
Chen Khu kembali ke kota Tainan begitu mendapat informasi, jika kekacauan yang dilakukan oleh aliran hitam sudah berhasil dipadamkan secara keseluruhan. Xie Annchi ingin ikut bersamanya tapi Chen Khu memintanya untuk kembali ke sekte untuk memulihkan kondisinya terlebih dahulu.. dan akan mengirim informasi jika pasukan yang ada di perbatasan membutuhkan bantuan.
Firasat Chen Khu benar.. dari kejauhan dia sudah mendengar adanya suara pertarungan, kondisi fisiknya yang jauh menurun karena terlalu banyak menggunakan tenaga dalam untuk terbang dan bertarung, membuatnya harus memakan buah apel emas untuk memulihkan tenaganya.. hanya saja.. dengan tingkat tenaga dalam yang sudah mencapai sembilan ribu tingkatan.. membuat khasiat buah apel emas yang dikonsumsinya hanya mampu memulihkan sekitar tiga puluh persen tenaga dalamnya.
Dengan sisa kekuatan sekitar tujuh puluh persen Chen Khu melesat menuju lokasi pertempuran.
***
"Yang mulia.. sekte aliran hitam sudah menjalankan tugasnya.. dan pasukan kita juga sudah berkumpul di perbatasan, sudah saatnya kita memulai penyerangan " ujar Jendral Tian Li pada suatu malam setelah mendapat informasi jika rencananya sudah berjalan.. pada kaisar Yong Zheng.
"Apakah kamu yakin Jendral..?? bagaimana dengan kekaisaran Song..? " tanya Yong Zheng ingin memastikan jika kekaisaran Song belum mengerahkan prajuritnya untuk membantu kekaisaran Ming.
"Kami belum mendapatkan informasi tentang pergerakan pasukan dari kekaisaran Song menuju ke kekaisaran Ming yang mulia.. tapi perkiraan hamba.. jika kekaisaran Song hanya akan membantu mempertahankan ibukota kekaisaran Ming.. "
"Baiklah kalau seperti itu Jendral.. bunyikan genderang perang.. besok pagi saat matahari terbit kita akan menyerang.."
"Baik yang mulia.." jawab Jendral Tian Li lalu segera meninggalkan Kaisar Yong Zheng.
Genderang perang ditabuh..seluruh prajurit Kekaisaran Qing berkumpul dan tidak lama kemudian muncul Jendral Tian Li.
"Prajuritku sekalian.. malam ini adalah malam terakhir kita bersantai di kekaisaran Qing.. karena mulai besok malam kita akan bersantai di wilayah kekaisaran Ming ".. ujar Jendral Tian Li yang disambut sorak sorai seluruh pasukannya.
"Besok.. saat fajar mulai menyingsing.. tunjukannlah kemampuan terbaik kalian.. ratakan benteng mereka dengan tanah.. " lanjut Jendral Tian Li dan sambut dengan teriakan penuh semangat oleh lebih dari tiga ratus ribu prajuritnya sambil memukul - mukulkan pedang pada tameng dan menghasilkan suara yang bergemuruh.
Suara gemuruh itu kemudian tiba - tiba berhenti seiring kemunculan Kaisar Yong Zheng yang sudah berpakain lengkap dengan Zirah dan pedang tersandang di pinggangnya. Jendral Tian Li mempersilahkan Kaisar Yong Zheng untuk menyampaikan pidatonya, suasana menjadi hening..
" Prajurit kekaisaran Qing yang pemberani.. " Kaisar Yong Zheng memulai pidatonya dengan pelan.. tapi meskipun demikian suara yang mengandung tenaga dalam cukup tinggi itu bisa terdengar oleh seluruh prajurit dengan sangat jelas.
"Kita adalah bangsa Mongol.. yang sejak dulu sudah terkenal dengan keberanianya.. dan mulai besok pagi.. kita akan menunjukan pada mereka bahwa keberanian dan kehebatan orang mongol bukanlah sebuah kebohongan.. mulai besok pagi.. kita akan menunjukan pada dunia kalau Mongol adalah sebuah bangsa yang kuat.. " ujar Kaisar Yong Zheng dengan berapi - api..
"Dan ingat Prajuritku sekalian... Kejayaan bangsa Mongol tidak akan tercapai jika kita hanya berdiam di rumah... kita harus keluar.. dan tunjukkan pada dunia.. jika Mongol terdiri dari orang - orang pemberani.. kuat dan tangguh " lanjut Kaisar Yong Zheng.
