Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#131. Menarik Perhatian


__ADS_3

Delapan orang telihat duduk bertumpu pada kedua lututnya dengan dua tangan terikat di belakang dengan ujung tali lainnya terikat pada roda kereta. Seorang pria dengan pedang tersarung dipinggang terlihat duduk di bawah pohon menikmati seekor ayam bakar sambil mengawasi orang - orang yang terikat itu.


Tubuh kedelapan orang tersebut terlihat lemas karena sudah terlalu lama berada dibawah terik matahari. Pria yang memgawasi mereka seolah mengetahui jika tubuh orang - orang yang terikat itu sudah sangat lemas dan membutuhkan air untuk diminum.


Pria itu kemudian berdiri sambil memegang paha ayam di tangan kanan dan kendi air minum di tangan kirinya. Pria itu berjalan ke arah salah seorang yang berpakaian paling bagus diantara yang lainnya yang sedang berlutut dengan kepala tertunduk dan sepertinya orang tersebut adalah pimpinan dari orang - orang yang terikat itu.


"Hei.. apa kamu tidur..?? " bentak pria itu dengan mulut dipenuhi makanan.


Pria yang sedang berlutut hanya menoleh, dengan pandangan nanar.. bibirnya telah mengering.


"Kamu haus..?? ujar pria tadi sambil berjongkok menunjukan kendi air minum yang dibawanya.


pria yang berlutut tadi tidak menjawab karena kerongkonganya kering dia hanya menganggukkan kepala.


"Minumlah..!! " lanjut pria yang mengawasi dengan suara pelan yang terkesan dibuat - buat sambil mendekatkan kendi pada pria yang berlutut sementara mulutnya masih terus mengunyah makanan.


"Hahahaha... " pria itu tertawa terbahak - bahak saat kendi yang hampir menyentuh bibir pria yang berlutut kemudian berubah arah dan menumpahkan seluruh airnya ke tanah.. membuat pria yang berlutut tadi kembali tertunduk lesu sambil menelan ludah melihat air yang dengan cepat mengering.


"Ayaaaah..!! " teriak seorang wanita tiba - tiba seraya berlari menuju pria yang berlutut tadi, namun langkah wanita itu kemudia terhenti saat pria yang masih memegang tulang ayam di tangan kanannya berdiri dan melihat kepadanya.

__ADS_1


"Kamu..?? bagaimana bisa..? gumam pria itu, sedangkan pria yang sudah tertunduk lesu kembali berusaha mengangkat kepalanya.


Suhu panas serta dehidrasi yang dialaminya membuat pandangannya sedikit buram dan tidak mengenali wanita yang memanggilnya, meskipun dia sangat mengenali suara yang memanggilnya.


"Ah.. mungkin hanya khayalanku saja.. " gumam pria itu dalam hati sambil menitikkan air mata membayangkan nasib yang dialami putrinya saat ini yang tadi dikejar oleh lima orang perampok.


"Hei...!! kemana kalian..? apakah sekaranh giliranku..?? " teriak pria itu sambil melihat sekeliling mencari rekan - rekannya.. lalu pria itu membuang tulang ayam yang dipegangnya dan bergegas menuju ke arah wanita yang ada di depannya dengan senyum mengembang.


"Mereka semua sudah mati..!! " tiba - tiba terdengar suara dari balik kereta kuda yang terparkir saat pria itu baru berjalan dua langkah dan pria tersebut kemudian merubah arahnya menuju ke sumber suara.


"Siapa kamu..?! " ujar pria itu yang spontan langsung mencabut pedangnya saat melihat Chen Khi sedang berdiri dengan bertumpu pada sebelah kaki sedangkan kakinya yanh satu berada diatasnya dan punggung yang disandarkan pada dinding kereta.


"Pertanyaan yang sama seperti itu sebelumnya juga dilontarkan oleh rekanmu.. dan kamu tau hasilnya..? mereka semua...mati.. !!" Chen Khu menjawab pertanyaan pria tersebut dengan ekspresi yang dibuat - buat bahkan menggerakkan ibu jari di lehernya sendiri untuk menakuti pria yang mengarahkan pedang padanya.


"Bukan aku.. tapi dia..!! " jawab Chen Khu sambil menoleh sambil memonyongkan bibirnya pada Mathanadeva yang sedang melepaskan ikatan pada orang terakhir, sedangkan Hanisha terlihat memapah ayahnya ke bawah pohon lalu memberinya minum dari kendi yang diambilnya di dalam kereta.


