
Mata Matahanadeva terbelak.. saat membaca surat yang dikirimkan oleh Yaseka.. apalagi ditambah surat yang dikirimkan oleh Chen Khu yang juga dibawa oleh Ashimoto..dia tidak menyangka ada sebuah kelompok yang memiliki pasukan dalam jumlah yang sangat besar dan keseluruhan anggotanya adalah pendekar.
Setelah mengelus - elus dagunya.. Mathanadeva kemudian buka suara.
"Tuan.. istirahatlah sejenak di kerajaan kami.. sebelum kamu kembali kamu Nishada.." ujar Mathanadeva ramah.
"Maafkan aku yang mulia.. "
"aku terpaksa menolak tawaran yang mulia.. karena aku... harus secepatnya kembali ke Nisahada.. karena kemungkinan saat ini.. prajurit - prajurit kami sedang bergerak menuju perbatasan..yang dipimpin langsung oleh yang mulia Yaseka sendiri.. " balas Ashimoto ramah.. sesaat kemudian dia memberi hormat pada Mathanadeva lalu membalikkan badan hendak meninggalkan aula tersebut..ujung matanya masih berusaha melirik ke arah pria yang dipanggil guru oleh Mathanadeva.. yang meskipun dari tubuhnya tidak terpancar aura kekuatannya.. tapi naluri Ashimoto masih bisa menebak jika kemampuan pria itu sangat jauh berada diatasnya.
***
Sebuah rombongan besar pasukan yang beranggotakan sekitar tiga ratus ribu orang prajurit bergerak menuju perbatasan antara kerajaan Nishada dan kekaisaran Han..
Tiga ratus ribu orang prajurit berkuda itu terlihat sangat bersemangat mengikuti pimpinan mereka yang memacu kudanya paling depan. Kuda gagah berwarna hitam dengan rambut panjang yang tertata rapi dengan hampir seluruh tubuh kuda itu dilapisi dengan logam berwarna kuning keemasan.
Yaseka sebenarnya memiliki kereta perang yang biasa digunakan dalam setiap medan pertempuran..namun kali ini.. Yaseka tidak menggunakan kereta tersebut, tentu saja dengan satu alasan.. yaitu agar bisa sampai di perbatasan secepat mungkin.
Dua hari.. pasukan berkuda itu telah menempuh perjalanan tanpa henti.. kepulan debu selalu menutupi jalan yang telah mereka lalui..namun tidak terlihat raut wajah lelah dari prajurit - prajurit itu meskipun dua hari dua malam terus berkuda tanpa henti.
Sebuah semangat tersendiri yang dirasakan oleh mereka adalah.. saat melihat raja mereka ikut berkuda bersama.. meskipun tanpa jendral Desmar yang biasanya selalu bersama mereka.
Jendral Desmar memang tidak ikut dalam rombongan yang dipimpin oleh Yaseka karena dia harus menyiapkan perbekalan bagi prajurit - prajurit yang berangkat lebih dulu.. serta mempersiapkan tambahan dua ratus ribu orang prajurit sesuai permintaan Yaseka.
Tentu bukan hal mudah melakukan segala persiapan itu.. belum lagi.. saat terakhir sebelum Yaseka dan pasukannya berangkat.. Jendral Desmar juga mendapat amanat untuk memcari orang yang tepat.. untuk mengisi kekosongan kekuasaan untuk sementara waktu.
__ADS_1
Trauma akan adanya pemberontakan membuat Desmar sangat berhati - hati mencari calon penggati Yaseka sementara waktu.. meskipun orang - orang yang menjadi kandidat adalah orang - orang terdekat Yaseka sendiri bahkan mereka juga berasal dari keluarga kerajaan.
Saat matahari hendak memasuki peraduannya.. akhirnya rombongan pasukan Yaseka berhenti di bibir sungai yang menjadi perbatasan Nishada dan kekaisaran Han.
"Kita istirahat dulu disini..!!" ujar Yaseka.
Tanpa menunggu lama..seluruh prajurit melompat turun dari kuda lalu menambatkan kuda mereka masing - masing sebelum mencari rerumputan tebal untuk berbaring.. sebagian dari mereka juga salih bergati mengisi tempat - tempat air minum yang mereka bawa selama perjalanan...sebagian lagi mencari kayu bakar untuk membuat perapian.
ada yang tidak biasa dalam perjalanan mereka kali ini.. yaitu tidak adanya tenda khusus untuk raja atau jendral..
untuk malam ini.. mereka semua akan tidur beratapkan langit termasuk Yaseka sendiri.
