
Wong Fei tersenyum melihat kedatangan Wing Chun dihadapannya..
" Sudah lama sekali.. aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi.." ujar Wing Chun.
"Aku juga tidak menyangka.. kamu akan menggunakan pusaka milik guruku.." jawab Wing Chun.
***
Wing Chun dan Wong Fei dulunya adalah murid sama - sama murid dari Kuil Dewa Api.. umur mereka juga tidak terpaut jauh..Wing Chun tiga tahun lebih tua daru Wong Fei.. Wing Chun merupakan murid kesayangan Gei Chu..
Gei Chu adalah pimpinan tertinggi Kuil Dewa Api.. dan merupakan orang terkuat di sekte itu. Karena usianya yang sudah sangat sepuh.. Gei Chu berencana memberikan kursi kepemimpinan tertinggi pada Wing Chun yang menurutnya memiliki kebijaksanaan lebih tinggi dari siapa pun yang ada dalam sekte tersebut.
Tentu saja hal itu tidak mendapatkan persetujuan dari delapan pimpinan lainnya.. sehingga menyulut perpecahan mereka dengan Gei Chu. Meskipun Gei Chu seorang diri dan hanya dibantu oleh beberapa orang muridnya.. tapi kedelapan pimpinan tersebut tidak mampu menandingi kehebatannya. Akhirnya.. strategi licik dijalankan.. Wong Fei yang juga merupakan salah seorang murid dari Gei Chu diperintahkan untuk menaruh racun dalam minuman Gei Chu. Wong Fei dijanjikan akan menerima uang yang sangat banyak serta diijinkan mempelajari kitab rahasia milik sekte Kuil Dewa Api jika berhasil menjalankan misinya.
Racun tersebut merupakan racun yanv diperoleh dari salah satu sekte aliran hitam yang menggunakan racum sebagai senjata utama. Racun tersebut tidak berbau dan berrasa.. sehingga Gei Chu tidak merasakan jika dirinya telah diberi racun.. belum lagi.. Wong Fei yang saat itu baru berusia tujuh belas tahun tentu saja Gei Chu tidak menaruh curiga padanya.
__ADS_1
Racun tersebut tidak serta merta membunuh Gei Chu tapi secara perlahan - lahan melemahkan kekuatannya.. Gei Chu yang semakin hari semakin lemah akhirnya tidak dapat lagi melawan kedelapan pimpinan lainnya.. dan akhirnya dia melepaskan kursi kepemimpinan yang telah lama di dudukinya dengan syarat.. murid - murid yang berada dibawah asuhannya langsung dibiarkan pergi meninggalkan Kuil Dewa Api.
Wing Chun dan beberapa murid lain yang berada dibawah bimbingan Gei Chu.. akhirnya meninggalkan Kuil Dewa Api.. hanya Wong Fei yang tidak ikut bersama mereka. Hal itu menyebabkan murid - murid Gei Chu merasa curiga jika Wong Fei telah membelot.. tapi semua sudah terlanjur... mereka sudah terusir dari Kuil Dewa Api.. dan dibawah pimpinan Wing Chun.. beberapa murid tersebut mengasingkan diri di Gunung Hang Chu..
Wing Chun terus giat berlatih hari demi hari untuk membalaskan dendam gurunya yang terpaksa harus mengorbankan dirinya demi keselamatan mereka.. tapi.. pada suatu malam.. Wing Chun bermimpi.. Gei Chu datang berkunjung di Kuil Gunung Hang Chu..Gei Chu berpesan padanya untuk menghilangkan semua dendam yang ada dihatinya.. Gei Chu meminta agar Wing Chun tetap menjaga kebijaksanaan dalam hatinya dan terus membesarkan sekte Kuil Hang Chu.... sampai pertemuan Wing Chun dan Wong Fei hari ini..
***
" Aku sudah melupaka semua perbuatan kalian pada guruku.. tapi.. aku tidak menyangka.. orang yang seharusnya menjadi biksu sepertimu malah menjadi pendekar bayaran.. " ujar Wing Chun dan mulai memasang kuda - kuda..
