Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#180. Desa Shinla


__ADS_3

Hari menjelang senja saat dua orang berkuda sampai di sebuah desa kecil. Meskipun tergolong desa kecil namun desa Shinla yang terletak di jalur utama perdagangan kekaisaran Han ini terlihat cukup ramai oleh orang yang berlalu - lalang.


"Kolonel Lin.. ini saatnya memulai untuk menghabiskan uang itu.. " ucap Chen Khu pelan saat kuda mereka mulai berjalan pelan di jalan desa tersebut yang berdebu.


"Maksud anda tuan..? " bakas Lin Dan sambil menggaruk kepalanya.


"Kita akan mulai membelanjakan uang itu.. kita perlu menyewa penginapan, membeli makanan, dan kamu harus membeli pakaian baru karena pakaian yang kamu kenakan menarik perhatian orang banyak.. " ucap Chen Khu berbisik sambil memperlihatkan beberapa orang yang memperhatikan mereka.


Lin Dan memperhatikan pakaiannya dan baru menyadari jika seharusnya dia mengenakan pakaian yang sedikit lusuh agar tidak menarik perhatian orang banyak.


"Tidak perlu salah tingkah seperti itu.. kita hanya perlu mencari penginapan lalu ke pasar sebelum malam tiba.. " ujar Chen Khu kembali melihat Lin Dan yang seperti salah tingkah.


Jendral Guan memang memerintahkan mereka untuk menyamar dalam misi kali ini, karena selain mencari tau lokasi perkemahan sekte pembunuh iblis.. mereka juga harus mengumpulkan informasi seberapa kuat kekuatan mereka agar nantinya jendral Guan bisa membuat strategi untuk mengalahkan mereka.


Chen Khu dan Lin Dan sedikit kesulitan mencari penginapan sebab sebagian besar penginapan sudah terisi penuh oleh pedagang - pedangan atau pendekar petualang yang melewati desa ini.


Butuh beberapa waktu hingga akhirnya keduanya mendapatkan sebuah penginapan sederhana, tapi juga menyediakan restoran di lantai dasar.


Setelah menambatkan kuda pada tempat khusus yang memang tersedia pada setiap penginapan, Chen Khu dan Lin Dan berjalan memasuki penginapan tersebut.. rupanya pengunjung restoran yang berada di lantai dasar sudah cukup ramai. Puluhan orang yang sedang duduk menikmati hidangan sejenak menghentikan aktivitas mereka saat kedua orang itu terlihat menuju meja resepsionis untuk memesan kamar.


Tentu saja.. pandangan mereka sejenak tertuju pada Lin Dan yang penampilannya terbilang mencolok..sebelum melanjutkan kembali aktivitas mereka masing - masing. Dengan pakaian yang terbilang mewah untuk kalangan pendekar.. dua buah pedang yang tersandang di tubuhnya juga ikut menyita perhatian..Chen Khu berusaha menyembunyikan senyumnya saat melihat Lin Dan seperti salah tingkah dengan pakaian yang dikenakannya.


"Selamat datang di penginapan kami tuan.. ada yang bisa kami bantu.? " sapa seorang gadis muda yang duduk di meja resepsionis.. meski setelah menyapa..gadis itu menundukkan kepala namun sesekali gadis itu melirik Lin Dan yang selain berpakaian mewah juga memiliki paras yang cukup menawan.


"Ehm...!! Nona..apa masih ada kamar kosong untuk kami berdua?! " ucap Chen Khu mengejutkan gadis itu yang sedang mencuri pandang pada Lin Dan.


"Mm.. masih tuan..!kami masih punya kamar yang cukup luas untuk tuan berdua.. hanya saja harganya lebih mahal.. " jawab gadis itu sedikit gugup.


"Harga bukan masalah untuk kami, kawanku ini siap membayar berapapun harganya.. yang terpenting ada tempat untuk kami beristirahat dan membersihkan badan..! " jawab Chen Khu sambil menepuk pundak Lin Dan.. dan hal itu semakin membuat Lin Dan semakin salah tingkah..


"Dua koin perak untuk satu malam tuan..dan itu belum termasuk makanannya.. " balas gadis itu.


"Chen Khu menoleh pada Lin Dan..lalu Lin Dan merogoh kantong yang disimpin dalam pakaiannya dan mengeluarkan saru koin emas dan meletakkannya diatas meja.


"Apa itu cukup dengan makan malam kami berdua nona..? " tanya Chen Khu.


"ini lebih dari cukup tuan.." jawab gadis itu lalu membuka laci dan mengeluarkan dua lima perak sebagai kembalian.

__ADS_1


"Ooh.. tidak perlu nona.. simpan saja kembaliannya sebagai tip.. aku rasa.. kawanku tidak akan keberatan dengan hal itu.. " balas Chen Khu


"Bagaimana saudara Lin..? "


"Oh.. iya.. simpan saja kembaliannya..!!" jawab Lin Dan yang sejak tadi hanya terdiam.


"Terimakasih tuan.. mari aku antar ke kamar.. " ucap gadis itu sumringah. dugaannya benar.. jika pendekar berpakaian mewah yang membawa dua buah pedang itu bukannlah pendekar sembarang dan pasti dari kalangan bangsawan.. namun gadis itu tidak menyangka jika pendekar itu akan memberikan lima koin perak begitu saja sebagai uang tip.


"Terimakasih nona.." ujar Chen Khu setelah sang gadis membukakan pinta lalu setelah itu merapikan kamar sebelum mempersilahkan Chen Khu dan Lin Dan masuk.


"Sama - sama tuan.."


"untuk makanannya apa diantar ke sini atau tuan sendiri yang turun ke restoran..?sambung gadis itu.


