
Fajar mulai menampakkan dirinya.. semburat cahaya mulai mengisi bumi.. dan dentingan pedang beradu masih terus terdengar dari dalam istana..
Desmar bersama seluruh pasukannya, yang telah berkumpul kembali di depan gerbang istana setelah membuat kekacauan dibeberapa tempat sebagai pengalih perhatian juga sudah melakukan pertempuran lain di depan gerbang istana.
Lima orang pendekar tingkat tinggi terlihat berdiri di sekitar Narendra yang terlihat sangat panik karena mendapatkan serangan tiba - tiba dan tidak satu orang pun yang menyadari akan datangnya serangan tersebut.
"Yang mulia Narendra.. sepertinya anda yang menjadi target ketiga orang itu.. " ujar salah seorang pendekar sambil menunjuk ke arah Chen Khu yang terus maju bersama Mathanadeva dan Mahotra yang terus maju dan membabat habis semua prajurit - prajurit yang masuk dalam jangkauan mereka.
Mahotra memang tidak berkampuan tinggi.. kemampuannya hanya setara dengan pendekar level menengah.. tapi bertarung bersama Mathanadeva dan Chen Khu yang berkemampuan tinggi cukup untuk mengangkat rasa percaya dirinya, belum lagi.. prajurit - prajurit Nishada sudah kehilangan rasa percaya diri saat menyaksikan kobaran api yang menyelimuti pedang Chen Khu.
"Kalau begitu.. tunggu apa lagi.. cepat habisi ketiga orang itu atau mereka akan menghabisi seluruh prajurit kita..! " bentak Narendra.
"Tapi yang mulia....!!
"Tapi kenapa..?! aku membayar mahal pada kalian bukan untuk menonton saja.. " Narendra makin meninggikan suaranya.
Kelima orang pendekar tersebut menelan ludah mendengar ucapan Narendra.. tentu saja, Chen Khu yang menjadi pusat perhatian mereka dengan pergerakan yang sangat cepat gesit dan lincah, dengan pedang dengan kobaran api yang meliuk - liuk dengan cepat dan menghanguskan lawan yang terkena serangannya.. perubahan energi yang dilakukan Chen Khu memang membuat musuh - musuhnya bergidik.. gelombang api yang seolah tidak berujung ibarat seekor ular yang meliuk - liuk dan menebarkan hawa panas disekitarnya tapi tidak berpengaruh pada penggunanya.
Kelima pendekar itu akhirnya menerima perintah Narendra untuk maju menghadang laju Chen Khu yang sampai saat ini masih belum menemui lawan yang berarti.. lawan - lawannya bahkan tidak dapat bertahan hanya dengan satu serangan.
"Lindungi yang mulia Narendra.. kalian bukan lawannya.. " ujar salah seorang pendekar itu pada prajurit - prajurit yang terlihat sudah mengambil jarak dengan tiga orang tersebut.
Meskipun kelima pendekar itu sangat takjub dengan kemampuan yang dimiliki oleh Chen Khu.. dan bahkan jika ada pilihan untuk tidak menghadapi pendekar dengan perubahan energi api itu.. mereka lebih baik memilih untuk tidak melawannya, hanya saja jumlah yang lebih unggul serta kemampuan diantara mereka yang hampir setara, sedikit menambah keyakinan mereka untuk memenangkan pertarungan.
Langkah Chen Khu dan kedua rekannya terhenti sejenak saat kelima pendekar yang semula mengawal Narendra sudah berdiri dihadapan mereka dengan pedang yang terhunus..
"Yang mulia.. sekarang saatnya.. bisik Chen Khu kemudian menyarungkan pedangnya.. membuat lima orang pendekar yang berdiri menghadang kebingungan melihat sikap yang ditunjukkan oleh Chen Khu.
__ADS_1
Mathanadeva mengangguk lalu ikut menyarungkan pedangnya..sikap kedua orang itu jelas membuat orang yang melihatnya semakin kebingungan.. terlebih Mahotra yang merasa jika mereka lebih mendominasi jalannya pertarungan meskipun jumlah mereka lebih sedikit.
"Menjauhlah..! " ucap Mathanadeva sambil menoleh pada Mahotra yang tanpa pikir panjang langsung melompat mundur ke belakang meskipun belum mengetahui apa yang akan dilakukan kedua orang itu.
Lima orang pendekar tingkat tinggi yang dimiliki oleh Narendra nampak tersenyum melihat kedua lawannya sudah menyarungkab pedang.. mereka merasa jika keduanya memutuskan untuk menyerah setelah merasakan aura kekuatan yang terpancar dari tubuh mereka berlima..
Namun dugaan kelima pendekar tersebut tenyata meleset setelah melihat kedua tangan
Chen Khu memegang dua tangan Mathanadeva lalu keduanya sedikit terangkat ke udara.. dan saat keduanya sudah berjarak setengah meter dari tanah.. Chen Khu kemudian melakukan putaran cepat bersama Mathanadeva.
Putaran yang sangat cepat itu bahkan terlihat seperti pusaran angin yang ikut berputar bersama Chen Khu dan Mathanadeva. Debu - debu beterbangan dan mengikuti pusaran angin yanh diciptakan oleh Chen Khu, mata kelima pendekar itu dibuat terpana dengan apa yang sedang mereka saksikan, kelimanya hanya mangambil sikap waspada sambil menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya tanpa berani mendekati pusaran angin yang tercipta.
Saat pusaran angin semakin membesar dan tubuh keduanya sudah tidak terlihat karena tertutup debu serta benda - benda lain yang ikut terhisap kedalamnya.. Chen Khu merubah posisinya dengan memegang kaki Mathanadeva dan bersiap untuk melemparkannya keluar dari pusaran angin.
