
Cahaya bulan malam itu nampak temaram saat Chen Khu dan Mathanadeva telah berganti pakain dan bersiap untuk turun ke lantai satu.
"Kamu terlihat sedikit lebih tampan jika mengenakan pakaian itu.. " ujar Mathanadeva sambil terkekeh melihat Chen Khu berpakaian ala penduduk benua selatan.
"Tampan..?? menurutku aku terlihat aneh.. " ujar Chen Khu sambil memperhatikan pakaian yang dikenakannya.
Persediaan pakaian yang dibawa oleh Chen Khu selama ini dan tersimpan dalam kantong ajaibnya memang sudah habis, untuk itu Chen Khu telah meminta salah seorang pelayan untuk mencucikan pakaiannya.. sebagai gantinya Chen Khu sementara waktu mengenakan pakaian milik Mathanadeva.. meskipun berbahan bagus dan harganya cukup mahal..tapi tubuh Mathanadeva yang lebih tinggi hampir sepuluh sentimeter dari Chen Khu.. membuat ujung pakaian yang dikenakan oleh Chen Khu menyentuh lantai.
"Hahaha.. sudahlah.. kita makan dulu.. " ujar Mathanadeva sambil menepuk pundak Chen Khu.
Keduanya berjalan menuruni tangga dan suasana restoran belum banyak berubah meskipun malam terus beranjak.. hanya ada satu meja kosong di sudut ruangan yang bisa mereka tempati.
Mathanadeva memanggil pelayan saat keduanya sudah menempati meja tersebut dan tiga orang pelayan membawa makan pesanan mereka yang memang cukup banyak.. hal ini tentu saja menarik perhatian beberapa orang mengingat porsi yang dipesan oleh Mathanadeva setara dengan porsi untuk lima orang.
Chen Khu tidak memperdulikan pandangan orang - orang pada mereka.. dia langsung menyambar sepotong ayam saat piring baru saja menyentuh meja.
"Pelan - pelan.. " ucap Mathanadeva setengah berbisik.
Chen Khu seperti tidak menghiraukan ucapan Mathanadeva dan terus saja memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Chen Khu.. pelan saja makannya.. jangan seperti kesurupan seperti itu.. apa kamu tidak sadar kalau ada yang memperhatikan kita..? " ujar Mathanadeva memperingatkan.
"Aku tau yang mulia.. beberapa diantara mereka adalah pendekar.. sedangkan yang lainnya hanya saudagar.. " jawab Chen Khu dengan mulut yang penuh dengan makanan..Mathanadeva terdiam dan berusaha bersikap seperti Chen Khu.. namun tetap saja dia merasa kurang nyaman jika ada yang memperhatikannya dan itu membuat nafsu makannya berkurang.
"Kenapa yang mulia.. apa makanannya kurang enak..? " tanya Chen Khu berbisik setelah menghabiskan segelas air minum..lalu menyambar paha ayam yang ada dipiring Mathanadeva.
__ADS_1
"Chen Khu.. kamu sudah menghabiskan empat porsi makanan dan masih mengambil bagianku juga..? " Mathanadeva melotot geram.
"Aku hanya kasihan dengan ayam ini yang mulia.. dia mengorbankan nyawanya untuk dimakan bukan untuk dilihat saja.. ucap Chen Khu seolah tidak memperdulikan tatapan tajam dari Mathanadeva.
***
"Sepertinya kalian orang baru di sini..? " tiga orang menghampiri Mathanadeva dan Chen Khu.. Mathanadeva hanya terdiam tidak menanggapi ucapan salah satu dari ketiga orang itu, sedangkan Chen Khu hanya menoleh sedikit dengan paha ayam masih tergigit dan setelah itu kembali melanjutkan makannya.
" Pakaian kalian bagus.. sepertinya kalian orang berada.. hanya sayangnya kalian tuli.. !!" pria tadi melanjutkan ucapannya.. kali ini dengan nada agak meninggi sebab dua orang yang ada dihadapannya seolah tidak menghiraukan kehadirannya.
"Maaf tuan.. kami tidak terbiasa berbicara saat makan.. " ucap Mathanadeva setelah menyelesaikan makannya dan meminum segelas air.
"Apa tujuan kalian ke desa ini..hah..?? sepertinya kalian bermaksud jahat pada desa ini.. " ucap pria tadi yang membuat Chen Khu dan Mathanadeva saling melihat.