"Biar kami sendiri yang ke bawah nona.. " jawab Chen Khu singkat, sedangkan Lin Dan memilih membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Oh ya nona.. kalau boleh tau.. nama anda..? " sambung Chen Khu sambil melirik pada Lin Dan dengan ujung matanya.


"Yin Hua.. panggil saja aku nona Hua. . " jawab gadis itu sambil tertunduk malu sebab sempat mendapati ujung mata Chen Khu yang melirik Lin Dan sebelum tersenyum penuh makna padanya.


"maaf tuan.. kalau sudah tidak ada lagi yang dibutuhkan.. saya mohon diri.. " ucap Yin Hua sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah, sedangkan Chen Khu hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu melangkahkan kakinya memasuki kamar.


"Ada apa Kolonel Lin.. ?sepertinya kamu tidak terbiasa bertemu wanita ya..? " ujar Chen Khu setelah menutup pintu kamar.


"Bukan begitu tuan Chen.. tapi aku harus tetap fokus dengan tugas yang diberikan. " jawab Lin Dan sambil memainkan pedang dewa angin sambil menatap bangga pada pedang itu.


"Hahaha.. Fokus..?? "


"Kolonel Lin.. salah satu tugas kita adalah mengumpulkan informasi.. "


"Dan jika sikapmu kaku seperti tadi.. kamu pasti kesulitan mengumpulkan informasi..karena informasi itu bisa datang dari mana saja dan siapa saja.. jadi kita harus membiasakan diri untuk berbaur dengan orang - orang disekitar kita.. " ujar Chen Khu.


"Tapi tuan..?! " ucapan Lin Dan seolah tertahan sebab dalam hati dia membenarkan ucapan Chen Khu.


"Sudahlah.. aku memahami posisimu saat ini dan keberadaanmi dalam pasukan angin biru.. "


"Hidup dengan tingkat kedisiplinan tinggi dan tugas - tugas berat yang setiap saat bisa datang kapan saja tentu membentuk watakmu hingga menjadi seperti itu..ditambah kehidupan dalam istana yanb serba kaku dan serba diatur tentu saja berbeda dengan kehidupan diluar istana seperti ini.. " Lin Dan hanya menunduk mendengar ucapan Chen Khu.

__ADS_1


"Dan sepertinya.. ada hal lain yang kamu sembunyikan..seperti kehidupan di masa mungkin?! " ujar Chen Khu melanjutkan sambil mengelus dagunya.


Lin Dan mengangkat kepalanya mendengar ucapan Chen Khu. sorot matanya yang selalu tajam tiba - tiba berubah kosong.. seperti sedang menerawang kembali ke masa lalunya..tapi Lin Dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Kolonel Lin...!! aku salah bicara ya..?? maafkan aku..?! " ujar Chen Khu menyalahkan diri sendiri atas perubahan yang terjadi pada Lin Dan.


"Ah.. tidak tuan.. anda tidak salah.. tebakan anda sangat tepat.. dan aku memang menutup rapat - rapat semua cerita masa kecilku.. " balas Lin Dan sambil menyarungkan pedang dewa angin.. dan sorot matanya juga kembali seperti semula.


"Hmm.. sepertinya kita membutuhkan waktu untuk saling mengenal lebih dekat.. tapi alangkah baiknya kita membeli pakaian untukmu.." ujar Chen Khu pelan.


"Baik tuan.. semoga saja masih ada toko pakaian yang buka.. " balas Lin Dan seraya berdiri.. dan berjalan menuju pintu.


"Eeiit..tunggu kolonel Lin..!kita mau ke mana..? " ucap Chen Khu mengagetkan Lin Dan yang sudah siap menarik gagang pintu.


"Kan katanya tadi mau membeli pakaian..? " balas Lin Dan sambil mengeryitkan dahinya.


"Dengan dua buah pedang seperti itu..? kita mau belanja bukannya mau merampok.. " balas Chen Khu sambil terkekeh.


Lin Dan melepas kedua pedang yang tersandang di tubuhnya.. terbersit keraguan untuk meninggalkan kedua pedang tersebut dalam kamar.


"Lalu..? " ucapnya kemudian.


Chen Khu kemudian meminta kedua pedang tersebut dan dengan sebuah gerakan tangan.. kedua pedang tersebut menghilang dari pandangan Lin Dan.


"Tuan Chen.......!!pedangku...?? "


"Sudahlah.. pedangmu tidak hilang.. aku menyimpannya disini.. "jawab Chen Khu lalu mengeluarkan kembali salah satu pedang Lin Dan dari giok semesta.


Mata Lin Dan dibuat terbelak.. mulutnya tidak bisa menutup sempurna melihat kedua pedangnya menghilang di ruang hampa dan dengan mudah dimunculkan kembali hanya dengan menggerakkan telapak tangan.. matanya terus memperhatikan gelang yang ada di pergelangan tangan Chen Khu.


"Kamu tau kenapa yang mulian dan jendral Guan memanggilku saudara..? " ujat Chen Khu seperti mengerti apa yang menjadi pertanyaan dalam benak Lin Dan.


"Gelang ini...!! namanya giok semesta.. kamu bisa menyimpan apa saja yang tidak bernyawa di dalam gelang ini..dan cukup menyebutkannya dalam pikiran untuk mengeluarkannya kembali.. " ucap Chen Khu melanjutkan.


"aaah.. sudahlah.. hari hampir gelap.. kita lanjutkan setelah makan..! " seloroh Chen Khu lalu membuka pintu dan meninggalkan Lin Dan yang masih mematung.


"Kolonel.. ayoo..!! "

__ADS_1


"Bbb.. baik tuan..! " jawab Lin Dan dan segera menyusul Chen Khu.


__ADS_2