"Hei.. hei.. apa yang kamu lakukan.. haa..?? mereka tawanan kami dan kami sudah bersusah payah untuk itu.. " ujar pria itu sambil berjalan cepat ke arah Mathanadeva.


"Pergilah.. dan jadilah petani yang baik.. kamu bukan lawannya.. " ujar Chen Khu mengingatkan.. dan jika bukan karena nasehat Mathanadeva mungkin saja Chen Khu sudah membunuh pria itu bahkan sebelum pria itu menyadari kehadirannya sebab kemapuan pria itu hanya setara pendekar level dua.

__ADS_1


"Hmm.. yang jelas.. aku sudah mengingatkanmu.. " gumam Chen Khi sambil mengangkat alisnya, Chen Khu kemudian membawa beberapa orang yang sudah sangat lemah ke tempat rindang lalu kemudian memberi mereka minum.


Pria yang berjalan cepat ke arah Mathanadeva kemudian berlari dan menyerang Mathanadeva yang sudah menunggunya. Pria itu menyerang Mathanadeva dengan sekuat tenaga dan seluruh kemampuannya tapi Mathanadeva memilih menghindar dan sesekali menangkis serangan dengan sarung pedangnya.


"Pergilah.. tinggalkan tempat ini.. dan jadilah orang baik.. aku memberimu kesempatan kali ini.. " ucap Mathanadeva sambil menangkis pedang yang diarahkan pada lehernya menggunakan sarung pedang.


Pria itu tidak menghiraukan ucapan Mathanadeva dan dengan gigih terus menyerang Mathanadeva yang masih belum mencabut pedangnya.


"Kenapa kamu tidak mencabut pedangmu hah..?? apa kamu meremehkanku..?? " teriak pria itu lalu kembali melancarkan serangan yang dengan mudah dihindari oleh Mathanadeva yang sebenarnya tidak ingin bertarung dengannya.


"Stamina dan kegigihanmu cukup tinggi jika kamu menfaatkan untuk bertani.. mungkin kamu akan menjadi petani yang sukses kelak.. " ujar Mathanadeva kembali sambil melompat agak jauh kebelakang.


Ucapan Mathanadeva terdengar seperti olokan di telinga pria itu dan semakin menyulut emosinya.. bukannya menuruti ucapan dari Mathanadeva.. pria itu malah semakin gencar menyerang dan tanpa mengenal lelah meskipun dalam hatinya dia merasa jika lawan yang dihadapinya memiliki kemampuan jauh diatasnya tapi amarah sudah meliputinya.. perkataan atau ucapan serta gerakan yang dilakukan oleh Mathanadeva semuanya dirasakan seolah mengejek kemampuannya yang memang tidak seberapa, hanya saja harga dirinya sebagai seorang perampok akan terluka jika dia menyerah pada orang yang hanya menghindari serangannya.


"Kamu keras kepala juga rupanya.. baiklah kalau memang itu keinginanmu.. " ujar Mathanadeva yang baru saja membuat jarak sejauh kurang lebih lima meter.


Mathanadeva menghentakkan kaki kirinya yang menjadi tumpuan dan maju menyongsong pedang yang terlihat akan membelah tubuhnya... dan saat kepala Mathanadeva berjarak beberapa sentimeter dari mata pedang, Mathanadeva menggeser tubuhnya sedikit ke kiri dengan memutar badannya dan sebuah pukulan telak mengenai tengkuk pria itu membuatnya jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri.


"Kamu terlalu memaksakan bakatmu.. " gumam Mathanadeva lalu mengikat kedua tangan pria yang sudah tidak sadarkan diri itu.

__ADS_1


Beberapa orang pengawal yang disewa oleh ayah Hanisha yang sedang duduk berlindung dibawah pohon dari teriknya sinar matahari memandang takjub pada Mathanadeva yang mampu melumpukan pria bertubuh kekar itu hanya dengan satu serangan sementara Chen Khu tersenyum kecil melihat kelakuan Mathanadeva yang menurutnya sedang memamerkan kemampuannya.. Chen Khu kemudian melirik ke arah Hanisha dan senyum lebar tersungging di bibirnya.


"Dasar.. tukang pamer..!! " gumam Chen Khu dalam hati lalu menundukkan kepala menyembunyikan senyuman sambil menggelengkan kepala.


__ADS_2