
Tiga bulan berlalu dan Hari yang dinantikan akhirnya datang juga. Mathanadeva yang menerima akan adanya laporan tentang gangguan siluman segera memerintahkan Shiva untuk memanggil Chen Khu secepatnya, serta memerintahkan Khan untuk membawa pasukan lebih sedikit dari biasanya.
Jika biasanya Mathanadeva selalu membawa tiga ratus sampai lima ratus orang prajurit ditambah dengan puluhan orang pendekar.. maka kali ini Mathanadeva memerintahkan pada Khan untuk membawa seratus orang prajurit saja, sedangkan para pendekar diperintahkan untuk menjaga istana.
Hal ini tentu saja membuat kedua orang tersebut keheranan, belum lagi ekspresi Mathanadeva yang terlihat sangat senang saat menerima laporan tentang adanya gangguan siluman..tapi kedua orang itu tentu saja tidak berani untuk bertanya pada Mathanadeva dan langsung melaksanakan perintah sang raja tersebut.
Keheranan Shiva terus berlanjut saat dirinya menemui Chen Khu dan memberitahukan jika Mathanadeva memerintahkan untuk memanggil sebab ada siluman yang sedang membuat kekacauan. Chen Khu yang mendengar hal tersebut terlihat sangat senang dan tampak tergesa - gesa mempersiapkan dirinya sebelum keduanya menemui Mathanadeva..
Sama halnya dengan prajurit - prajurit yang dibawa oleh Khan yang jumlahnya hanya seratus orang.. meskipun Khan memilih prajurit yang terbaik,tapi perintah Mathanadeva menimbulkan pertanyaan dalam benak mereka, dan saat menunggu Mathanadeva keluar dari istananya prajurit - prajurit itu saling berbisik satu sama lain pada sebuah tanah lapang di depan istana Mathanadeva.
"Kenapa yang mulia hanya membawa sedikit pasukan..? "
"Apa yang mulia akan menjadikan kita sebagai kelinci percobaan dengan kemampuan baru yang dimilikinya..? "
"Apakah istana sedang mendapatkan ancaman dari pihak lain sehingga prajurit yang diutus untuk melawan siluman hanya seratus orang..? "
Demikian pertanyaan - pertanyaan yang muncul dari setiap prajurit - prajurit yang dikumpulkan oleh Khan dan suasana seketika menjadi hening saat Mathanadeva keluar dari kediamannya dan tidak lama kemudian Chen Khu bersama Shiva juga sampai di tanah lapang tersebut.
"Prajuritku sekalian.. kalian pasti merasa ada sesuatu yang aneh dengan perintahku hari ini, dan itu sangat wajar sebab ini tidak seperti biasanya.. " Mathanadeva yang sudah berpakain perang lengkap memulia pidatonya.
"Jika sebelumnya kalian berangkat dengan jumlah besar dan dipimpin oleh Khan dan Chen Khu tapi kali ini berbeda.. "
"Kali ini aku sendiri yang akan kembali memimpin kalian setelah beberapa bulan kalian tidak bersamaku.. "Kalimat Mathanadeva itu disambut riuh oleh pasukannya dengan meneriakkan namanya serta mengacungkan senjata yang mereka bawa.
"HIDUP MATHANADEVA... HIDUP MATHANADEVA.. !!" Teriak prajurit - prajurit itu yang memang sudah cukup lama tidak berjuang bersama sang raja yang sedang giat berlatih.
Suasana kembali hening saat Mathanadeva mengangkat tangannya lalu dia melanjutkan.
__ADS_1
"Hari ini.. Aku bersama Chen Khu akan bersama kalian.. sedangkan Khan akan tetap tinggal di istana.." pernyataan Mathanadeva kali ini sangat mengejutkan prajuritnya.. sebab Khan selama ini tidak pernah sekalipun absen untuk bersama mereka, dan suasana menjadi riuh karena para prajurit saling bertanya satu sama lain, sama halnya dengan Khan yang juga sangat terkejut mendengar ucapan Mathanadeva tersebut dan dengan segera dia berlutut dihadapan Mathanadava dan menanyakan hal tersebut.
"Mohon maaf yang sebesar - besarnya yang mulia.. kenapa saya tidak ikut bersama rombongan..? apakah yang mulia tidak mempercayai saya untuk memimpin mereka..? " tanya Khan dengan posisi terus berlutut.
Mathanadeva yang mendengar hal tersebut langsung menghampiri Khan dan memegang kedua lengannya untuk membantunya berdiri.
"Khan.. aku sangat percaya padamu.. makanya aku memberimu tugas untuk menjaga istana dan putriku selama kami pergi.. aku tidak menemukan orang yang tepat untuk tugas itu selain dirimu.. " ucap Mathanadeva dengan pelan berusaha meyakinkan panglima yang sudah lama bersamanya itu.
"Tapi yang mulia...? "
"Sudahlah Khan.. yakinlah jika kami akan baik - baik saja, dan aku minta padamu sebagai sahabat yang sudah lama bersamaku agar kamu bersedia menerima tugas untuk menjaga istana.. " ujar Mathanadeva yang membuat Khan terdiam dan kembali berlutut.
