Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#95. Gangguan Siluman. III


__ADS_3

Mathanadeva mencoba melihat dari jendela kereta, tapi karena sudah gelap dia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang dimaksud oleh Khan, dan Mathanadeva memutuskan untuk keluar dari kereta kuda.


"Kita terlambat..!! " ucap Mathanadeva lalu terduduk lemas dan bertumpu pada kedua lututnya.


"Yang mulia.. mayat - mayat ini masih baru.. mungkin baru dibunuh beberapa jam yang lalu " teriak salah seorang pengawal yang turun memeriksa puluhan mayat orang dewasa dan anak - anak yang bergelimpangan di pinggir jalan.


"Kita belum terlambat yang mulia.. aku bisa merasakan adanya pertarungan di sebelah utara.. agak jauh dari sini " ujar Chen Khu yang juga ikut turun dari kereta.


"Kalau begitu kita harus bergerak cepat.. sebelum siluman itu mengahabisi seluruh penduduk " ujar Mathanadeva sambil berdiri dan mengepalkan tinjux lalu dengan ilmu meringankan tubuh dia melesat ke depan mendahului pasukannya.


Pasukan Mathanadewa terkejut melihat yang dilakukan oleh raja mereka dan dengan segera mereka juga memacu kuda yang mereka tunggangi untuk menyusul Mathanadeva yang sudah berada beberapa puluh meter di depan mereka.


"Ayahanda.. apa yang ayahanda lakukan..?? kenapa ayahanda bertindak gegabah..? ujar Aahana yang pertama kali berhasil menyusul Mathanadeva.


"Kita harus cepat putriku.. atau akan lebih banyak lagi yang menjadi korban " jawab Mathanadeva lalu dengan cepat memutar tubuhnya di udara lalu duduk menumpang di belakang putrinya itu.


Chen Khu juga tidak mau ketinggalan.. meskipun sempat tertinggal oleh pasukan Mathanadeva yang langsung memacu kuda - kuda mereka dan meninggalkan dirinya yang sedang memeriksa beberapa sosok mayat.. tapi hanya dalam beberapa tarikan nafas.. Chen Khu sudah mendahului barisan terdepan yang termasuk Mathanadeva dan putrinya meskipun hanya menggunakan ilmu meringankan tubuh milik sekte Kuda Terbang.


"Ayahanda.. bagaimana dia melakukan itu..? " tanya Aahana.


"Hal itu adalah hal biasa bagi orang benua daratan tengah yang sudah mengusai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi hanya saja.... " Mathanadeva tidak melanjutkan kata - katanya.


"Hanya saja apa ayahanda..? " tanya Aahana tanpa mengurangi laju kudanya.


"Sejak dia mulai pulih dan sampai sekarang ini.. ayah tidak bisa merasakan aura kekuatannya.. entah bagaimana caranya dia menyembunyikan kekuatan besarnya sesempurna itu " jawab Mathanadeva.


Chen Khu yang tidak ingin memancing perhatian tetap menggunakan ilmu meringankan tubuh milik sektenya dan tidak terbang.. hanya saja kecepatan Chen Khu memang sangat luar biasa ditambah nalurinya untuk menolong sesamanya yang sangat kuat membuatnya tidak menurunkan kecepatan untuk mengimbangi laju kuda tapi malah menambah kecepatannya dan alhasil hanya dalam hitungan detik Chen Khu sudah hilang dari pandangan mereka.

__ADS_1


***


"Sembunyikan para wanita dan anak - anak di ruangan bawah tanah.." teriak seorang pria tambun tapi cukup lincah memainkan pedangnya..meskipun sudah terdapat beberapa luka pada tubuhnya.. dia adalah Virendra yang merupakan walikota Chennai.


Sejak penyerangan siluman harimau putih sehari yang lalu.. Virendra mengumpulkan rakyatnya dalam benteng yang mengelilingi kediamannya.


Jatindra yang merupakan kepala pengawal walikota segera memerintahkan beberapa prajurit untuk mengevakuasi para wanita dan anak - anak untuk masuk ke ruang bawah tanah yang memang selalu ada pada setiap benteng di seluruh Gurjara.


"Tuan walikota.. mereka terlalu banyak..aku tidak yakin apaka kita akan mampu menahan mereka sampai bantuan dari maharaja datang " ujar Jatindra yang langsung berada disamping Virendra setelah memerintahkan beberapa pengawal untuk mengevakuasi penduduk kota.


"Usahakan semampu kita.. lagi pula tidak semua dari mereka memiliki kemampuan yang tinggi " jawab Virendra sambil terus menghalau serangan dari siluman harimau putih.


Serangan siluman yang terjadi di kota Chennai memang tidak seperti biasanya.. jika sebelumnya.. serangan siluman pada kota - kota lain hanya dilakukan oleh satu ekor siluman.. pada kota Chennai kali ini sangat berbeda.. ada ratusan ekor siluman harimau putih dengan berbagi ukuran menyerang kota ini yang dipimpin oleh satu ekor siluman harimau putih yang berukuran sangat besar, sedangkan di belakanh gerombolan siluman itu terlihat lima orang berpakain serba hitam dan mengenakan topeng sedang mengamati gerombolan siluman itu.


***


"PEDANG PEMBELAH BADAI..!! "


Sudut mata Chen Khu bisa menangkap lima orang berpakaian serba hitam kini beralih memperhatikannya.. kedatangannya yang tiba - tiba membuat kelima orang itu cukup terkejut belum lagi.. beberapa siluman yang mati hanya dalam sekali serang.