" Malam ini.. tidurlah dengan nyenyak.. mulai besok..kita tidak akan lagi tidur dengan nyenyak...karena besok adalah barulah sebuah awal bagi kita untuk menaklukkan seluruh daratan ini..."tutup Kaisar Yong Zheng lalu berjalan kembali ke tendanya diiringi oleh Jendral Tian Li dan Pangeran Shun Kwo.
__ADS_1
"Pangeran...sampaikan pada seluruh prajuritmu.. kalau mereka yang akan menyerang lebih dulu " ujar Kaisar Yong Zheng sambil terus berjalan dan kemudian mengibaskan tangannya memberi perintah pada pangeran Shun Kwo untuk pergi.
Jendral Tian Li merasa ada yang aneh dengan perintah yang baru saja diberikan oleh Yong Zheng, tapi dia menahan diri untuk tidak menanyakannya sebelum Shun Kwo meninggalkan mereka.
"Baik Yang mulia.. " jawab Shun Kho lalu pergi menuju pasukannya.
Jendral Tian Li menunggu Shun Kwo menjauh dan keduanya sampai ke ruangan khusus milik kaisar.
"Yang mulia.. sepertinya rencana yang baru saja yang mulai sampaikan pada Shun Kwo belum kita bicarakan sebelumnya" ujar Tian Li pada Yong Zheng.
"Aku mempunyau rencana khusus untuknya.. dan aku tidak ingin pasukannya mengkhianati kita jika pasukan kita terdesak.. dan aku akan menempatkan mereka di barisan terdepan untuk menghadapi panah - panah kekaisaran Ming " jawab Kaisar Yong Zheng. Jendral Tian Li mengangguk tanda mengerti akan penjelasan Kaisar.. sebuah hal yang tidak pernah dipikirkannya.. tapi mengingat Shun Kwo hanya menempel pada Kekaisaran Qing untuk merebut kekuasaan, bukan tidak mungkin jika situasi terjadi diluar perkiraan.. dia akan mencari selamat sendiri.
***
" Jendral... " teriak seorang pria dari atas kuda yang sedang berlari kencang dan ketika melintas di depan tenda yang ditempati oleh Jendral Chou.. pria tersebut melompat turun dan langsung masuk menemui Jendral Chou.
"Jendral.. pasukan Kekaisaran Qing sudah bergerak...dan mungkin akan sampai saat fajar.. " ujar pria itu sambil berlutut memberi hormat.
"Hmm.. rupanya mereka sudah memulainya.. " ucap Jendral Chou tetap terlihat tenang.. meskipun dalam hatinya dia merasa sedikit gusar.
"Hamba kurang tau pasti Jendral.. tapi mereka bergerak dalam jumlah yang sangat besar.. perkiraan hamba.. jumlah mereka mungkin sekitar lebih dari tiga ratus ribu orang " jawab pria itu.
"Hmmm.... segera perintahkan orang untuk meneruskan berita ini ke ibukota.. dan sampikan pada prajurit kita untuk mempersiapkan diri " ujar Jendral Chou lalu sambil mengenakan baju zirah miliknya.
"Baik Jendral.. " ujar pria itu lalu segera keluar dari tenda dan langsung menuju pada penabuh genderang untuk memberikan tanda jika pasukan musuh sudah akan menyerang.
Suara genderang perang yang diiring terompet tanda untuk bersiap mengagetkan prajurit - prajurit Kekaisaran Ming yang sedang beristirahat...Matahari belum juga menampakkan dirinya tapi Jendral Chou sudah berada diatas podium menunggu seluruh prajuritnya mempersiapkan diri dan berkumpul.
"Prajurit - prajuritku sekalian.. " ucap Jendral Chou dengan keras.
"Hari ini.. adalah waktu untuk memperlihatkan kesetiaan kita pada Kaisar dan seluruh penduduk Kekaisaran Ming... "
"Hari ini... Langit akan menjadi saksi keberanian kita... "
__ADS_1
"Hari ini.. Tanah ini akan menjadi saksi akan kecintaan kita padanya.. "
"Hari ini... kita akan menunjukan pada orang - orang Mongol itu.. kalau orang - orang Man Zu adalah orang - orang yang pantang menyerah "
"Hari ini... kita akan buktikan pada mereka..bahwa dewa akan berpihak pada kita...!!! " Ujar Jendral Chou Sambil mengacungkan tongkat pedangnya yang disambut dengan teriakan penuh semangat turut mengacungkan berbagai senjata yang mereka bawa.
