
"Menurutmu mana yang bakal menang?" Tanya Dewi Ratih.
"Entah. Tapi menurutku pria yang tadi mengajak kita bertarung itu yang menang. Lihat sendiri kan tadi tubuhnya bisa menyatu setelah terpisah-pisah. Dengan begitu, orang yang menantangnya itu pasti bakal kalah. Oh ya, tadi namanya siapa?" Tanya Laksminingrum.
"Kalau tidak salah namanya tadi Kameswara, terus yang tadi melawan kita namanya Mahisa.Sepertinya mereka berdua saling kenal satu dengan yang lain," Erlangga menjawab pertanyaan Laksminingrum.
"oh ya , ini kita beneran mau mengintip mereka berdua bertarung? Kan tadi kita disuruh pergi?" Kata Erlangga lagi.
"Santai saja. Lagipula kita berada agak jauh dari mereka. Mana mungkin dia tahu kalau kita ada di sini."
***
Pertarungan antar mereka terjadi sangat seru. Bahkan kelihatannya pertarungan berlangsung dengan imbang. Pertarungan antar dua pendekar terhebat sepanjang sejarah terjadi tanpa ada tanda kekalahan diantara mereka.
Kilatan cahaya berkilatan di sana-sini.Jurus yang dimainkan oleh pria bernama Kameswara itu tidak ada yang dikenal oleh Erlangga. Lagipula dari jauh mereka nampak seperti dua bayangan yang yang saling menyerang.
__ADS_1
"Sepertinya percuma saja kita bertarung, tak ada yang menang diantara kita. Tapi aku merasa puas bisa bertarung dengan kekuatan penuh. Setelah sekian lama aku mencari lawan , ku rasa aku tidak akan bisa imbang kecuali denganmu," kata Mahisa mengakui kehebatan lawannya.
"Kurasa kamu benar. Kita sudah berpisah sejak lama, namun kita belum bisa mengalahkan satu sama lain. Tapi kali ini kau harus kalah demi menebus dosa-dosa yang telah kau buat selama ini."
"Dosa? Aku tidak berpikir punya dosa. Mereka saja yang lemah sehingga mudah dikalahkan. Lagipula aku tidak tahu apa yang disebut dosa itu."
"Kamu memang tidak berubah sejak dahulu. Kurasa saatnya sekarang aku harus serius," Kameswara berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kurasa aku akan serius mulai sekarang. Mari kita lihat siapa yang akan menang," balas Mahisa.
***
"Aku juga baru kali ini melihat pertarungan sehebat ini. Maklum , aku juga belum lama turun gunung," Laksminingrum seperti setuju dengan ucapan yang terlontar dari mulut Dewi Ratih.
"Aku melihatnya, walaupun kamu terlihat sangat piawai menggunakan pedang itu, tapi tetap saja kamu terlihat belum menguasai sepenuhnya potensi pedang itu."
__ADS_1
"Selama ini aku hanya bertarung dengan guruku. Mungkin itu alasannya mengapa aku tidak bisa memaksimalkan kekuatan pedangku. Apa jangan-jangan dia menyuruhku berkelana karena ia ingin aku menguasai pedang ini?"
"Mungkin. Kamu ini bagaimana sih? Masa tidak paham. Lagipula ia mungkin merasa bahwa kamu sudah bisa berkelana sendirian , jadi dia menyuruhmu mencari pengalaman sebanyak-banyaknya sembari mencari keberadaan keluargamu."
"Aku terlalu bodoh sampai tidak bisa mengerti maksud guruku."
"Ku pikir memang kau bodoh. Tapi selama kau tahu batasan aku tidak akan menganggapmu sebagai musuh," suaranya terdengar ada penekanan. Walaupun sudah berusaha berdamai, Dewi Ratih tetap saja mengingatkan Laksminingrum bahkan disaat yang tidak tepat sekalipun.
"Batasan?"
"Ku pikir sebagai seorang wanita kau mengerti maksud perkataan ku ."
Laksminingrum berusaha mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan kedua orang ini. Dia paham bagaimana rasa cemburu membuat mereka bertarung. Lagipula mereka berdua sudah bersama sejak lama, rasanya tidak mungkin juga bila tak muncul benih-benih rasa suka diantara mereka. Laksminingrum paham maksud ucapan wanita disampingnya itu. Walaupun wanita itu sebelumnya mengatakan kalau hubungan mereka hanya sebatas saudara seperguruan, tapi rasa cemburu itu tidak dapat ia sembunyikan. Walau bagaimanapun juga, dia takkan membiarkan Erlangga mendekati atau bahkan memiliki wanita lain selain dia .
"Aku mengerti. Aku akan mengingat apa yang kau ucapkan tadi," Laksminingrum tidak ingin membahas lebih panjang mengenai masalah perasaan yang diemban oleh Dewi Ratih.
__ADS_1