
"Bagaimana persiapan para pemberontak? apakah mereka sudah sisi untuk menyerang?" Di depan salah satu prajurit yang tergabung dalam barisan pemberontak, Arya Bayu berkata.
"Mereka sepertinya belum memiliki tanda-tanda untuk memulai penyerangan. Senjata yang akan mereka gunakan belum merata," jawabnya.
"Pantau terus, kalau ada laporan beritahu aku, jangan sampai ada ada yang tahu kalau kamu adalah mata-mataku!" kata Arya Bayu.
"Baik tuan."
Kalau begitu, kamu boleh pergi," katanya lagi. Dia merasa puas dengan kinerja anak buahnya itu.
Dia memiliki rencana tersendiri terhadap Prabakerta. Menurutnya, cara tercepat untuk membuat rencananya berhasil adalah dengan mengambil keuntungan dari para pemberontak. Dengan begitu ia akan bisa membuat Prabakerta tunduk kepadanya tanpa harus banyak usaha.
Dia sebenarnya memiliki anak buah yang tersebar di dalam pasukan pemberontak dan juga pasukan istana. Dengan cara itu ia bisa mengadu domba keduanya. Ibarat pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Itulah yang diinginkan olehnya.
__ADS_1
***
Udara sangat dingin diluar. Dewi Ratih yang tidak bisa memejamkan matanya menantang hawa dingin yang terus saja bertambah. Ia melihat bulan yang malam ini terlihat begitu besar. Pemandangan yang amat indah dengan taburan bintang di sana.
Perumahan penduduk disekitarnya terlihat ada beberapa yang hancur seperti terbakar. Ada juga yang sudah tidak berpenghuni. Sepertinya hanya sebagian kecil saja warga disini yang masih bertahan. Kebanyakan mereka sudah pergi ke negeri lain yang dirasa cukup aman untuk mereka tinggali.
Entah mengapa rasanya ia jadi ingat kampung halamannya yang sudah sangat lama ia tinggalkan. Rasanya rindu sekali dengan keadaan di sana, namun ia pernah bersumpah untuk menjadi seseorang yang kuat saat kembali. Bagaimanapun juga ia ingin mengembalikan negerinya agar tidak terjajah.
Waktu terakhir kali ia pergi, walaupun masih kecil dengan tekad yang kuat ia menyatakan untuk kembali dan mengusir penjajah suatu saat nanti . Waktu itu keadaan negerinya tidak jauh berbeda dengan apa yang berada didepannya itu . Bahkan terkadang ia melihat mayat-mayat di sekitar jalanan . Sungguh pemandangan yang benar-benar mengerikan saat itu.
Ia tahu, tujuan dari perjalanan kali ini adalah bukit Kinasih untuk menyempurnakan ilmunya. Hanya saja mencari pengalaman dalam perjalanan itu bukan sesuatu yang buruk. Lagipula dengan begitu ia tahu seberapa jauh dirinya telah berkembang sejak hari itu.
***
__ADS_1
"Mohon ampun pangeran, kalau boleh saya ingin bergabung dengan pasukan yang pangeran pimpin ini," sambil menyembah sang pangeran, Wira yang sudah sampai di tempat tujuannya berkata begitu.
"Bergabung? Aku tidak keberatan, cuma apakah kamu siap menerima resikonya? Kamu mungkin bisa mati di dalam pertarungan," dengan suara yang lembut ia meminta agar Wira memikirkan kembali ucapannya.
"Apapun itu hamba siap. Bahkan jika nyawa hamba sendiri sebagai taruhannya."
"Berarti kamu sudah siap untuk mati ya? apa alasanmu mau bergabung?"
"Hamba melihat sendiri bagaimana pasukan istana bertindak semena-mena terhadap para penduduk. Hamba sudah tak tahan lagi melihatnya. Hamba rasa, hamba tidak bisa jika harus melawannya sendirian."
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Mereka yang mendorong hamba untuk ikut bersama Gusti pangeran."
__ADS_1
"Aku akan memberikan keputusan esok hari atau mungkin lusa. Kamu harus lolos ujian untuk bisa bergabung. Sekarang kamu bisa beristirahat. Kita bertemu besok pagi."