"Maaf telah meragukan keputusanmu yang mulia.. " ujar Khan dalam posisi berlutut.
"Berdirilah.. jangan terus seperti itu.. kami memiliki misi lain sehingga aku membuat keputusan seperti ini.. dan percayalah padaku semua akan baik - baik saja, tapi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saya harap kamu tetap setia pada rakyat Gurjara.. "
Kata - kata Mathanadeva membuat Khan terharu dan dengan berat hati dia terpaksa menerima perintah Mathanadeva meskipun dalam hati kecilnya dia sangat ingin untuk terus mendampingi setiap perjuangan Mathanadeva.
"Yang mulia.. sudah saatnya aku menyerahkan pedang ini.. " ujar Chen Khu sambil menyerahkan pedang halilintar lengkap dengan sarungnya pada Mathanadeva.
"Chen Khu...?? "Mathanadeva seolah tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Chen Khu yang dengan mudah menyerahkan pedang pusaka tersebut padanya.
"Guruku.. Lee Han mengatakan.. pedang ini akan lebih baik jika anda yang menggunakannya.. dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikannya pada anda yang mulia.. "
Dengan tangan bergetar, Mathanadeva menerima Pedang Halilintar yang sudah cukup lama menjadi andalan Chen Khu dalam setiap pertempurannya.
Mathanadeva mencabut pedang tersebut dari sarungnya lalu memperhatikan seluruh bagian pedang tersebut dengan seksama dan sesekali mengayunkannya.
__ADS_1
"Yang mulia.. dengan pedang ini.. anda tidak perlu takut pedang yang anda gunakan retak atau patah saat tenaga dalam yang anda salurkan melalui pedang terlalu banyak.. " ujar Chen Khu dengan senyum menyungging.
"Baiklah Chen Khu.. aku harap.. penilaian gurumu tentangku tidak akan pernah salah, dan semoga aku bisa menggunakan serta menjaga pedang ini dengan baik.. " jawab Mathanadeva lalu menyarungkan kembali pedang halilintar dan menyandang pedang tersebut di pinggangnya.
Mathanadeva kemudian memeluk Chen Khu sebagai ucapan terima kasihnya lalu keduanya keluar dari dalam istana dan sesaat kemudian pasukan yang dipimpin langsung oleh Mathanadeva tersebut mulai meninggalkan istana dan bersamaan dengan itu Aahana keluar untuk menemui Khan.
"Paman Khan.. apa yang dikatakan ayahanda padamu..? "
"Yang mulia memintaku untuk berjaga di istana tuan putri.. "
"Hmm.. apa yang sedang mereka rencanakan.. ??"
"Maksud tuan putri..? "
"Aku juga kurang tau persis, tapi sepertinya ayahanda dan kakak Chen Khu mempunyai rencana tersendiri dan ayahanda tidak pernah mengatakannya padaku, bahkan aku dilarang untuk ikut bersama mereka.. "
"Saya juga bingung tuan putri.. tapi saya yakin jika yang mulia pasti membuat keputusan yang tepat, dan kita doakan agar mereka kembali dengan selamat.. "
"Selama kakak Chen bersamanya aku yakin ayahanda pasti baik - baik saja " ucap Aahana lalu kembali kedalam istana dan diikuti oleh Khan yang seperti masih belum bisa menerima keputusan Mathanadeva.
"oh.. iya paman.. apa paman melihat pedang yang dibawa oleh ayahanda..? " tanya Aahana sambil berjalan menaiki tangga menuju kedalam istana.
"Iya tuan putri.. sepertinya itu pedang yang biasa digunakan oleh tuan Chen Khu.. " jawab Khan yang masih memiliki banyak pertanyaan yang tersimpan dalam kepalanya.
***
Rombongan Mathanadeva bergerak ke arah utara menuju kota Nalagarh yang berjarak dua hari perjalanan dengan berkuda. Pasukan yang dibawa oleh Mathanadeva bergerak seolah tidak mengenal lelah dan terus berkuda sehari semalam tanpa henti sampai akhirnya Mathanadeva memerintahkan rombongan tersebut berhenti saat sampai di tepi sungai besar yang cukup lebar dan harus mereka seberangi untuk sampai di kota Nalagarh.
__ADS_1
Selagi pasukannya menyiapkan rakit untuk menyeberangkan kuda - kuda tunggangan mereka sebab rakit - rakit yang digunakan oleh penduduk setempat atau para saudagar yang melewati sungai tersebut tidak cukup banyak untuk menyeberangkan pasukan Mathanadeva sekaligus, Mathanadeva meminta Chen Khu untuk lebih dulu menuju kota Nalagarh. Mathanadeva tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali dimana banyak penduduk menjadi korban karena pasukannya terlambat sampai.
Chen Khu yang mendapat perintah tersebut langsung terbang ke udara dengan membawa Shiva untuk ikut bersamanya.