Saat Mathanadeva menganggukkan kepala sebagai tanda jika dia telah siap.. Chen Khu melepaskan pegangannya tapi sebelumnya Chen Khu sedikit memutar tubuh Mathanadeva yang sudah menghunuskan pedangnya.
Salah seorang dari lima orang pendekar tingkat tinggi yang ditugaskan untuk menghentikan Mathanadeva dan Chen Khu terlambat menyadari apa yang sedang terjadi, hingga harus merelakan tubuhnya hancur tanpa bisa lagi untuk dikenali akibat tertembus pedang Mathanadeva tanpa menyadari apa yang baru saja menimpanya..sedangkan keempat rekannya yang sempat menghindar menatap penuh kengerian.
Barikade prajurit yang dibuat untuk melindungi Narendra pun tidak dapat berbuat banyak untuk mengehentikan laju Mathanadeva yang melesat ibarat peluru yang ditembakkan dan berhasil menghempaskan tiga lapis prajurit pengawal Narendra.
Nafas Narendra terhenti beberapa detik menyaksikan prajurit - prajuritnya dibuat porak - poranda dengan begitu mudahnya, bahkan mulutnya tidak bisa menutup sepenuhnya.. dan belum selesai keterkejutannya.. sebilah pedang yang telah berlumuran darah menempel di lehernya bahkan sedikit menyayat kulitnya hingga meneteskan darah.
"Perintahkan seluruh pasukanmu untuk menyerah atau kepalamu akan terpisah dari tubuhmu...!! " ujar Mathanadeva dingin.
Mata Narendra terbelak saat melihat orang dihadapannya yang menempelkan pedang dilehernya ternyata adalah Mathanadeva, sahabat baik Yeseka.
"Bagaimana.. apakah kita masih akan melanjutkan..?! " ucap Chen Khu tersenyum sinis menatap empat orang pendekar yang bediri di hadapannya lalu melihat ke arah Mathanadeva yang sudah menjadikan Narendra sebagai tawanan, lalu menghunuskan pedang naga langit miliknya.
__ADS_1
"Kalu boleh aku sarankan.. jangan korbankan diri kalian untuk membela orang yang salah.. " Chen Khu melanjutkan ucapannya diiringi dengan melepaskan aura seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk mengintimidadi keempat lawannya.. yang hanya dalam hitungan menit telah dikejutkan beberapa kali dengan kemampuan yang diperlihatkan oleh Chen Khu dan Mathanadeva, dan baru pertama kali mereka saksikan serta mereka rasakan sepanjang karir kependekaran yang mereka lalui.
Keempat pendekar itu menoleh ke belakang mengikuti isyarat mata Chen Khu.. dan mereka menemukan Narendra yang sudah tersandera dan masih belum bisa berkata - kata.
Perasaan lega menghinggapi keempat pendekar tersebut melihat Narendra tertawan, sebab mereka memiliki alasan untuk tidak bertarung dengan pemuda di hadapan mereka, meskipun unggul dalam jumlah, tapi saat merasakan aura yang dimiliki oleh Chen Khu, keempat orang itu merasa jika melawan bukanlah pilihan terbaik.. meskipun unggul dalam jumlah, tapi dengan kemampuan yang dimiliki pemuda di hadapan mereka. kemenangan dipihak mereka masih terasa mustahil.. dan jika itu terjadi.. tentu saja akan menyisakan luka yang sangat parah bagi mereka dan bisa saja salah satu atau keseluruhan dari mereka akan kehilangan salag satu atau lebih anggota tubuh mereka.
"Jatuhkan senjata kalian...!! "
Teriak Narendra dengan suara bergetar.. seluruh pasukannya menoleh ke arah sumber suara..
Prajurit - prajurit Nishada yang masih mengepung Chen Khu dengan jarak yang cukup jauh, langsung melepaskan pedang mereka tanpa berpikir panjang..tentu saja.. menyerah merupakan tawaran terbaik dibandingkan melawan monster seperti Chen Khu dan Mathanadeva yang mampu memporak -porandakan prajurit - prajurit Nishada yang di segani dalam waktu yang sangat singkat.
Prajurit Nishada lain yang tengah mempertahankan pintu gerbang istana juga tidak memiliki pilihan lain untuk menyerah.. mereka melepaskan senjata yang mereka miliki sebagai tanda bahwa perlawanan mereka telah berhenti.
"Hidup yang mulia Yaseka...!! "
"Hidup yang mulia Mathanadeva..!! "
Teriakan Mahotra dari atas tembok istana sambil mengibarkan bendera kerajaan Nishada, disambut riuh pasukan yang dipimpin oleh Desmar.. mereka segera melucuti senjata prajurit - prajurit Nishada yang memihak pada Nerendra.
Matahari pagi itu menjadi saksi.. prajurit Nishada yang suprior dan disegani oleh kerajaan - kerajaan tetangga dibuat tidak berdaya dengan serangan tiba - tiba yang dilakukan oleh Mathanadeva.
***
Ditengan riuh sorak - sorai pasukan yang dipimpin oleh Jendral Desmar.. Chen Khu bisa merasakan seseorang bergerak pelan di atas atap dari arah belakang Mathanadeva. Meskipun samar.. Chen Khu bisa merasakan kehadiran pendekar tersebut yang bahkan Mathanadeva tidak menyadari akan kehadirannya.
Dan saat jarak antara pendekar itu dan Mathanadeva tinggal menyisakan jarak beberapa meter saja.. pendekar itu melompat ke arah Mathanadeva dengan pedang terayun....
__ADS_1