei cah manis, kau bisa pakai pedang tidak? Atau mau aku ajarin?" pria itu mengejek Laksminingrum yang sepertinya sudah merasa Frustasi karena sabetan pedangnya seperti tidak berguna. Bagaimana tidak? Setiap kali berhasil melukai, luka itu dalam sekejap akan menghilang. Rasanya ia kembali saja ke tempat ia dibesarkan oleh gurunya. Kali ini ia merasa gagal menggunakan pedang warisan yang sangat terkenal itu.

__ADS_1


Saat mengingat sesuatu, ia memberikan aba-aba untuk kedua temannya itu sedikit menjauh dari dekat pria itu. Ia rupanya ingin menggunakan salah satu jurus pedang yang mematikan. Nama jurus itu adalah Naga Menghantam Bumi. Dia sedikit gerakan, pedang itu seperti mengeluarkan cahaya yang terang . Dengan secepat kilat ia kemudian mengarahkan pedang itu kepada pria itu.


Setelah terkena serangannya Laksminingrum, terlihat tubuh pria itu terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya . Laksminingrum terlihat bernafas lega setelah melihat tubuh itu tercerai berai. Ia benar-benar merasa bersyukur bisa lolos dari jerat maut yang mengintainya.


"Akhirnya, selesai juga pertarungan ini," ia kemudian berkata begitu.


"Sekarang kita harus meninggalkan tempat ini. Sebaiknya sebelum malam kita sudah berada di perkampungan," ia berkata kepada dua temannya itu.

__ADS_1


Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya lagi. Berharap bisa menemukan perumahan penduduk secepatnya. Namun saat mereka berjalan kira-kira sepuluh langkah. Tiba-tiba tubuh pria tadi menyatu kembali. Dan kemudian menantang untuk duel lagi. Melihatnya kembali utuh, ketiga orang itu sangat terkejut. Entah mengapa, walaupun mereka adalah pendekar yang harusnya tidak lagi dari pertarungan. Melihatnya hidup lagi membuat mereka lebih berpikir untuk kabur saja daripada harus melawannya lagi.


Sekarang mereka paham penyebab banyaknya tengkorak yang berserakan. Rupanya pria itu takkan melepaskan lawannya sampai yang dilawan itu mati. Orang itu benar-benar iblis yang mengambil wujud manusia.


__ADS_2