Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#96. Gangguan Siluman. IV


__ADS_3

Sepuluh buah pisau meluncur deras ke arah Mathanadeva dan putrinya, tapi serangan dari jarak yang cukup jauh itu tentu saja tidak efektif baginya meskipun pisau yang dilemparkan mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi tapi insting Mathanadeva masih berkerja dengan baik.


Mathanadeva mencabut pedang milik putrix yang tersimpan pada pelana kuda sebab posisinya tidak memungkinkan untuk menggunakan pedangnya sendiri karena terhalang oleh putrinya.


"TRAANG.. TRAANG.. "


Mathanadeva melompat dari kuda dan menyambut datangnya pisau - pisau terbang itu dan dengan lincah dia menangkis semua pisau yang datang..beberapa pendekar ikut bergabung bersama Mathanadeva sambil mencari sumber pisau - pisau itu dilemparkan sedangkan ratusan prajurit dan pendekar lainnya mengikuti Aahana menghadapi siluman - siluman yang jumlahnya kini tidak lagi sampai seratus ekor.


Prajurit - prajurit yang dibawa oleh Mathanadeva dalam menghadapi siluman bukanlah prajurit biasa.. akan tetapi.. mereka adalah sebuah unit khusus yang sengaja dibuat oleh Mathanadeva untuk melawan siluman bahkan mereka juga mendapatkan pelatihan khusus serta mengenakan pakaian perang yang dibuat khusus secara kualitas jika dibandingkan dengan pakaian perang yang digunakan oleh prajurit kerajaan Gurjara pada umumnya.


Datangnya pasukan Gurjara membuat Chen Khu bisa fokus untuk menghadapi Agra sedangkan prajurit serta pendekar Gurjara melawan siluman - siluman lain yang jumlahnya sudah tidak mencapai seratus ekor, sedangkan Mathanadeva dan dua belas orang pendekar lainnya masih terus mencari sumber lemparan pisau yang tadi mengincarnya.. rimbunnya pepohonan berpadu dengan gelapnya malam membuat mereka hanya bisa memasang sikap waspada menunggu datangnya serangan berikutnya.


Aahana bergerak lincah menghadapi siluman - siluman yang tersisa..meskipun hanya menggunakan pisau besar yang dimilikinya,dan jumlah yang lebih banyak membuat pasukan Gurjara dengan mudah dapat mengalahkan gerombolan siluman harimau putih dengan cepat.


"AGRAAAA...!!! "


Tiba - tiba terdengar teriakan dari rimbunnya dedaunan, saat Chen Khu berhasil memenggal kepala pimpinan harimau putih.. bayangan hitam terlihat berkelebat melayang keluar dari kegelapan.


"Dasar bodoh..!! perasaannya membunuh akalnya.. " ucap pria yang mengenakan topeng merah..


Kurasing keluar dari persembunyiannya dan dengan cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh dia melompat menuju mayat siluman kesayangannya.. dengan mata berkaca - kaca dia memeluk harimau itu.


"Aku akan membalaskan kematianmu Agra.. " ucapnya lalu dengan mata menyala dia berdiri dan menghunuskan pedang pada Chen Khu yang sudah bersiap menghadapinya.


"Bagaimana ini ketua..?? apa kita akan membiarkan Kurasing sendiri..?? " bisik salah seorang pria bertopeng biru.


"Kita harus segera pergi dari sini.. atau... " pria bertopeng merah belum menyelesaikan ucapannya.. tapi ratusan anak panah melesat menuju tempat mereka bersembunyi..


"SRAAAKK. " sebuah anak penah mengenai lengan salah seorang pria bertopeng biru.. gelapnya malam ditambah dengan banyaknya anak panah membuat mereka susah untuk menghindar..

__ADS_1


"Kita harus meninggalkan tempat ini " ujar pria bertopeng merah lalu menarik anak buahnya yang terkena anak panah dan melesat masuk kedalam hutan yang gelap gulita diikuti oleh dua orang anak buahnya.


"sekarang aku akan membuat perhitungan denganmu karna telah membunuh Agra..!! ucap Kurasing dengan nada tinggi dan pedang yang diacungkan pada Chen Khu yang hanya terdiam sebab dia tidak tau apa yang diucapkan oleh pria bertopeng dihadapannya.


Kurasing yang hanya berjarak lebih kurang sepuluh meter dihadapan Chen Khu bergerak cepat menerjang Chen Khu dengan pedangnya.. tapi hanya dengan sebuah gerakan menghindar kesamping dan sebuah sekali sabetan pedang..


"AAAARRRGGHH..!! "


tubuh dan pedang Kurasing terbagi menjadi dua bagian. jeritannya yang keras masih sempat terdengar oleh rekan - rekannya yang sudah kabur menjauh.


Mathanadeva mendekati Chen Khu, sebab baru kali ini dia menyaksikan kemampaun seseorang yang mampu mengalahkan lebih dari seratus ekor siluman seorang diri.


