
Senja mulai menyelimuti bumi dan burung - burung telah kembali ke sarangnya saat Chen Khu keluar dari kamar khusus yang digunakannya untuk memulihkan kekuatannya. Beberapa pengawal yang berjaga di sekitar ruangan tersebut terlihat membungkuk memberi hormat padanya yang di balas dengan anggukan kepala oleh Chen Khu.
Pengawal - pengawal tersebut tentu saja tidak ingin melakukan hal yang bisa menyinggung perasaan Chen Khu walau sekecil apapun, setelah melihat perlakuan Mathanadeva padanya yang tidak memaksakan diri untuk menemuinya ketika Chen Khu mengatakan tidak ingin ditemui oleh siapapun.
Kejadian tersebut tentu saja menjadi sebuah pertanyaan besar yang tersimpan dalam benak pengawal - pengawal itu yang tentu sudah mengetahui struktur pemerintahan kerajaan Gurjara dan seorang panglima sekaliber Khan pun tidak akan berani mengeluarkan pernyataan seperti itu tanpa pengecualian jika Mathanadeva ingin menemuinya.
"Kamu sudah selesai rupanya..! " terdengar suara dari balik pintu yang membuat pengawal - pengawal yang sedang berjaga serempak menoleh dan memberi hormat.
"Hormat pada yang mulia..! " ujar mereka serampak sambil membungkuk memberi hormat.
"Sudah yang mulia.. meskipun kekuatanku belum sepenuhnya pulih.. " jawab Chen Khu.
"Sepertinya tenaga dalammu terlalu banyak terkuras sampai kamu membutuhkan waktu lebih banyak untuk memulihkan diri.. " ujar Mathanadeva kembali sambil mengajak Chen Khu untuk duduk dihadapan sebuah meja yang sudah tersedia teko dan cangkir untuk meminum teh sambil menyaksikan sang surya memasuki peraduannya.
Suasana senja itu terasa sangat tenang bagi Mathanadeva sebab beban yang selama ini dipikulnya yang diakibatkan oleh gangguan siluman selama beberapa tahun belakangan seolah terlepas dari bahunya dengan bantuan seorang pemuda yang dulu pernah ditolongnya yang kini duduk berdampingan dengannya menikmati senja di langit Nalagarh.
"Sebenarnya tidak juga yang mulia.. hanya lebih dari tujuh puluh persen tenaga dalam yang terkuras..hanya saja ada sesuatu urusan yang juga harus saya selesaikan.. " ujar Chen Khu sambil meletakkan cangkir teh yang baru diminumnya.
"Urusan..?? tapi pengawal - pengawal itu tidak mengatakan padaku jika kamu meninggalkan ruangan itu..? " ujar Mathanadeva sambil mengeryitkan keningnya lalu menatap Chen Khu dengan tatapan penuh selidik lalu mengalihkan pandangannya pada para pengawal seolah merasa jika ada yang disembunyikan oleh mereka.
"Hahaha... udaranya sangat sejuk yang mulia.. mungkin kita bisa berkeliling menghirup udara segar.. " balas Chen Khu sambil tertawa dan berusaha mengalihkan pembicaraan.. Chen khu yang merasa lucu melihat ekspersi yang ditunjukkan oleh Mathanadeva.
Mathanadeva seolah mengerti akan maksud dari ucapan Chen Khu yang mungkin ingin berbicara secara pribadi untuk membicarakan urusan yang dimaksudkannya, dan Mathanadeva kemudian berdiri lalu berjalan ke arah taman yang ada dihalaman kediaman walikota dan diikuti oleh Chen Khu.
__ADS_1
Chen Khu kemudian menceritakan perihal Hua Tuo.. roh yang bersemayam dalam pedangnya dan mampu berkomunikasi padanya melalui pikirannya.
Hal itu tentu saja membuat Mathanadeva terkejut, meskipun kebenaran dari cerita yang disampaikan oleh Chen Khu itu meragukan namun Mathanadeva tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai cerita Chen Khu.
"Oh.. iya.. bagaimana dengan rencana kita selanjutnya.. " ujar Mathanadeva setelah cukup lama terdiam setelah Chen Khu sudah menuntaskan seluruh ceritanya sambil mengajak Chen Khu untuk duduk pada sebuah bangku yang terletak di tengah taman.
Malam mulai merayap menyelimutkan kegelapan pada langit kota Nalagarh yang perlahan juga mulai diterangi oleh cahaya bulan yang masih tampak redup.. tapi Chen Khu masih terdiam dan belum menjawab pertanyaan Mathanadeva. Dadanya terasa berdegup lebih kencang saat mendengar pertanyaan dari Mathanadeva.. pikirannya melayang jauh mengingat kembali sosok ayah yang sudah sangat dirindukannya.. lamuan membawanya kembali ke desa Anhiu.. desa yang damai dan tentram.. suara canda tawa suadara - saudara serta keramahan penduduk desa seketika muncul kembali dalam ingatannya hingga tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya saat mengingat kembali kejadian yang merenggut semua kebahagiaannya.
