Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#78. Perbatasan. III


__ADS_3

Penundaan penyerangan yang di lakukan Kaisar Yong Zheng sangat beralasan.. Tujuh puluh ribu pasukan boleh dikatakan mati sia - sia.. sedangakn dari pihak Kekaisaran Ming baru beberapa orang saja yang tewas.. hal ini membuat Kaisar Yong Zheng dan Jendral Tian Li harus memutar otak mencari cara agar mampu menembus pertahanan lawan.


Dipihak Jendral Chou.. prajurit - prajuritnya merasa lega melihat pasukan Kekaisaran Qing menghentikan serangan. Tapi berhetina serangan justru menjadi hal yang menakutkan bagi Jendral Chou.. dia yakin.. dua perangkap yang sebelumnya ia siapkan pasti tidak akan terlalu efektif untuk digunakan kembali sebab Jendral Tian pasti menemukan cara untuk menembusnya.


Senja itu berlalu begitu saja tanpa ada kejadian apapun.. masing - masing pihak tetap menahan diri sedangkan Jendral Chou masih dengan perasaan was - was.


"Jendral Li... kamu harus menemukan cara agar kita bisa memasuki pertahanan lawan.. !!" ucap Kaisar Yong zheng.


Jendral Tian Li hanya terdiam mendengar perintah Kaisar Ying Zheng.. tangannya memijit - minit keningnya berusaha menemukan solusi untuk kembali menyerang..


Malam itu bulan enggan menampakkan dirinya.. langit ditutupi awan yang sangat tebal.. suara gemuruh terdengar sangat keras dan berulang - ulang.. kilatan cahaya petir juga sesekali menerangi bumi.


"Yang mulia.. sepertinya langit berpihak pada kita " ujar Jendral Tian Li tiba - tiba saat mendengar suara hujan mulai turun.


"Apa maksudmu Jendral..? "Kaisar Yong Zheng belum bisa menangkap maksud dari Jendral Tian Li.


"Kita akan menggeser artileri - artileri kita malam ini.. hujan yang sangat lebat ini akan menutupi pandangan mereka.. belum lagi.. cahaya bulan sama sekali tidak terlihat malam ini yang mulia.. "


Kaisar Yong Zheng mulai terlihat antusias.. dia tampak menunggu penjelasan lanjutan dari Jendralnya itu.


"Kita akan menggeser pelontar ke arah samping benteng dengan posisi sudah mengarah pada mereka.. kita akan dengan mudah melihat posisi mereka karena benteng mereka masih terdapat beberapa cahaya obor yang terlindung dari hujan.."


Kaisar Yong Zheng menganggukan kepalanya.. dia mulai menangkap maksud dari Jendral Tian Li..


"Apakah kamu yakin kita akan menyerang malam ini Jendral..? " tanya Kaisar..


"Tentu saja yang mulia.. meskipun mereka memadamkan semua obor yang ada di benteng.. kita tetap bisa menebak posisi mereka.. sedangakan jika pasukan kita beserta artileri kita buat saling berpencar.. tentu saja mereka tidak dapat menentukam posisi kita " jawab Jendral Tian Li dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu Jendral.. lakukan rencanamu.. dan lakukan semua dengan senyap.. "

__ADS_1


"Baik Yang mulia.. " ujar Jendral Tian Li lalu memanggil beberapa pengawal dan memberikan instruksi pada mereka.


Para pengawal itu kemudian segera bergerak menuju ke posisi prajurit yang mengendalikan artileri dan menyampaikan instruksi dari Jendral Tian Li.


Prajurit - prajurit itu langsung menggerakkan peralatan mereka. malam buta dengan hujan turun sangat deras.. prajurit - prajurit Kekaisaran Qing dengan sigap melaksanakan perintah Jendral Tian Li.


Setelah semuanya selasai.. perwakilan dari mereka kemudian segera menemui Jendral Tian Li.


"Semua sudah dalam posisi Jendral.. sesuai instruksi yang Jendral berikan.. " ujar prajurit itu sambil berlutut memberi hormat.


"Baik..kalau begitu.. kembali ke posisimu.. dan tunggu perintah selanjutnya.. dan sampaikan pada komandan prajurit infantri agar segera datang menemuiku.. " ujar Jendral Tian Li..


Prajurit itu segera pergi dan melaksanakan perintah yang baru saja diterimanya..


Tak lama kemudian.. komandan pasukan infantri datang menemui Jendral Tian Li.. Jendral Tian Li kemudian memberikan instruksi padanya untuk menggerakan pasukan mendekati benteng pertahanan lawan dengan posisi berpencar dan membuat fomasi tameng sebagai atap mereka.


