Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#115. Kekhawatiran Tuan Putri


__ADS_3

Kokok ayam jantan mulai terdengar sesekali saat dua orang pendekar berkelebat menuju sebuah bukit yang letaknya cukup jauh dari perkampungan sekte Aghori dan saat mencapai ceruk yang terdapat pada sisi lain bukit Chen Khu dan Mathanadeva kemudian berhenti dan mulai mengatut nafas masing - masing.


"Bagaimana menurutmu Chen Khu..?! " Mathanadeva membuka pembicaraan dengan wajah menahan amarah.


"Kita harus mengehentikan mereka sebelum mencapai kota yang mereka tuju yang mulia.. " jawab Chen Khu lalu duduk pada sebuah batu yang cukup besar sambil melayangkan pandangannya pada hamparan hutan yang sangat luas dan samar - samar mulai terlihat.


"Kalau saja ada cukup waktu harusnya kuambil semua kendi - kendi tadi.. " gumam Chen Khu dalam hati.


"Apa yang akan kita lakukan..?? untuk memanggil bantuan sepertinya kita tidak punya cukup waktu..? "


"Kita akan mencegat mereka di perbatasan hutan untuk menghindari kecurigaan mereka yang mulia.. dan setelah kita melumpuhkan mereka segera kita meminta bantuan untuk menyerang markas mereka "


"Apa kamu yakin dengan rencanamu..? apa tidak sebaiknya kita menyerang mereka lebih dulu..? "


"Kita..??! berdua..?! tanya Chen Khu setengah berteriak.


Chen Khu bisa merasakan jika kemampuan Mathanadeva memang meningkat sangat pesat hanya saja jika menyerang markas sekte Aghori saat ini mungkin sangat terburu - buru apalagi mereka belum mengetahui seberapa kuat pemimpin sekte tersebut.


"Kenapa..?! apa kamu takut..?! tanya Mathanadeva.

__ADS_1


" Bukan seperti itu yang mulia.. tapi bukankah itu sangat terburu - buru, bahkan kita belum tau seberapa kuat pimpinan mereka, belum lagi jumlah mereka yang terlalu banyak untuk kita hadapi berdua.. "


Mathanadeva terlihat manggut - manggut mendengar jawaban Chen Khu dan sambil memijit keningnya dia membenarkan jawaban Chen Khu dalam hati.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang..?! " tanya Mathanadeva kemudian.


"Kita menunggu mereka yang mulia.. dan saat mereka bergerak secara terpisah kita akan mencegat mereka dan membunuh mereka semua tanpa ada yang tersisa dan setelah itu kita akan mengirim pesan pada tuan Khan agar mengirimkan bala bantuan.. " Chen Khu menjelaskan rencana yang dimilikinya dan Mathanadeva menyetujui rencana tersebut setelah Chen Khu menjelaskan secara detail.


***


"Paman Khan.. sudah dua hari ini ayahanda dan kakak Chen Khu belum kembali.. aku takut jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka.. " Aahana kelihatan sangat gelisah setelah kepulangan Shiva dan pasukannya yang tidak bersama Mathanadeva dan Chen Khu.


"Selama bersama Chen Khu.. aku yakin yang mulia baik - baik saja tuan putri.. " jawab Khan berusaha menenangkan Aahana meskipun dia sendiri tidak dapat menyembunyikan kegelisahan pada raut wajahnya lalu kemudian memerintahkan salah seorang pengawal untuk memanggil Shiva.


"Shiva.. kamu adalah orang terakhir yang bersama yang mulia.. apakah ada yang dikatakannya padamu..? " tanya Khan saat Shiva yang baru sampai dengan nafas memburu setelah datang dengan tergesa - gesa karena terkejut mendapat panggilan tiba - tiba dari panglima.


"Yang mulia hanya memerintahkanku untuk kembali ke ibukota dan meningkatkan penjagaan..dan setelah itu yang mulia bersama Chen Khu menghilang kedalam hutan mengejar siluman kera api yang berhasil kabur.. dan semuanya sudah saya laporkan saat kami kembali dari kota Nalagarh.. " jawab Shiva sambil mengingat - ingat kembali semua kejadian saat pertempuran mereka yang terakhir.