Genderang kembali ditabuh setelah Jendral Chou selesai berpidato dan langsung menuju kudanya dan kemudian menuju tempat yang cukup tinggi untuk bisa melihat keluar benteng.
Terompet dan panji yang dikibarkan memberi tanda para seluruh pasukan Kekaisaran Ming untuk mengambil posisi sesuai dengan divisi pasukannya..semua pergerakan mereka sudah direncanakan dan terkoordinasi dengan baik..
Dua ribu orang pemanah sudah menempati posisinya..puluhan busur panah mekanik yang mempu melesatkan seratus anak panah dalam sekali tembak juga sudah berada pada posisinya.. pelontar - pelontar juga sudah dipasangi bola besi yang berukuran besar.
"Jendral... seratus ribu pasukan yang dijanjikan oleh kaisar sedang dalam perjalanan ke sini.. sedangkan prajurit dari kota terdekat akan sampai dalam satu hari " ujar Ken yang baru saja sampai dan langsung mengambil tempat disamping Jendral Chou.
"Berapa lama pasukan dari ibukota akan sampai di sini..? " tanya Jendral Chou pada Ken yang juga sudah berpakaian lengkap tanpa menoleh sedikitpun dan tatapannya tetap lurus kedepan menunggu kehadiran pasukan Kekaisaran Qing muncul.
"Mungkin tiga atau empat hari Jendral " jawab Ken singkat.
"Hmm.. aku tidak yakin kita akan dapat bertahan selama itu " ujar Jendral Chou sambil menoleh pelan pada Ken..
Ken bisa merasakan kekhawatiran dari raut wajah Jendral Chou.. Ken juga bisa merasakan jika musuh yang akan mereka hadapi berjumlah lebih besar dan semua itu tergambar dari raut wajah Jendral Chou.
"Ken.. kita sudah lama bersama.. dan sudah banyak melewati banyak medan pertempuran bersama - sama.. aku harap.. ini bukan medan pertempuran kita yang terakhir " ujar Jendral Chou saat derap langkah kaki pasukan kekaisaran Qing mulai terdengar.. bersamaan dengan terbitnya sang fajar.. secara perlahan - lahan muncul dihadapan mereka pasukan dengan jumlah yang sangat besar..
Pasukan itu juga membawa puluhan pelontar serta tangga - tangga yang dibuat menyerupai menara. Tampak bendera Kekaisaran Qing yang berlambang singa emas berkibar.. Jumlah pasukan yang sangat banyak itu membuat jantung prajurit kekaisaran Ming yang bisa menyaksikan langsung berdebar - debar tidak menentu.
Dua orang yang mengendarai kuda kemudian mendekat.. salah satu diantara mereka membawa bendera kebesaran kekaisaran Qing.. melihat hal itu.. Jendral Chou memerintahkan untuk membuka gerbang dan dengan ditemani Ken yang membawa bendera Kekaisaran Ming menemui kedua orang tersebut.
"Jendral Tian Li... aku sudah banyak mendengar tentangmu.. aku tidak menyangka kita akan bertemu langsung hari ini " ujar Jendral Chou dengan senyum sinis.
"Aku cukup tersanjung mendengarnya Jendral Chou.. tapi itu bukan berarti aku akan bersikap lunak pada kalian.. " jawab Jendral Tian Li dengan senyum mengejek.
"Hahaha.. kami juga tidak akan bersikap lembut pada orang - orang yang akan merebut tanah kami jendral.. " ujar Jendral Chou sambil tertawa.
__ADS_1
"Hahaha.. Jendral Chou.. aku membawa hampir empat ratus ribu pasukan bersamaku... mungkin kamu akan mempertimbangkan kembali ucapanmu.. " jawab Jendral Tian Li.
"Kita akan buktikan.. kami akan menunjukan pada kalian jika orang Man Zu bukanlah orang yang lemah.. " ujar Jendral Chou lalu memutar kudanya kembali ke dalam benteng dan diiringi oleh Ken.. Pintu benteng yang sangat tebal ikut terangkat bersamaaan dengan masuknya kedua petinggi kekaisaran Ming tersebut.