Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#145. Setelah Lebih Dari Lima Belas Tahun


__ADS_3

Seorang lelaki tua terlihat keluar dari dalam lubang penambangan emas di daerah Danpuur sedalam lebih dari sepuluh meter.. tubuhnya yang kurus dan tidak memakai baju terlihat berlumur lumpur. Dua orang rekannya masih berusia sedikit lebih muda tampak membantu lelaki tua itu keluar dari dalam lubang.


"Bagaimana..??! apa kamu sudah menemukannya..?? Hardik seseorang berbadan kekar dengan pedang tersandang di pinggang dan cambuk di tangan kanannya.


"Maafkan kami tuan.. terlalu banyak air di dalam.. kami harus mengeluarkan air itu untuk bisa menggali lebih dalam.. hujan belakang ini sangat menyulitkan kami.. " jawab lelaki tua itu dengan wajah masah dan sedikit pucat karena sejak pagi belum ada makanan yang mengisi perutnya.


"Hah.. dasar kalian pemalas..!!" bentak pria berbadan kekar itu lalu melayangkan cambuk ke punggung lelaki tua itu bersama kedua rekannya yang membuat ketiganya roboh ke tanah.


Punggung lelaki tua itu itu nyaris sudah tidak menyisakan bagian yang tidak terkena cambuk. Kondisi tubuhnya menggambarkan jika lelaki tua itu telah mendapatkan penyiksaan dalam kurun waktu yang lama.


saat pria berbadan kekar itu masih melayangkan cambuk beberapa kali ketiga tubuh lemah itu..di pintu gerbang lokasi tambang emas terdengar derap langkah ratusan ekor kuda sedang mendatangi lokasi pertambangan itu.


Ratusan orang berkuda bersenjata lengkap dengan membawa panji - panji kerajaan Nishada berhenti pada sebidang tanah yang cukup lapang.


"Kumpulkan semua orang di sini.. " teriak Jendral Desmar yang mengenakan pakaian kebesarannya.. "


Sembilan puluh orang lebih penjaga berseragam khusus berwarna kehitam - hitaman dengan pedang dan cambuk di pinggang masing - masing segera berkumpul menghadap setelah melihat panji kebesaran Nishada.


"Apa perintahku kurang jelas..?? aku katakan semua orang..!! " Hardik Desmar menghampiri pimpinan penjaga dengan tetap menunggangi kudanya. Pimpinan penjaga yang memakai pakaian berwarna merah dan terlihat sedikit lebih mewah dibandingkan yang lainnya terlihat sedikit pucat.


Melihat wajah Desmar yang mengenakan pakaian kebesarannya.. pimpinan penjaga itu yakin jika Yaseka telah berhasil merebut kembali posisinya sebagai Raja, sedangkan mereka yang selama ini berkecimpung dalam dunia pertambangan emas.. selalu memberikan bantuan pada Narendra untuk bisa menduduki takhta dan melegalkan perbudakan untuk menjadi pekerja tambang.


Pimpinan penjaga itu segera berbisik pada salah seorang anak buahnya, lalu penjaga berseragam hitam itu naiknke sebuah bukit kecil lalu membunyikan lonceng sebagai tanda agar seluruh pekerja segera berkumpul.


Penjaga yang masih menyiksa tiga orang tadi langsung menghentikan aksinya lalu mengangkat kepalanya, lokasi lubang mereka yang terpisah agak jauh memang membuat penjaga itu tidak mendengar perintah Desmar.


"Ada apa..?! kenapa seluruh pekerja disuruh berkumpul sekarang..?! " guman pria berbadan kekar itu heran karena matahari belum mencapai puncaknya, sedangkan lonceng tersebut biasanya akan berbunyi saat matahari akan tenggelam.


"Ayo cepat bangun..!! berterima kasihlah pada lonceng itu..!! bentak pria itu.


Ketiga pekerja tambang itu saling membantu untuk berdiri dan saling menopang untuk berjalan sedangkan delapan orang rekannya yang lain mengikuti dari belakang.


"Ayo.. cepat jalan..!! kita bisa seharian untuk sampai jika kalian berjalan seperti itu..!! " bentak pria kekar itu lalu melayangkan kembali cambuknya dan mengenai ketiga orang itu sekaligus dan membuat ketiganya kembali tersungkur.. hal itu membuat kedelepan rekannya langsung berlari dan membantu mereka untuk berdiri, tapi setelah itu.. sang penjaga memerintahkan mereka untuk berjalan lebih dulu dan membiarkan ketiga orang yang sudah lemah itu untuk saling memapah.


Mata penjaga berbadan kekar itu terbelak saat melihat ratusan prajurit Nishada berbaris rapi di tanah lapang yang biasa digunakan untuk mengumpulkan para pekerja untuk mendapatkan jatah makan sebelum beristirahat malam.