"Chen Khu..! " sapa Mathanadeva pada Chen Khu yang sedang membersihkan noda darah pada pedangnya


"iya yang mulia.. " jawab Chen Khu sambil memberi hormat.


"Aku mempunyai pertanyaan untukmu Chen Khu. tapi mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.. " ujar Mathanadeva kembali.


"Aku akan menjawab pertanyaan dari anda yang mulia kapanpun yang mulia inginkan " jawab Chen Khu sambil memeriksa pedangnya apakah masih ada noda darah yang tersisa.


Seluruh pasukan yang dibawa oleh Mathanadeva baik prajurit atau pendekar bahkan putrinya sendiri dibuat terkagum - kagum akan kemampuan yang diperlihatkan oleh Chen Khu, bahkan bagi mereka Chen Khu yang belum lama siuman melakukan sebuah hal yang sangat luar biasa karena siluman yang mereka hadapi baru saja terdapat seekor siluman ribuan tahun yang jika Chen Khu tidak ada, pasti mereka akan kesulitan untuk membunuhnya.


Walikota dan pengawalnya serta penduduk yang semula ikut melawan para siluman keluar dari benteng dan menyambut kedatangan Maharaja Mathanadeva dan seluruh pasukannya.


"Kumpulkan mayat - mayat siluman itu di satu tempat lalu bakar.. " Perintah Virendra.. walikota Chennai memerintahkan pengawal dan penduduk kota Chennai.


"Mari yang mulia.. dan tuan putri..silahkan beristirahat di dalam " ucap Virendra lagi setelah memberi hormat pada Mathanadewa dan Aahana.


Chen Khu merasa aneh ketika melihat mayat - mayat siluman hanya ditumpuk begitu saja diatas kayu bakar yang sudah disiapkan oleh penduduk Chennai..Chen Khu merasa jika mayat - mayat siluman itu akan dibakar begitu saja.. lalu dia memanggil Shiva untuk menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Shiva.. apakah mayat siluman - siluman itu akan dibakar begitu saja..? " tanya Chen Khu sambil mengeryitkan keningnya..


"Iya tuan.. sudah menjadi kebiasaan kami di sini untuk membakar jasad mereka..memangnya kenapa tuan..? " jawwb Shiva yang disusul dengan pertanyaan pada Chen Khu.


"Mmmm... apakah kalian tidak mengambil mustika milik siluman - siluman itu..? " tanya Chen Khu kembali.


"Mustika..?? maksud tuan.. batu permata..?"


"Iyaa.. mustika itu memang sejenis batu permata.. hanya saja.. mustika memiliki khasiat tersendiri jika kita bisa memanfaatkannya.. " jawab Chen Khu..


"TUNGGU...!! " Teriak Shiva pada seorang pria yang memegang obor dan bersiap untuk menyalakan tumpukan kayu bakar yang diatasnya terdapat ratusan siluman itu lalu dengan cepat berjalan ke arah pria itu...dan terikan keras dari Shiva membuat Virendra dan Mathanadeva menghentikan langkah dan menoleh ke belakang melihat apa yang terjadi.


"Ada apa tuan..?? " tanya pria tersebut.


"Sebentar.. ada hal yang perlu kami lakukan.. " jawab Shiva lalu berjalan kembali pada Chen Khu.


" Tuan.. jika tuan menginginkan mustika dari siluman - siluman itu " ujar Shiva pada Chen Khu.


Tanpa menjawab Shiva.. Chen Khu langsung melompat menuju tumpukan mayat siluman - siluman itu lalu mengiris dalam pada bagian pinggang dari siluman - siluman itu dan mengumpulkan mustika - mustika tersebut satu persatu lalu melompat kembali ke samping Shiva yang terus mengamatinya tanpa berkedip.


"Sudah Shiva.. silahkan lanjutkan.. " ujar Chen Khu yang memegang sebuah buntalan dari kain hitam yang disobeknya dari pakaian pria bertopeng biru yang tewas saat menghadapinya. Shiva lalu memberi tanda pada pria yang memegang obor tadi untuk melanjutkan tugasnya membakar mayat - mayat siluman tersebut.


"Apa yang kamu lakukan tadi Chen Khu..? " tanya Mathanadewa yang berjalan mendekati Shiva dan Chen Khu..


"Kalian memiliki sangat banyak sumberdaya untuk membantu meningkatkan kemampuan seorang pendekar " jawab Chen Khu sambil memperlihatkan ratusan mustika yang baru saja diambilnya..


"Maksudnya..?? " tanya Mathanadewa masih tidak memgerti akan ucapan Chen Khu dan mustika - mustika yang diperlihatkannya.


"Nanti saja aku jelaskan yang mulia.. karena jamuan walikota dan para penduduknya pasti sedang menunggu kita.. Hahahaha.. " ujar Chen Khu sambil tertawa dan diiringi tawa oleh Mathanadewa yang sambil menggeleng - gelengkan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2