Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
59. Darah Dendam (1)


__ADS_3

"Tidak! Jangan bunuh aku! Ku mohon jangan bunuh aku. Apa kamu tidak kasihan dengan bayi yang ada di perutku ini? Apa kamu tidak kasihan dengan bayi yang tidak berdosa ini?" Dengan sangat memelas wanita itu berkata kepada Galuh yang memegang pisau . Tangannya siap menghujam wanita itu.


"Kamu harus mati!" Dengan mata melotot seperti orang yang dilanda kemarahan Galuh langsung menusukkan pisaunya.


***


Dengan nafas terengah-engah, wanita itu kemudian duduk dan mulai menenangkan diri. Disampingnya, suaminya sedang tertidur dengan pulas. Dirabanya sekeliling badannya, setelah ia benar-benar yakin tidak menemukan luka tusukan pisau ia langsung merasa lega. Untungnya semua itu hanya mimpi semata.


Ini sudah kedua kalinya ia selalu bermimpi begitu. Dia tak mengerti mengapa mimpi itu terus berulang. Dalam hati ia berpikir mungkin ini karena kemarin lusa ia melabrak Galuh karena merasa cemburu suaminya terus bermain serong dengan wanita itu tanpa tahu kebenarannya.

__ADS_1


Sebenarnya wajar saja jika ia melabrak, toh kata suaminya Galuh yang telah menggodanya. Sekarang, ia mulai merasa ragu dengan tindakan yang pernah diambilnya itu. Ia merasa sedikit menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan itu . Ingin rasanya minta maaf, tapi ia tak bisa menanggalkan rasa gengsi yang tinggi di dalam dirinya.


Walaupun begitu, ia merasa takut bila mimpinya menjadi kenyataan . Ia sangat ngeri membayangkan dirinya mati dengan tragis. Esok hari, ia akan meminta maaf.


***


Sementara ditempat lain, Adipati Kencana Wulan mulai bergerak di dalam kegelapan malam. Ia dan pasukannya sudah hampir tiba di istana. Dengan serangan yang sangat mengejutkan di tengah malam, pasti mereka akan dengan mudah dapat di patahkan begitulah yang ia pikirkan.


Melihatnya Adipati benar-benar tidak menyangka, walaupun begitu ia berusaha untuk tidak gentar atau usahanya selama bertahun-tahun akan berakhir sia-sia. Dalam hati, ia berpikir siapa pengkhianat dibalik semua ini. Selama ini yang tahu rencana penyerangannya hanya pasukannya saja.

__ADS_1


Apa mungkin orang itu adalah prajurit yang beberapa hari ini baru bergabung? Ia mengingat beberapa hari yang lalu menerima seorang prajurit yang mengaku ingin mengabdi kepada kadipaten karena perintah orangtuanya. Ilmu silatnya juga lumayan bagus. Tapi rasanya Adipati masih tidak percaya kalau dia berniat untuk berkhianat sejak awal.


Walaupun pasukan istana terlihat sudah siap, karena sudah kepalang tanggung akhirnya dia tetap menyerang juga. Pertarungan terjadi dengan dahsyat malam itu. Masing-masing berusaha untuk memenangkan pertarungan. Tujuannya tentu saja tahta kerajaan.


Lima pendekar yang dibayar oleh Adipati menjalankan misi dengan baik, mereka bahkan terlihat sangat menikmatinya. Mereka semua adalah penggila perang sehingga mereka merasakan kepuasan yang amat sangat saat membantai lawan-lawan mereka.


Sampai fajar menyingsing pertarungan terus berjalan. Belum ada tanda-tanda kekalahan diantara mereka. Sampai sejauh ini pertarungan masih imbang karena mereka semua menerjunkan para prajurit terbaik masing-masing.


****

__ADS_1


Jangan lupa dukung saya dengan cara memberi koin untuk saya bisa update lebih cepat


__ADS_2