"Tadi salah seorang temanku melihat anda membawa seseorang dalam kondisi terikat ke kantor pemerintah... apakah itu yang dinamakan kebetulan lewat.. hah..? " pria dihadapan Mathanadeva berbicara dengan nada menghardik.
Mendengar nada yang menjadi lawan bicara Mathanadeva sudah semakin meninggi.. Chen Khu berdiri dan mencoba membisikkan sesuatu ditelinga pria tersebut, tapi saat Chen Khu akan mendekati pria tersebut.. kedua rekannya memasang sikap waspada dan bersiap mencabut pedang namun saat Chen Khu memberi tanda dengan mengangkat telapak tangannya, kedua orang itu menunda untuk mencabut pedang namun tetap menunjukkan kewaspadaan.
"Jaga ucapanmu..!! dia itu raja Gurjara.. atau kamu akan dihukum mati karena lidahmu.. " bisik Chen Khu lalu menepuk pundak pria itu sebelum duduk kembali.
"Omong kosong.. apa mungkin seorang ra..... " pria itu belum menyelesaikan ucapannya saat sebilah pedang mengayun cepat ke lehernya hingga membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya.. membuat kedua rekannya tercengang hingga lutut keduanya gemetar.
"Apa yang kamu lakukan Chen Khu..?? " teriak Mathanadeva dengan mata melotot.. Mathanadeva sendiri tidak menyangka jika Chen Khu akan berbuat demikian dan gerakan Chen Khu yang terlalu cepat saat mencabut pedang bahkan tidak dapat ditangkap oleh matanya.
"Aku sudah memperingatkanmu.. tapi kamu mengabaikannya..!! " ujar Chen Khu dingin sambil berdiri dan menatap tubuh pria tadi yang sudah tidak memiliki kepala.
__ADS_1
"Bawa mayat temanmu ini...atau kalian akan benasib sama dengannnya.. " ujar Chen Khu kemudian menyimpan kembali pedangnya.
Seluruh mata km sesaat tertuju pada Chen Khu yang dengan mudah membunuh pria berbadan besar dihadapannya.. lalu sebagian orang berlarian keluar katakutan sedangkan beberapa orang yang terdiri dari pendekar yang sudah terbiasa melihat pembunuhan hanya berdecak kagum melihat kemampuan yang diperlihatkan oleh Chen Khu yang kecepatannya hampir tidak dapat ditangkap oleh mata.
"Kalian akan mendapatkan balasannya karena sudah berani membuat masalah dengan kelompok teratai merah.. " ucap salah seorang rekan pria tadi sambil mengangkat rekannya dan dibantu oleh rekannya yang lain.
"Sampaikan pada ketuamu...itu hukuman karena tidak mengindahkan peringatan yang sudah kuberikan.. " jawab Chen Khu sinis.
Kedua orang itu berlalu sambil membawa rekannya dan tidak lama setelah kedua orang itu meninggalkan restoran sorang pelayan yang tadi mendapatkan uang tip dari Mathanadeva datang dengan tergopoh - gopoh..
"Tuan sebaiknya anda segera meninggalkan tempat ini.. mereka itu anggota kelompok teratai merah yang sangat ditakuti di daerah ini.. " ujar pelayan tersebut yang terlihat ketakutan
"Itu salahnya sendiri.. karena tidak mengindahkan peringatan yang kuberikan.. " jawab Chen Khu singkat.
"Tapi tuan..!! "
" Sudahlah.. lanjutkan pekerjaanmu.. dan tolong bawakan kami teh.. " ujar Chen Khu memotong pembicaraan pelayan tersebut dan pelayan tersebut langsung meninggalkan Chen Khu dan Mathanadevaa.
"Kamu sepertinya sangat menyukai pembunuhan.. aku jadi penasaran.. apa yang kamu bisikkan pada pria itu tadi.. " ujar Mathanadeva seolah geram dengan apa yang dilakukan oleh Chen Khu baru saja.
"Hukuman yang pantas bagi orang yang berbicara kasar pada raja Gurjara adalah hukuman mati.. " bisik Chen Khu sambil berdiri dan mendekatkan bibirnya pada telinga Mathanadeva.
"Kamu mengatakan itu..??.. " ucap Mathanadeva terkejut.
"Tenang saja.. dia tidak mungkin membocorkannya..." jawab Chen Khu kemudian menuangkan teh pada cangkirnya yang baru saja diba oleh pelayan.
__ADS_1