Kedua pendekar sepuh itu saling bertukar jurus.. kemampuan keduanya boleh dibilang berimbang.. kedua pendekar itu hanya sesekali menginjakkan kakinya di tanah.. sedangkan udara adalah tempat pertarungan mereka.. puluhan jurus.. ratusan jurus dan bahkan sudah ribuan jurus mereka bertukar serangan.. tapi belum juga ada yang memberi celah pada lawannya.. arena pertarungan keduanya juga semakin jauh meninggalkan arena pertempuran dimana Chen Khu dan Xie Annchi sudah terlihat lebih kompak dalam melakukan kombinasi serangan menghadapi pendekar atau prajurit - prajurit dari Kekaisaran Qing.
Chen Khu masih menyimpan tenaga dalam miliknya sebab dia yakin...tiga orang pendekar yang sebelumnya menjadi lawannya akan menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya...dan firasat Chen Khu benar.. dua orang pendekar yang sebelumnya menjadi lawan Chen Khu terus mengamati Chen Khu dari jauh.. sedangkan satu orang lagi.. terlihat sibuk melindungi kaisar Yong Zheng yang ikut terjun dalam medan pertempuran.
Meskipun Chen Khu sangat irit dalam menggunakan tenaga dalam.. tapi itu bukanlah masalah jika berhadapan dengan pendekar setingkat level tiga atau level empat apalagi jika menghadapi prajurit - prajurit yang berkemampuan setara pendekar level satu atau level dua.
__ADS_1
Chen Khu akan segera menghindar jika bertemu lawan yang berada pada tingkatan level lima atau level enam.. dan Xie Annchi langsung menggantikan Chen Khu untuk menghadapi mereka.
Pertempuran sudah melewati tengah hari.. dan sudah tidak terhitung nyawa yang melayang..Chen Khu dan Xie Annchi ibarat sepasang malaikat pencabut nyawa bagi pasukan Kekaisaran Qing.. sudah ribuan orang tewas ditangan keduanya.. dan hal itu membuat kekuatan pasukan menjadi tidak berimbang.. jumlah pasukan Ming yang semula sedikit dibawah pasukan Qing kini berbalik unggul dalam jumlah.
Kaisar Yong Zheng memerintahkan pengawal pribadi yang terus mendampinginya untuk memerintahkan dua orang rekannya yang lain agar menghentikan Chen Khu dan Xie Annchi yang terus mengurangi jumlah pasukannya dengan cepat.
Pengawal itu lalu memberi tanda pada kedua rekannya untuk segera menghadapi Chen Khu. Kedua pendekar itu segera melompat dari atas kuda dan menuju pada Chen Khu dan Xie Annchi yang dengan sangat lincah meliuk - liuk diantara prajurit - prajurit Qing dan membunuh yang ada dalam jangkauan pedang mereka.
"Kita bertemu lagi " ujar Chen Khu pada kedua pendekar yang sudah berada di depannya.
"Annchi.. ini urusan laki - laki.. segaralah menjauh.. " ujar Chen Khu kembali pada Xie Annchi agat tidak ikut campur dalam pertarungannya kali ini.. mengingat kemampuan kedua pendekar yang akan dihadapinya sangat jauh melebihi kemampuan yang dimiliki oleh Xie Annchi.
Xie Annchi mengerti akan maksud Chen Khu.. dia hanya akan menjadi beban bagi Chen Khu jika ikut dalam pertarungan itu.. Xie Annchi lalu pergi membantu ayahnya yang sudah kehabisan kunai dan terpaksa harus melakukan pertarungan jarak dekat.
Dua orang pendekar itu menelan ludah sebab merasakan gelombang tenaga dalam yang dimiliki oleh Chen Khu masih sangat tinggi sedangkan menurut pengamatan mereka..Chen Khu sudah bertarung lebih dari setengah hari.
__ADS_1
"Tunggu apalagi.. ayo kita mulai.. " ujar Chen Khu dan langsung maju menyerang kedua lawannya itu.