"Chen Khu.. apa kamu baik - baik saja..? " tanya Mathanadeva sambil merangkul bahu Chen Khu. Mathanadeva terkejut melihat pemuda tangguh dan berilmu tinggi disampingnya menitikkan air mata dengan tubuh bergetar dan kedua tangan yang dikepalkan.
"Ah.. maaf yang mulia.. !!" pertanyaan Mathanadeva membuyarkan lamunan Chen Khu lalu Chen Khu menyeka air mata dan hidungnya yang berair.
Mathanadeva hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Chen Khu, seolah mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Chen Khu, meskipun Chen Khu belum pernah bercerita secara detaip tentang kejadian yang pernah menimpanya.. tapi kehilangan sosok ayah dan ibu juga sudah pernah dialaminya meskipun dengan takdir yang berbeda. Mathanadeva mengelus - elus punggung Chen Khu untuk menenangkan pemuda yang selama ini selalu terlihat tangguh serta perkasa dalam setiap medan pertempuran kini terlihat lemah layaknya anak kecil.
"Bagaimana menurut yang mulia.. ?" ujar Chen Khu kemudian setelah berhasil menenangkan diri.
"Apa tidak sebaiknya kita kembali dulu ke ibukota yang mulia.? "
"Aku rasa tidak perlu.. karena kita juga akan kembali menggunakan jalur ini untuk ke sana.. jadi kita hanya membuang waktu jika kembali ke ibukota.. "
"Lalu bagaimana dengan Tuan putri yang mulia..?? apakah dia tidak akan kembali mencari kita..?
"Aku sudah menulis surat padanya.. dan aku juga sudah meminta Kumar menyiapkan kuda terbaik untuk kita tunggangi ke Nishada.. "
__ADS_1
Chen Khu menatap Mathanadeva.. dia sangat terharu mendengar jawaban dari sang raja tersebut.. Chen Khu tidak menyangka jika Mathanadeva sudah mempersiapkan semuanya bahkan sebelum dia memikirkannya.
"Terima Kasih yang mulia..! " ujar Chen Khu kemudian sambil memeluk raja yang seolah sudah menjadi teman dekatnya itu.
"Sudahlah.. jangan cengeng seperti itu.. segera persiapkan dirimu.. besok pagi kita berangkat..!! " jawab Mathanadeva lalu meninju perut Chen Khu..dan membuat kedua orang itu tertawa.
***
Kerajaan Nishada adalah sebuah kerajaan yang berbatasan langsung dengan benua daratan tengah... kerajaan itu juga terkenal sangat kaya dan emas sebagai sumber daya alam yang terbilang melimpah di negeri mereka.
Sebagian besar wilayah mereka terdiri dari pegunungan tandus meskipun cukup banyak sungai - sungai kecil yang mengaliri daerah itu.. hanya saja dibalik ketandusannya..ternyata tanah mereka menyimpan mineral tambang yang menjadi incaran semua orang.
Kerajaan Nishada awalnya hanya sebuah kerajaan kecil dan miskin dan hal itu membuat banyak kerajaan didekatnya tidak tertarik untuk menaklukkan kerajaan itu.. tapi saat Yaseka menjadi raja.. dan emas mulai ditemukan pada aliran - aliran sungai.. negeri itu akhirnya berubah menjadi negara yang sangat kaya raya.
Yaseka juga akhirnya mampu membuat angkatan perang yang sangat disegani oleh kerajaan - kerajaan tetangga berkat dukungan dana melimpah.
Yaseka memperkuat militernya dengan merekrut puluhan ribu prajurit serta puluhan ribu orang pendekar yang diberi gaji tinggi, bahkan kemampuan terendah prajurit Nishada setara dengan pendekar level tiga sedangkan panglima perangnya yang bernama Vadesh memiliki kemampuan setara pendekar level tujuh tingkat akhir.. sebuah angkatan perang yang sangat menakutkan dengan jumlah total keseluruha prajurit yang mencapai lima ratus ribu orang.
***
Pagi hari saat matahari mulai mengeluarkan panasnya, dua orng berpakaian ala pendekar terlihat menuruni tangga dan menuju pelataran kediaman walikota Nalagarh dan menuju ke dua ekor kuda hitam yang gagah dan bersih tertambat.
"Sudah lama aku tidak bertemu Yaseka.. pasti sekarang dia telah menjadi lebih kuat.. " gumam Mathanadeva lalu melompat ke atas kudanya.
__ADS_1
"Siapa dia yang mulia..? " tanya Chen Khu
"Raja Nishada..! " jawab Mathanadeva singkat lalu memacu kudanya dan diikuti Chen Khu meninggalkan kediaman walikota Nalagarh yang terlihat mengantar sang raja dengan berpegangan pada sebuah tongkat pada tangan kirinya.