Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#127. Hua Tuo


__ADS_3

" Hormat yang mulia Mathanadeva..!! " ujar enam orang prajurit kerajaan Andhara.


" Ada apa tuan - tuan kemari..? " ujar Mathanadeva setelah membalas hormat keenam prajurit tersebut.


" Mohon maaf yang mulia.. kami melihat asap tebal mengepul dari hutan ini... " ujar pimpinan prajurit tersebut, lalu menceritakan semua dari awal perihal hutan larangan serta desas - desus akan munculnya siluman setelah munculnya asap tebal dari hutan larangan tersebut.


Mathanadeva tertawa mendengar cerita tentang asal muasal pemberian nama hutan larangan, lalu kemudian Mathanadeva juga menceritakan bagaimana mereka bisa menyerang tempat itu.


Chen Khu yang menjadi pendamping Mathanadeva juga memperlihatkan beberapa kendi - kendi yang diambilnya sebelum membakar bangunan tempat menyimpan kendi - kendi tersebut.


Mata keenam prajurit Andhara terbelak saat Chen Khu mengeluarkan sepuluh buah kendi yang berukuran agak besar dengan tinggi seukuran lutut orang dewasa dari dalam jubahnya..seolah ada dimensi lain dalam jubah Chen Khu yang bisa menyimpan kendi - kendi tersebut.


"Maafkan kesalah pahaman kami yang mulia.. karena tadi kami sempat berpikir jika Gurjara berniat menyerang kami.. "ujar pimpinan prajurit itu sambil tersenyum dan menggaruk - garuk kepalanya.


"Hahahaha... menyerang Andhara..?? Satavahana adalah sahabat baikku.. Setelah seluruh prajuritku selesai berkemas.. kami akan segera meninggalkan tempat ini dan tolong sampaikan permohonan maafku karena kami telah melintas batas tanpa meminta izin terlebih dulu.. " ujar Mathanadeva.


" Kami juga mohon pamit yang mulia.. " ujar pimpinan prajurit tersebut seraya memberi hormat lalu membalikkan badan dan mengajak kelima orang anak buahnya untuk kembali dan melaporkan temuan mereka pada Vijay.


"Untung saja jumlah mereka sangat banyak sehingga kita tidak gegabah untuk berbuat hal yang menyinggung mereka.. " ujar salah seorang prajurit setelah berjalan cukup jauh dari perkemahan prajurit Gurjara.


"Iya.. aku juga bisa merasakan jika orang yang mendampingi maharaja Mathanadeva tadi memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, bahkan aku tidak tau seberap besar kekuatan yang dimilikinya.. " ujar pimpinan mereka sambil mengelus lengannya yang bulu kuduknya berdiri mengingat saat bertatapan langsung dengan Chen Khu.


"Iya komandan.. aku bahkan lebih takut jika pemuda itu memasukkan kita dalam jubahnya.. " ujar prajurit lainnya yang disambut gelak tawa oleh rekan - rekannya.


"Kenapa kalian tertawa..?? aku serius.. kalian lihat sendirikan saat dia mengeluarkan kendi - kendi itu..? " ucap prajurit itu kembali kali ini dengan wajah serius.


Keempat rekannya serta pimpinannya langsung terdiam saat mengingat Chen Khu mengeluarkan kendi - kendi yang berukuran agak besar.

__ADS_1


"Sudahlah.. yang pasti.. tidak ada masalah di hutan ini.. maharaja Mathanadeva pun sudah meminta maaf karena tidak sengaja melintasi batas.. aku juga tidak ingin berurusan dengan mereka.. " ujar pimpinan prajurit itu, kemudian mengeluarkan siulan yang cukup keras untuk memberi tanda pada prajurit lain yang sedang bersembunyi untuk keluar.


"Kita pulang..!! " perintah pimpinan prajurit itu dan berjalan paling depan kembali ke desa tempat kuda - kuda mereka tertambat.


***


Matahari sudah mulai meninggi dan panasnya mulai terasa saat seluruh prajurit Gurjara selesai makan telah bersiap untuk kembali dan dengan sebuah aba - aba.. Mathanadeva bergerak lebih dulu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh dan diikuti oleh seluruh pasukannya kembali ke kota Nalagarh.


Saat rombongan Mathanadeva telah mencapai batas hutan.. terlihat Kumar yang dikawal oleh beberapa orang prajurit, duduk di tandu sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang kembali yang mulia.. " ujar Kumar sambil membungkuk memberi hormat.


"Hmm.. kamu sudah lebih baik rupanya..tapi sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri dulu.. " ucap Mathanadeva melihat Kumar meringis menahan sakit saat memberi hormat padanya.