"Apakah selama perjalanan yang mulia memberitahumu jika mereka mempunyai rencana yang lain..? " Aahana yang khawatir dengan keadaan ayahanya menampili.

__ADS_1


"Tidak tuan putri.. dan saat perjalanan kami terhenti di sungai.. aku dan Chen Khu meninggalkan mereka yang menunggu rakit untuk menyeberangkan kuda.."


"Hmm.. apa yang direncanakan oleh yang mulia dan Chen Khu..? guman Khan dalam hati sambil memijat keningnya yang mulai terasa sakit.


"Shiva.. bawa seribu orang prajurit.. kita ke kota Nalagarh sekarang..!!" ujar Aahana sambil berdiri dari kursinya.


"Tapi tuan put...!! " Khan tidak bisa melanjutkan ucapannya saay Aahana mengangkat telapak tangannya memberi tanda padanya untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Paman.. aku merasa ayahanda dan kakak Chen Khu akan membutuhkan bantuan kita.. dan aku minta paman meningkatkan penjagaan.. !!" ucap Aahana dengan lantang membuat kedua abdi yang sudah lama bersamanya itu terkejut, sebab baru kali ini Aahana bersuara keras diluar medan pertempuran.


"Baik tuan putri..! " ucap Shiva dan Khan serempak, dan setelah memberi hormat, kedua meninggalkan Aahana seorang diri yang mulia mempersiapkan dirinya.


Perintah tiba - tiba untuk mengumpulkan prajurit sempat menggegerkan istana hanya saja bagi prajurit pilihan yang terbiasa bertempur bersama Mathanadeva itu merupakan hal yang biasa, tapi bagi penduduk istana lainnya serta prajurit biasa hal itu tentu saja cukup menggemparkan, belum lagi Khan juga memerintahkan prajurit - prajurit lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan serta penjagaan disetiap sudut kota serta menambah jumlah prajurit yang melalukan patroli.. tentu saja para penduduk ibukota khususnya penduduk istana merasa jika ada hal genting yang akan dihadapi oleh mereka.


Tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan seribu orang prajurit berpakaian lengkap, karena selama ini.. prajurit - prajurit elit itu memang sudah terlatih untuk menghadapi situasi genting. Prajurit elit kerajaan Gurjara yang awalnya hanya berjumlah tiga ratus orang prajurit dengan kemampuan setara pendekar level dua dan tiga, tapi setelah Chen Khu berdiskusi dengan Mathanadeva, jumlah pasukan itu kemudia ditambah secara terus menerus dengan menerapkan seleksi yang sangat ketat, disamping itu prajurit - prajurit tersebut juga dilatih khusus oleh Chen Khu yang dibantu oleh Khan serta Aahana dan hasilnya.. dari lima ribu orang jumlah keseluruhan prajurit elit gurjara, lebih dari separuhnya telah mencapai tingkat pendekar level empat bahkan puluhan lainnya yang memang berbakat sudah mampu mencapai tingkat pendekar level lima.


Shiva mengumpulkan keseribu orang prajurit tersebut di pelataran depan istana yang cukup luas dan tidak lama kemudian Aahana yang didampingi oleh Khan keluar dari dalam istana.


"Paman.. aku bersama Shiva akan ke kota Nalagarh dan semua urusan istana untuk sementara saya serahkan pada paman.. " ujar Aahana lalu tanpa menunggu jawaban Aahana langsung melompat ke atas kudanya dan kemudian memacu kudanya diikuti oleh Shiva dan prajurit Gurjara.

__ADS_1


Rombongan pasukan yang dipimpin oleh Aahana itu melaju ke arah kota Nalagarh tempat terakhir Shiva bersama Mathanadeva dan Chen Khu saat menghadapi siluman kera api. Debu - debu jalan yang dilalui oleh pasukan tersebut beterbangan. Rombongan tersebut melaju seperti kesetanan..Aahana yang menunggang kuda paling depan dengan kuda paling cepat dan dengan perasaan was - was tidak lagi memperdulikan jalanan kota yang ramai.. yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bertemu ayahnya secepatnya.


__ADS_2