Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
25. Pemberontakan Telah Dimulai (1)


__ADS_3

Matahari baru saja terbit dari barat saat terjadi bentrok antara kedua pasukan di istana. Dengan mempertahankan kehormatan masing-masing, tak ada seorangpun yang mengalah. Semuanya demi tujuan mereka masing-masing.


"Habisi para pemberontak itu! Tunjukkan kepada apa mereka apa yang akan terjadi jika mereka berani terhadap raja!" dari singgasananya, raja yang mendengar laporan mengenai penyerangan itu langsung berkata dengan marah.


"sendiko Dawuhan Baginda," sambil memberi hormat para prajurit yang melapor segera meninggalkan tempat itu dan kemudian bergabung dengan para prajurit yang lainnya untuk menumpas pemberontakan.


Sementara raja masih berada di singgasananya, pertempuran berjalan dengan sangat sengit. Banyak dari mereka yang gugur karena hal ini. Pangeran yang melihatnya sebenarnya sedikit merasa gentar saat melihat pasukannya banyak yang terluka. Namun ia tak ingin pengorbanan mereka yang telah gugur menjadi sia-sia.


***


Arya Bayu mulai bergerak mendekati istana. Ia dan pasukannya menunggu kabar agar bisa menyerang di waktu yang tepat, dengan begitu maka ambisinya untuk menjadi penguasa akan cepat terkabul. Walaupun pasukannya lebih sedikit, namun mereka adalah para pendekar pilih tanding yang kekuatannya tak bisa dianggap remeh.

__ADS_1


"Tuanku, mungkin dia sudah gugur sekarang. Lebih baik kita tidak usah menunggu kabar darinya. Lagipula jika kita menyerang sekarang, kita juga bisa menang," Salah satu dari anak buahnya yang sudah tak sabar menunggu mata-mata yang berada di dalam pertarungan memberi kabar.


"Tidak. Aku tidak mau gegabah. Jika matahari sudah naik setinggi tombak dia belum datang juga, kita baru bergerak. Mengerti?"


"Saya mengerti tuanku. Tapi saya tidak yakin kalau dia akan mengabari kita."


"Aku tahu maksudmu , makanya tadi aku bilang seperti itu tadi. Mau bagaimanapun juga kamu adalah paling mengkhawatirkan diriku sejak kita bertemu. Aku harap tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan nantinya."


***


"Tidak buruk sebenarnya. Aku malah merasa sangat senang bisa bergabung. Aku malah merasakan sebuah kenikmatan disini," jawab Dewi Ratih.

__ADS_1


"Mengapa tak kau buka saja sarung pedangmu?" Giliran Dewi Ratih yang bertanya.


"Aku tidak mau, rasanya bakal mudah sekali jika aku melawan mereka dengan pedang ini . Sesekali aku ingin merasakan kenikmatan seperti ini Sedikit lebih lama ."


"Kalau begitu, mari kita nikmati bersama," jawab Dewi Ratih dengan senyum yang lebar. Mereka berdua kemudian mulai menyerang kembali para prajurit yang terus mendatangi mereka. Walaupun mereka jumlahnya banyak, bagi dua wanita ini mereka hanyalah seperti debu yang tidak berarti.


***


"Ternyata kamu pemimpin dari para pemberontak ini. Kamu masih menyimpan sakit hati karena telah diusir?" dengan tatapan sinis, panglima perang kerajaan itu berkata kepada pangeran yang bersiap untuk menyerangnya.


"Sakit hati? Untuk apa? Aku memberontak karena mereka semua yang telah menyadarkan aku tentang bagaimana menderitanya rakyat. Lagipula dengan begini aku bisa membayar semua dosa-dosa ku kepada mereka," dengan lantang Pangeran berkata .

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu masih memikirkan tentang dosa. Ku pikir kalau kamu mati maka dosanya akan terbayarkan. Selain itu, kamu juga bisa bertemu kembali dengan kakakmu di neraka," masih dengan suara sinis dia berkata.


"Kau yang akan mati!" dengan darah mendidih, Pangeran itu langsung menerjang lawannya. Semua yang ia punya segera ia keluarkan untuk membalas ucapan lawan yang berada di depannya. Pertarungan sengit antara mereka terjadi di dekat pintu menuju ke dalam istana dimana sang prabu berada.


__ADS_2