
Erlangga tidak tahan lagi melihat dua wanita itu bertarung. Erlangga langsung menyerang keduanya. Walaupun badannya tidak terlalu kuat, dia tak peduli. Akhirnya setelah melakukan beberapa serangan akhirnya berhasil juga dia meleraikan mereka berdua.
"Kenapa kalian bertarung? Apa yang kalian permasalahkan?" Tanya Erlangga. Dia bingung dengan kedua perempuan itu.
"Sepertinya lebih baik aku sendiri saja. Aku mungkin tidak akan jika harus bersamanya. Baru ketemu saja sudah mengajak bertarung," jawab Laksminingrum.
"Terserah kamu saja. Lagipula kamu siapa?" tanya Dewi Ratih.
"Yang harusnya bertanya itu aku, kamu siapa ? Aku bahkan tidak mengenalmu, mengapa kamu mengajakku bertarung?" Laksminingrum tidak mau kalah.
"Sudah jangan bertarung lagi. Ratih, boleh ikut aku sebentar?" kata Erlangga.
"Mau kemana?
"Ikut saja, tidak usah banyak tanya," Erlangga segera menariknya ke balik semak yang lumayan rimbun.
"Kamu kenapa mengajak dia berkelahi?" tanya Erlangga.
"Dia siapa? Kenapa kakang mengajak bergabung?" tanya Dewi Ratih .
"Dia yang menyelamatkanku tadi. Dia seorang pengembara yang mencari jati dirinya. Aku rasa tidak masalah jika mengajaknya ikut bersama kita. Lagipula dia orang baik-baik."
__ADS_1
"Kalau begitu terserah kakang saja, tapi aku harap kakang tidak akan melakukan sesuatu yang macam-macam kepadanya," jawab Dewi Ratih mulai melunak. Matanya terlihat mengancam.
"Santai saja, aku tidak akan melakukan sesuatu yang macam-macam," Erlangga sambil tersenyum berkata.
"Janji?"
"Demi apapun aku tidak akan melakukan sesuatu yang macam-macam," Erlangga memberi kepastian.
Mereka berdua akhirnya menemukan kata sepakat. Setelah agak lama mereka menemui Laksminingrum kembali.
"Kamu boleh ikut dengan kami. Maaf tadi aku langsung menyerang mu begitu saja," Dewi Ratih langsung berkata.
"Ini katanya guruku adalah pedang warisan turun-temurun dari guruku. Katanya aku pengguna pedang ke 18 dari pedang ini. Kurasa itu cukup menjelaskan. Aku tidak membuka sarung pedang ini kecuali dalam keadaan terdesak saja, begitulah yang dibilang guruku. Tapi aku tidak masalah, aku rasa karena ini adalah pedang istimewa kalau terlalu sering katanya tidak baik," jawab Laksminingrum.
"Takutnya bakal membuat pendekar lain tertarik untuk memilikinya. Aku juga sudah bersumpah atas nama Dewa untuk memakai pedang ini sesuai perintah guruku," lanjut Laksminingrum.
"Pedang warisan rupanya. Boleh aku tahu siapa gurumu?"
"Hmmm, aku tidak bisa memberitahukannya. Orangnya juga bukan orang terkenal. Hidupnya lebih banyak di habiskan di tengah hutan," Jawab Laksminingrum.
"Ya sudah kalau tidak mau memberitahu. Bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan?"
__ADS_1
"Mungkin itu pilihan yang tepat," jawab Laksminingrum.
***
"Kamu kenapa tadi memeluk pria yang asing? Aku tidak peduli dia manusia atau siluman,yang aku perlukan hanya penjelasan darimu!" di Istana ular, sang pangeran yang tadi menyerang Erlangga berkata dengan rasa marah yang meledak-ledak.
"Apa kamu sudah bosan denganku?" tanya pria itu lagi.
Wisasari hanya bisa diam . Ia sebenarnya tidak pernah cinta dengan pria yang ada di depannya itu. Hubungan diantara mereka sebenarnya hanya karena perjodohan semata. Andai ia bisa memilih, ia tak ingin hidup dengan pria yang sedang memarahinya. Dia hanya membayangkan rasa hangat yang di dapat sewaktu memeluk tubuh Erlangga. Sesuatu yang benar-benar didambakan olehnya selama ini.
"Maafkan aku kakang, aku yang menjebak pria itu. Lain kali aku tidak akan mengulanginya, aku janji," terlihat mukanya Wisasari seperti orang yang sangat menyesal.
"Janji? Aku tidak akan memaafkan mu sebelum kamu ku hukum."
"Hukum aku semau mu kakang. Kau bunuh aku pun aku rela," jawab Wisasari.
"Kalau kau mau masuk ke tong itu. Kalau kau tidak mau aku bakal menyiksa pria itu sampai dia mati."
Tanpa perlu banyak bicara, Wisasari mengubah dirinya menjadi ular kemudian dia melakukan apa yang dimaui pria di depannya. Bagaimanapun juga ia sadar, semuanya karena perbuatannya. Setelah ia masuk, tong itu tertutup rapat.
"Kau akan berada disitu sampai aku mengizinkan seseorang untuk membukanya," setelah tertutup Wisasari mendengar suara itu terlontar. Dia hanya bisa pasrah saja .
__ADS_1