"Kenapa yang mulia Narendra membawa pasukan sebanyak itu.. padahal hari pelantikan itu besok..?! " gumam pria itu dalam hati lalu melangkan kembali cambuknya hingga membuay ketiga orang itu kembali tersungkur.. dan setelah bersusah payah, ketiga orang itu kembali berdiri dan melanjutkan langkah mereka yang tertatih - tatih.


Cukup lama menunggu ketiga orang itu untuk sampai dan berkumpul bersama seluruh pekerja di tanah lapang, selain tubub mereka yang lemah karena belum mendapatkan makanan.. tubuh mereka juga terlihat lemah karena telah mendapatkan penyiksaan terus menerus.


"Apakah diantara kalian ada yang berasal dari kekaisaran Ming..??! jika ada.. silahkan memisahkan diri dengan pekerja lainnya ke sebelah kiri.. "teriak Desmar yang terdengar oleh seluruh pekerja.


Delapan puluh tiga orang pekerja dan dua orang penjaga segera memisahkan diri dari pekerja lain termasuk ketiga orang yang paling terakhir sampai.

__ADS_1


"Diantara kalian.. apakah ada yang bernama Chen Lee..?.. " teriak Desmar kembali sambil memandangi kumpulan pekerja yang berasal dari kekaisaran Ming.


Seluruh pekerja saling berbisik satu sama lain menimbulkan suara seperti dengungan lebah.


"Paman.. kenapa mereka mencari paman..?" tanya salah seorang pria yang sedang memapah lelaki tua bersama dengan seorang temannya yang lain.


"Iya paman.. kenapa mereka mencari paman..? " bisik rekannya yang satu lagi.


"Semuanya harap tenang..!! sekali lagi.. apakah ada yang bernama Chen Lee..??!" teriak Desmar mengulangi.


Seorang lelaki tua dengan dibantu oleh dua orang rekannya tampak keluar dari barisan.


" Saya tuan.. saya yang benama Chen Lee.. " ucap lelaki tua itu ketakutan.


Seseorang yang berada atas kuda dan di diapit oleh dua orang yang juga menunggang kuda gagah dan di payung oleh tiga orang prajurit langsung melompat dari kudanya.. dan menghambur menuju lelaki tua yang mengaku bernama Chen Lee.


Meskipun wajahnya telah kusut dan keripuy serta tubuh yang dipenuhi lumpur tapi Chen Khu masih bisa mengenali jika lelaki tua itu adalah ayahnya yang selama ini dirindukannya.


"Ayaaaaah... !! "teriak Chen Khu dan langsung bersimpuh dan memeluk kaki lelaki tua itu sambi menangis sesegukan.


"Maaf tuan muda.. sepertinya tuan muda salah orang.." ujar pria itu yang dengan susah payah berusah membuat Chen Khu untuk berdiri.


"Tidak ayaah.. aku adalah Chen Khu.. anak laki - lakimu yang paling manja..! " ucap Chen Khu disela tangisannya dan tetap bersimpuh sambil memeluk kaki ayahnya.


Lelaki tua itu langsung memeluk Chen Khu dengan sangat erat seolah melepaskan seluruh kerinduanya selama lebih dari sepuluh tahun berpisah.


Semua prajurit yang mengawal Chen Khu yang bersama Mathanadeva serta Yaseka tidak dapat menahan haru.. bahkan Mathanadeva sendiri beberapa kali harus menyeka air matanya serta membersihkan hidungnya yang basah.


"Aku bersumpah akan membunuh siapa saja yang berani mengiris bawang didekatku.. " ujar Mathanadeva dengan nada bercanda, berusaha mengalihkan perasaannya.. yang disambut gelak tawa prajurit - prajurit Nishada yang berdiri disekitarnya.. bahkan Yaseka pun ikut menoleh sambil membersihkan hidungnya yang basah.


"Hah.. raja yang tangguh sepertimu ternyata memiliki selembut kapas.. " ejek Yaseka sambil menyeka air matanya.


***


Yaseka sendiri, belum mengenal Chen Khu dengan baik.. yang paling melekat diingatannya adalah saat Chen Khu membawanya terbang meninggalkan istana dan meninggalkannya di dahan pohon yang sangat tinggi.


Chen Khu yang telah memenangkan pertarungan melawan Batosai memang langsung melesat ke udara setelah memberi penghormatan terakhir pada Batosai tanpa menghiraukan sorak sorai dari pendukung Yaseka yang menganggapnya sebagai pahlawan bersama Mathanadeva.


Chen Khu langsung menjemput Yaseka yang hanya bisa melihat kepulan debu serta asap yang ada diistananya serta beberapa tempat lain di ibukota dari kejauhan.


Yaseka sangat terkejut saat Chen Khu tiba - tiba sudah berada di sampingnya dan mengajaknya kembali ke istananya. Keterkejutaj Yaseka masih berlanjut saat menyaksikan istananya yang tampak porak poranda dengan beberapa bangunan tampak rata dengan tanah.