"Ingat Kapten.. Posisi kalian harus sangat dekat dengan benteng.. dan kalau bisa menempel pada diding usahakan tetap menempel itu akan menyulitkan pemanah dan agar panah dari busur mekanik tidak bisa menjangkau kalian " ujar Jendral Tian Li lalu memerintahkan komandan itu segera melaksanakan perintahnya..


"Saat ini Kita hanya bisa menunggu yang mulia " jawab Jendral Tian Li.


Hampir satu jam berlalu.. dan komandan pasukan infantri datang menemui Jendral Tian Li.


"Jendral.. Prajurit sudah dalam posisi.. " ujar Komandan itu.


"Baik Kapten.. kembali ke posisimu.. dan tunggu perintah selanjutnya " ujar Jendral Tian Li.


Komandan pasukan infantri itu segera meninggalkan Jendral Tian Li dan Kaisar Yong Zheng.


"Yang Mulia.. hamba sendiri yang akan memimpin mereka langsung.. "ujar Jendral Tian Li dengan mantap dan penuh keyakinan..

__ADS_1


"Tidak bisa begitu Jendral.. aku tidak ingin terjadi apa - apa denganmu.. kamu boleh maju ke medan pertempuran jika itu perintah langsung dariku " ucap Kaisar Yong Zheng.. Jendral Tian Li hanya menunduk, tidak berani beradu argumen dengan Kaisar Yong Zheng yang mengatakan hal barusan dengan nada seperti tidak menginginkan adanya jawaban.


"Bagaimana keadaan diluar sana Ken..? "tanya Jendral Chou pada Ken yang terus mengawasi keadaan diluar benteng.. tapi hujan deras menutupi pandangannya.


"Gelap Jendral.. aku tidak bisa melihat apa - apa.. aku hanya merasakan adanya pergerakan tapi aku... "Ken belum menyelesaikan kata - katanya.. saat terompet tanda penyerangan berbunyi dari pihak Kekaisarn Qing..


Bola - bola besi berukuran besar menghantam dinding - dinding benteng menghasilkan getaran yang sangat hebat. Ketika prajurit Kekaisaran Ming terkejut dengan serangan yang datang begitu tiba - tiba.. hujan panah dari busur panah mekanik sudah menyusul..


"Semuanya... merapat ke dinding.. " teriak Jendral Chou pada seluruh prajuritnya..


Anak panah yang turun bersama hujan deras malam itu merenggut banyak korban..


Prajurit - prajurit yang bersiaga dindalam benteng kesulitan untuk menghindari anak panah yang datang..


"Bentuk formasi perlindungan.." teriak Jendral Chou kembali..


Prajuritnya kemudian menggunakan tameng sebagai atap pelindung.. tapi beberapa bola besi juga diarahkan kedalam benteng.. membuat prajurit - prajurit Kekaisaran Ming kocar - kacir..


Serangan beruntun dengan menggunakan pelontar pada titik yang sama menyebabkan dinding benteng mengalami keretakan.. sedangkan bola besi yang diarahkan ke dalam benteng merusak semua yang dilewatinya..


Malam yang gelap gulita.. hanya erangan kesakitan yang terdengar.. dan pada sisi benteng yang tidak didekati oleh pasukan infantri pasukan Qing terus menerus dihanta oleh bola - bola besi secara terus menerus..


Dinding yang semula tampak kokoh akhirnya berangsur - angsur hancur dan rata dengan tanah.. Dinding benteng pada sisi itu runtuh dan meninggalkan celah sebesar kurang lebih dua puluh meter..


Pasukan Infantri yang sudah menunggu runtuhnya tembok itu berlarian masuk kedalam benteng memanfaatkan celah yang ada..


pertarungan jarak dekat tidak bisa lagi dihindari.. meskipun hujan panah sudah berhenti.. tapi prajurit yang masuk juga seolah tanpa henti.. sedangan pelontar - pelontar mulai menghantam sisi benteng yang lain...


Saat matahari hampir menjelang... benteng kokoh itu sudah meninggalkan dua celah besar yang dimanfaatkan oleh hampir seratus ribu pasukan infantri dari Kekaisaran Qing yang terus maju dengan gagah berani.

__ADS_1


Pertarungan besar terjadi di dalam benteng... Ken, Jendral Chou dan ribuan pendekar dari pihak aliansi bertarunh bersama lebih dari seratus ribu prajurit kekaisaran Ming.


__ADS_2