
"Baru anak kepala desa lagaknya sudah begitu. Aku yang anak raja saja tidak pernah berpikir untuk bertindak seperti itu. Apa sih yang bisa dibanggakan dari anak kepala desa?" Saat ia mendengar bahwa pria itu adalah anak seorang kepala desa dia berhenti menghajarnya. Ingin sekali mengeluarkan kata-kata kasar kepadanya. Hanya tak jadi ia lakukan karena ia tidak ingin membuat masalah lebih jauh. Kata-kata yang hampir keluar itu ia pendam saja sendiri.
Ia dan Laksminingrum segera membawa wanita itu pergi. Sementara pria yang tadi itu terlihat tak berdaya. Hampir mati Aji Dharma membuatnya. Dia rasa, itu adalah hal yang setimpal.
"Terimakasih tuan berdua menolong saya. Kalau tidak ada tuan entah bagaimana nasib saya," kata perempuan itu.
"Tidak mengapa. Ini semua hanya kebetulan dan Dewata semata. Kalau boleh tahu kisanak ini tinggal dimana?" Tanya Laksminingrum.
"Saya tinggal tidak jauh dari sini. Kalau tuan berdua mau, saya akan senang hati menerima tuan berdua," kata wanita itu.
"Tapi, aku ingin kejadian tadi dirahasiakan. Aku tidak mau ayahku berurusan lagi dengan keluarga pria itu. Dia sudah cukup menderita karena ulah mereka, aku tidak ingin menambah bebannya lagi," katanya lagi.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, namamu siapa?" Laksminingrum bertanya.
"Panggil saja Galuh. Dan kalian berdua?"
"Aku Laksminingrum dan yang disebelah itu namanya Aji Dharma. Kami adalah pengembara yang sedang berpetualang sekaligus berusaha mewujudkan impian kami masing-masing. Kamu kenapa bisa berada di hutan bersama pria itu?"
"Aku dipaksa . Dia membawa beberapa anak buah tadi, sedangkan aku sendirian. Dia mengancam ku , jika aku tidak mau ikut maka dia akan menaikkan hutang yang kami miliki. Ini kedua kalinya dia melakukan hal seperti itu kepadaku."
"Harusnya tadi aku membunuhnya. Dengan begitu maka kamu tidak akan mendapatkan masalah lagi ."
"Ya sudah kalau begitu, aku akan kembali ketempat orang itu berada. Biar dia mati sekalian, kalau aku kan tidak ada yang mengenalnya," Aji Dharma terlihat geram. Laksminingrum sebenarnya setuju dengan Aji Dharma, tapi menurutnya hal itu terlalu berlebihan. Dia tak tahu harus berkata apa kepada teman seperjalanannya itu.
__ADS_1
"Apa yang membuat kalian punya hutang kepada orang semacam itu?" Tanya Laksminingrum.
"Aku sebenarnya kurang tahu. Hanya samar-samar saja aku mendengar kalau dulu ayahku tertipu. Tapi aku tidak tahu secara pastinya kenapa. Yang aku tahu, ayahnya adalah kepala desa yang bejat. Dia juga rentenir yang kejam."
"Apa kalian tidak melapor kepada pihak kerajaan?"
"Tidak ada yang berani. Dia dibantu oleh Adipati , bagaimanapun juga kami hanya rakyat kecil. Mana mungkin laporan kami sampai kepada raja. "
"Aku paham. Tapi kamu apa tidak masalah jika harus dilecehkan terus menerus?" Aji Dharma yang dari tadi diam saja mulai berkata.
"Mau bagaimana lagi? Mungkin beginilah yang harus ku jalani."
__ADS_1
Aji Dharma geram mendengar jawaban yang terdengar seperti orang pasrah. Dia benar-benar tidak menyukai jawaban semacam itu. Ingin rasanya berkata kasar, tapi ia tak tega. Lagipula ini bukan urusannya dia juga."
"Kalau begitu terserah kamu saja. Aku ingin tahu lebih banyak mengenai daerah ini. Apakah kamu mau menceritakan semua yang kau tahu tentang kerajaan disini?" Aji Dharma tidak tahu harus berkata apa lagi .