Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
51. Bayaran Kekuatan


__ADS_3

Galuh berjalan terus ke arah gua yang disebutkan dalam mimpinya saat ia pingsan kemarin. Ia berharap mimpi itu bukan harapan palsu sebab ia sudah terlanjur menaruh harapan yang terlalu besar untuk itu. Dia tak tahu apakah yang dilakukannya itu benar atau salah, selama dia bisa punya kekuatan untuk balas dendam ia akan pergi dengan sukarela.


Matahari perlahan-lahan menguning saat Galuh menuju ke tempat yang dijanjikan. Sebentar lagi senja, ia juga sebentar lagi sampai di tempat yang ia tuju. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa yang dilakukan olehnya itu tidak buruk jika dibandingkan dengan perlakuan dari mereka.


Akhirnya tepat saat senja mulai datang ia sampai di tempat yang ditentukan di dalam mimpinya. Ia segera masuk kesana namun tidak menemukan apa-apa. Setelah merasa kecewa ia kemudian memutuskan untuk pergi dari sana. Namun saat baru membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara pria yang sangat lembut memanggilnya. Ia juga menyuruh Galuh untuk tetap berada disitu.


"Jangan takut. Aku tidak akan berbuat yang macam-macam. Maaf aku kemarin menemui mu lewat mimpi. Terimakasih sudah datang ketempat ini," pria itu berbicara dengan lembut.


"Kamu benar-benar bisa memberikan kekuatan kepadaku?" Tanpa basa-basi Galuh langsung berkata.

__ADS_1


"Ya. Tapi kamu harus membayar kekuatan yang akan ku berikan kepadamu," katanya.


"Apakah tubuhku cukup untuk membayarnya?"


"Aku ingin hidupmu jadi bayarannya. Kau harus setia denganku seumur hidupmu. Tenang saja , kamu pasti akan menemukan kebahagiaan yang tak pernah kamu bayangkan . Bagaimana?"


"Apapun itu. Lagipula setidaknya aku punya tujuan lagi untuk hidup. Aku berjanji, akan setia kepadamu," jawab Galuh.


"Aku akan mengikuti mu kemanapun kamu mau," jawab Galuh.

__ADS_1


"Kalau begitu, ikuti aku. Aku akan memberikanmu kekuatan, tapi mungkin akan terasa sangat menyakitkan . Kamu harus bisa menahannya atau kamu akan mati," setelah melihat bagaimana gadis yang berada didepannya itu menunjukkan kesungguhannya, ia segera mengajaknya untuk mengikutinya menuju kesebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari sana.


Pria itu segera menyuruh Galuh duduk . Dia kemudian duduk di belakang Galuh yang duduk dengan sikap seperti orang bertapa. Perlahan tapi pasti, pria itu mulai mentransfer kekuatannya. Galuh terlihat sangat berusaha menahan rasa sakit akibat mendapatkan energi yang tidak pernah dikira oleh tubuhnya.


Begitu selesai, Galuh terlihat merasa sangat kelelahan. Pria itu segera menyuruhnya untuk istirahat . Dia bilang besok ia akan menyempurnakan kekuatan yang baru saja didapat oleh Galuh. Setelah Galuh beristirahat, ia tiba-tiba saja menghilang dari situ.


***


Istana Majasari yang megah itu terlihat terang benderang dibandingkan dengan kondisi disekitarnya. Kepala desa yang merangkap sebagai lintah darat itu masuk ke dalam istana. Rasanya suatu kebanggaan bisa menjejakkan kaki ditempat yang dipenuhi kemuliaan.

__ADS_1


Mereka segera menghadap raja. Di sana, jamuan yang spesial telah disiapkan dengan baik. Mereka berpesta sampai malam tiba. Sebenarnya kepala desa itu ingin segera membicarakan mengenai dirinya yang akan dijadikan Adipati oleh raja. Walaupun begitu, melihat raja sepertinya ingin bebas dari segala urusan kerajaan ia urungkan niatnya. Mungkin esok hari ia bisa menanyakan soal itu.


Dirinya akhirnya lebih memilih ikut mabuk bersama yang lain. Beberapa gelas minuman yang memabukkan ia minum tanpa perhitungan. Perlahan, tanpa ia sadari ia tak sadarkan diri. Tubuhnya ambruk begitu saja saat ia sedang asyik menikmati minuman yang tersedia.


__ADS_2