Perbekalan yang mereka bawa juga hanya roti kering.
Saat malam tiba.. terlihat para prajurit itu berkerumun di depan api unggun bersama dengan Yaseka sendiri untuk menghilangkan rasa dingin..sebuah pengalaman yang baru saja dirasakan baik oleh Yaseka sendiri maupun prajurit - prajuritnya..dimana tidak ada jarak yang memisahkan mereka.. kalau biasanya.. raja atau panglima perang berada pada tenda khusus dengan segala perlengkapannya.. sedangkan para prajurit akan berada pada tenda masing - masing regu.
***
Setelah kepergian Ashimoto.. Mathanadeva memang menyerahkan gulungan yang diterimanya pada Maruka untuk meminta pendapat.
"Mmm... begini yang mulia.. "
"setelah cukup lama membaca isi gulungan tadi.. aku baru sadar.. jika ternyata.. aku belum bisa membaca aksara yang ada saat ini.. " balas Maruka sambil tersenyum tipis.
Mathanadeva terduduk di singgasananya sambil menepuk jidatnya setelah mendengar jawaban dari Maruka.. lututnya terasa lemas setelah mendengar jawaban yang jauh melenceng dari apa yang diharapkannya..dan Matahanadeva jg mengeleng - gelengkan kepalanya melihat ekspresi tidak berdosa dari pria yang direkomendasikan oleh Chen Khu tersebut.
__ADS_1
Setelah menghela nafas panjang.. Mathanadeva kemudian meminta salah seorang pejabat istana yang ikut hadir di dalam aula untuk membaca isi gulungan tersebut agar Maruka bisa mendengarkan.
"Ooh.. jadi seperti itu.. "ujar Maruka manggut - manggut.
Mathanadeva tidak bisa menutupi kekesalannya saat melihat reaksi dari Maruka yang terlihat biasa saja setelah mengetahui isi gulungan tersebut.. karena biar bagaimanapun.. saat ini.. Chen Khu.. orang yang telah dianggapnya sebagai saudara sendiri sedang terancam dan sangat membutuhkan bantuan dari mereka secepatnya.. terlebih lagi.. jarak antara Gurjara dan Han sangat jauh dan memakan waktu tempuh berhari - hari dengan berkuda.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang guru..??! " Mathanadeva tidak bisa lagi menahan kekesalannya karena Maruka hanya terdiam.
"Shiva..!! siapkan empat ratus ribu pasukan sekarang juga..!! lanjut Mathanadeva tanpa menunggu jawaban dari Maruka.
"Khan..!! sebagai panglima tertinggi.. sekali lagi aku titipkan kerajaan ini pada.. dan tolong... jangan sampai putriku tahu akan hal ini. " ujar Mathanadeva sekali lagi.
"Siap yang mulia..!! " balas Shiva dan Khan bersamaan.
Shiva saat ini telah dipercayakan untuk menjadi pembatu panglima setelah memperlihatkan kemajuan yang sangat pesat selama dilatih oleh Maruka.. olehnya itu.. Shiva semakin banyak mendapat kepercayaan untuk memimpin pasukan. seperti yang terjadi saat ini.
"Tidak usah terburu - buru seperti itu yang mulia.. "Maruka tiba - tiba buka suara.
"Tapi guru...!!? "
"Sudahlah..... biarkan Shiva mengumpulkan prajurit dan segala perbekalannya hari ini.. "lanjut Maruka pelan.
"Jika menyiapkan pasukan dengan terburu - buru apalagi mengabaikan perbekalan.. itu sama saja bunuh diri.."
"ingat kalian akan pergi berperang.. bukan pergi piknik.. jadi siapkanlah semuanya sebaik - baiknya.. "
__ADS_1
"Besok pagi.. aku tunggu kalian semua di lapangan.. "
"sekarang.. aku ada sedikit urusan..jadi saat besok aku kembali.. kalian semua harus sudah siap.. " ucap Maruka.. dan tanpa menunggu jawaban langsung menghilang dari ruangan itu dan hanya menyisakan asap putih di tempatnya semula berdiri.