Semuanya kemudian terobati dengan sambutan prajurit yang tetap setia mendukungnya, serta pelukan dari Mathanadeva.. sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Mathanadeva kemudian menceritakan secara singkat bagaimana mereka bisa sampai ke Nishada, serta meminta bantuan Yaseka untuk menemukan ayah Chen Khu yang ditengarai berada di wilayah kerajaan Nishada tersebut.

__ADS_1


Yaseka kemudian memerintahkan untuk membereskan semua yang ada di istana serta menahan semua prajurit yang membangkang, sambil menunggu keputusannya selanjutnya.. dan setelah mengumpulkan seluruh penduduk kota untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya.. Yaseka kemudian memerintahkan lima ratus orang prajuritnya untuk mengawal mereka mencari keberadaan ayah Chen Khu.


Informan - informan yang dimiliki oleh Desmar dikumpulkan semuanya dan diperoleh informasi ada lima tambang besar yang mempekerjakan orang - orang dari benua daratan tengah, dan tambang emas Danpuur menjadi tambang emas yang pertama kali mereka datangi.


***


Yaa... lima belas tahun lebih saat penyerangan sekte kalajengking merah di desa Anhui..Chen Lee memang tidak lagi mengetahui nasib Chen Khu..hanya sepengetahuannya seluruh keluarganya telah tewas dibantai oleh anggota sekte Kalajengking Merah. Kedua saling berpelukan diiringi isak tangis keharuan, dan tangis Chen Khu tiba - tiba berhenti saat telapak tanganya merasakan banyak bekas luka di punggung ayahnya.


"Siapa yang telah melakukan ini ayah..? " ujar Chen Khu lalu membantu ayahnya berdiri.


"Dialah yang membuat ayahmu seperti itu.. " ucap salah seorang yang tadi ikut memapah Chen Lee sambil menunjuk pada salah seorang penjaga yang memang ditugaskan untuk mengawasi kelompok mereka.


Chen Khu kemudian berdiri lalu meminta Desmar untuk memapah ayahnya.. Mata Chen Khu tampak menyala.. kemarahan menyelimuti dirinya.. auranya kembali meluap dan membuat wajah penjaga tadi seperti tidak dialiri darah.


orang - orang yang ada di dekat Chen Khu segera menjauh sebab tekanan aura yang dimiliki Chen Khu membuat nafas mereka terasa sesak.


Chen Khu berjalan pelan ke arah penjaga yang tampak sangat ketakutan dan menoleh ke kiri dan ke kanan tapi orang - orang di sekitarnya sudah menjauh.. setiap langkah Chen Khu yang menginjak tanah seolah membuat bumi berguncang.. dan saat jarak antara mereka menyisakan lima langkah.. Chen Khu bergerak cepat dan mengambil cambuk yang ada dipinggang penjaga tersebut.


Chen Khu mengayunkan cambuk tersebut ke arah kaki hingga membuat sobekan besar pada betis pria itu, bahkan tulang keringnya sampai terlihat. Chen Khu terus mengayunkan cambuknya pada pria itu tapi hanya sedikit mengalirkan tenaga dalam sebab Chen Khu ingin membuat pria itu betul - betul merasa tersiksa..


Orang - orang yang semula dibuat terharu dengan pertemuan Chen Khu dengan ayahnya.. kini dibuat bergidik ngeri melihat luka pada tubuh pria itu akibat cambukan Chen Khu..Pria itu akhirnya tersungkur tidak sadarkan diri karena terlalu banyak luka ditubuhnya.


"Khu'er.. sudahlah..!! bertemu denganmu.. sudah cukup untuk menghilangkan semua rasa sakit ini.. " ujar Chen Lee berusaha menenagkan anaknya yang masih terus mencambuki penjaga itu meskipun sudah tidak sadarkan diri.


Chen Khu kemudian menghentikan aksinya setelah ayahnya memanggilnya beberapa kali.


"Siapa pemilik pertambangan ini.. ??" ucap Yaseka pada pimpinan penjaga.


"Tuan Kandala yang mulia.." jawab pimpinan penjaga tersebut.


Kandala adalah salah seorang bangsawan kaya raya di Nishada.. bahkan Kandala sendiri merupakan orang - orang dekat Narendra.


"Aku perintahkan tambang ini ditutuo sementara waktu.. bebaskan semua orang yang menjadi budak di pertambangan ini serta tambang - tambang lainnya.. dan kaliaan.... Tangkap mereka..!! " ujar Yeseka pada prajuritnya untuk menangkap seluruh penjaga yang ada di pertambangan itu.


Yaseka juga memerintahkan Jendral Desmar untuk segera menangkap Kandala dan membawanya ke istana.


----@@@----


**Maaf jika chapternya terlalu panjang, sebab saya bingung mau potong dibagian mana..


Dan jika nanti saat rilis lebih dari satu Chapter, itu bukanlah bonus chapter tapi karena proses reviewnya yang membuat rilis sedikit terhambat.


Selanjutnya terima kasih untuk yang selalu setia membaca Pendekar Pedang Naga Langit.. 🙏**

__ADS_1


__ADS_2