"Ketua.. siapa orang itu.. bagaimana dia bisa tiba - tiba muncul seperti itu..? " ujar salah seorang dari lima orang itu.


"Aku juga tidak tau..tapi sebaiknya kita awasi saja dulu.. kita belum tau sejauh mana kemampuan yang dimilikinya lagi pula..siluman yang kita bawa kali ini sangat banyak.. aku yakin siluman - siluman itu akan membunuhnya.. " jawab seorang pria yang dipanggil dengan sebutan ketua.


Kelima orang yang berpakaian hitam itu memang terdapat ciri khusus pada topeng yang dikenakan. salah satu dari mereka yang dipanggil dengan sebutan ketua mengenakan topeng berwarna merah, sedangkan empat lainnya mengenakan topeng berwana biru.


Chen Khu memang bukan lawan yang sepadan bagi siluman - siluman itu yang mayoritas adalah siluman ratusan tahun, dan akibatnya.. hanya dalam beberapa menit puluhan siluman sudah meregang nyawa membuat siluman harimau putih yang paling besar dan merupakan pimpinan gerombolan para siluman itu mengaum dengan sangat keras,seperti memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mengepung Chen Khu.

__ADS_1


Siluman - siluman harimau putih yang semula sudah mampu mendesak para penjaga benteng menuruti perintah pimpinan mereka dan meninggalkan para penjaga termasuk walikota yang sudah mendapatkan banyak luka.


Seluruh siluman harimau putih kini mengepung Chen Khu termasuk harimau putih yang merupakan pemimpin gerombolan itu.. jumlah mereka sekitar dua ratus lima puluh ekor dan mengurung Chen Khu dengan rapat.


"PEDANG PEMBELAH BADAI..!!


Chen Khu tidak menunggu lama setelah melihat para siluman itu berkumpul mengepungnya.. dengan jurus pedang pembelah badai yang dikolaborasikan dengan gerakan memutar, menghasilkan gelombang energi bulat yang keluar..dan akibatnya lebih dari seratus ekor siluman yang berada paling dekat dengan Chen Khu tidak dapat menghindari gelombang energi yang datang dan fatal.. tubuh mereka terpisah menjadi dua bagian sedangkan siluman lain yang berada pada posisi agak jauh dapat menghindari gelombang energi yang datang.


Melihat banyak anak buahnya yang tewas.. pemimpin gerombolan itu murka.. dengan auman yang sangat keras bahkan mampu menggetarkan dinding benteng.. dia memerintahkan seluruh anak buahnya yang tersisa untuk menyerang.


Siluman - siluman itu menyerang hampir bersamaan tapi kelincahan serta kegesitan Chen Khu sangat jauh diatas mereka. Chen Khu bisa menghindari satu persatu serangan yang datang tanpa terluka sedikitpun bahkan saat menghindar dia juga memberikan tebasan yang berakibat fatal bagi siluman - siluman itu. Satu persatu siluman yang menyerang Chen Khu meregang nyawa.. siluman harimau putih yang paling besar kini juga ikut menyerang Chen Khu. Meskipun siluman itu sudah termasuk dalam golongan siluman ribuan tahun tapi meskipun menyerang Chen Khu yang terkepung oleh anak buahnya.. siluman itu belum mampu memberikan luka pada Chen Khu, malahan Chen Khu sudah memberikan sedikit luka pada pimpinan siluman itu dan terus membunuh siluman - siluman lain satu persatu.


" Ketua.. bagaimana ini..?? jika orang itu kita biarkan dia bisa menghabisi seluruh siluman harimau putih yang kita miliki dan bisa saja Agra akan dibunuhnya " ujar salah seorang yang mengenakan topeng biru.


Agra adalah nama pimpinan gerombolan siluman harimau putih dan merupakan hewan kesayangan salah seoran dari mereka yang kini terlihat gelisah melihat siluman - siluman harimau putih yang merupakan peliharaan terus dibunuh, sedangkan Agra juga sudah mendapatkan banyak luka.


"Ketua.. kita jangan diam saja.. aku tidak mau orang itu membunuh Agra.. " ucap pria bertopeng biru setengah berteriak.


" Jangan berteriak padaku Kurasing..!! aku juga tidak mau Agra mati ditangan orang itu.. mari kita serang orang itu bersama - sama..!! " ucap pria yang mengenakan topeng berwarna merah.


Kelima orang itu menghunuskan pedang bersiap untuk menyerang Chen Khu.. tapi baru saja mereka akan bergerak.. pria yang mengenakan topeng berwarna merah menahan mereka.


"Tunggu..!! orang itu tidak sendiri..!! " serunya saat mendengar derap langkah ratusan ekor kuda.. dan kelima pria berpakaian serba hitam itu segera bersembunyi dibalik pohon yang ada didekat mereka.


"Mathanadeva... itu Mathanadeva ketua..!! " bisik salah seorang dari mereka.


"Ketua.. ini kesempatan bagus untuk membunuhnya ketua.. " bisik pria lainnya.

__ADS_1


Pria yang mengenakan topeng berwarna merah dan dipanggil ketua itu menggangguk menyetujui ucapan salah seorang bawahannya itu.. lalu dengan aba - aba darinya kelima orang itu naik keatas pohon dengan teknik khusus lalu masing - masing dari mereka melemparkan dua buah pisau yang mengarah pada Mathanadeva dan yang berkuda bersama putrinya..


"SLUUUUP... SLUUUUP...!! "


__ADS_2