Kumar tersenyum melihat kebaikan rajanya meskipun dalam hati masih tersimpan rasa was - was akan ucapan Mathanadeva sebelum meninggalkan kota Nalagarh.


Pikiran Kumar menjadi semakin kacau saat Mathanadeva mengajaknya untuk kembali ke kediamannya setelah memerintahkan sebagian besar prajuritnya untuk kembali ke ibukota.


Empat ratus orang prajurit adalah sebuah angka yang sangat besar untuk kota kecil seperti Nalagarh, dan dengan adanya mereka, Kumar yang menjadi walikota harus menyiapkan tempat tinggal serta menyiapkan konsumsi untuk keseluruhan prajurit selama mereka berada di kota Nalagarh.


"Aku mengerti kegelisahanmu Kumar.. " ujar Mathanadeva sambil memberikan dua kantong koin emas setelah sampai di kediaman walikota dan berbicara empat mata dengan Kumar di ruang kerja walikota itu.


Kumar tertunduk lesu saat menerima pemberian Mathanadeva tersebut, karena merasa malu jika rajanya sendiri yang menanggung segala biaya prajurit yang sementara waktu akan menjaga kota yang dipimpinnya.


"Oh iya.. satu hal lagi.. " ujar Mathanadeva tiba - tiba dan membuat jantung Kumar berdetak sangat kencang karena sepertinya dia sudah tau apa yang akan dibicarakan oleh rajanya tersebut.


"Aku tidak ingin mendengar ada prajuritku yang mengeluhkan pelayanan darimu.. dan... " Mathanadeva mengehentikan ucapannya sejenak membuat Kumar semakin tidak tenang, tapi tetap diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Aku juga tidak mau mendengar jika ada pendudukmu yang harus bersusah payah untuk bisa menemuimu.. atau kamu akan berakhir di tiang gantungan..!! " ujar Mathanadeva dengan nada sedikit ditinggikan untuk menegaskan jika dia tidak bermain - main dengan ucapannya.


" Baik yang mulia.. saya tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.. " jawab Kumar dengan suara sedikit bergetar.. dan dalam hati dia merasa sangat bersyukur karena Mathanadeva hanya memperingatkannya saja dan tidak memberinya hukuman.


Mathanadeva tersenyum mendengar jawaban Kumar lalu berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut diiringi tarikan nafas lega dari sang walikota merasakan tekanan sepanjang pertemuan empat mata itu.


Mathanadeva berjalan ke sebuah ruangan yang disiapkan khusus bagi Chen Khu untuk memulihkan tenaga dalamnya.


"Hormat yang mulia..!! " ucap pengawal yang berjaga di dekat ruangan tersebut.


"Apa Chen Khu masih di dalam..?? "


"Masih yang mulia..dan dia berpesan agar tidak seorangpun yang masuk sebelum dia sendiri yang keluar dari ruangan ini.. " jawab pengawal itu sambil menundukkan kepala karena takut jawabannya akan menyinggung perasaan sang raja.


"Tapi... " ujar pengawal tersebut ingin melanjutkan tapi Mathanadeva memberinya tanda untuk tidak melanjutkan.


" Aku mengerti.. aku akan keluar berjalan - jalan sebentar.. " ujar Mathanadeva lalu pergi meninggalkan pengawal tersebut.


Kepergian Mathanadeva tentu saja meninggalkan tanda tanya besar dalam benak pengawal yang berada di dekat ruangan yang digunakan oleh Chen Khu.. tentang seberapa besar pengaruh pemuda itu hingga Mathanadeva pun tidak memaksakan diri untuk menemuinya ketika dia tidak ingin ditemui oleh siapapun.


***


Chen Khu yang sedang bermeditasi untuk memulihkan tenaga dalamnya, kemudian mengeluarkan pedang naga langit beserta sarungnya dan meletakkannya di hadapannya, tapi Chen Khu mengeryitkan dahi karena tidak terjadi apapun dan dia tidak mendengar bisikan apapun dalam kepalanya meskipun dia telah memusatkan pikiran untuk berbicara dengan pemilik suara yang semakin sering berbicara dalam pikirannya beberapa hari belakangan ini.


Chen Khu lalu mencabut pedang tersebut dan akhirnya suara bisikan kembali terdengar di kepalanya.


"Ada apa..?? sepertinya kamu ingin bicara denganku ya..? " suara yang dinantikan Chen Khu akhirnya terdengar.

__ADS_1


"Kamu siapa..?? dan kenapa kamk bisa berbicara dalam pikiranku saat aku mengenggam pedang ini..?? "


"Hahaha.. aku..?? namaku Hua Tuo.. roh yang besemayam dalam pedang ini.


__ADS_2