Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
13. Tengkorak di Lembah Kematian


__ADS_3

Setelah pagi tiba, mereka langsung melanjutkan perjalanan mereka. Baru setengah hari perjalanan , mereka dikejutkan oleh tengkorak yang banyak berserakan di sana. Sebuah pemandangan yang terlihat sangat mengerikan sedang mereka saksikan. Mereka berjalan sambil terus bertanya mengenai tengkorak yang berserakan , di sana juga terlihat ada mayat yang baru mulai membusuk.


Mereka tidak bisa memastikan mayat siapa yang berada di sana. Dari pakaiannya, nampak terlihat dia bukan orang sembarangan. Bajunya terlihat mewah dengan perhiasan yang menempel di sana. Ada kemungkinan itu adalah mayat dari seorang punggawa kerajaan. Atau mungkin mayat seorang saudagar .


Saat didekati, baunya sudah sangat menyengat. Di sana juga terlihat banyak luka. Sepertinya ia kalah dalam bertarung. Tapi lawan siapa juga tiga orang ini belum bisa memastikannya. Siapapun itu, yang jelas ilmunya berada di atas mayat itu.


"Kira-kira ini siluman atau manusia yang melakukannya? sepertinya tantangan lembah Kematian baru dimulai. Soalnya kemarin kita cuma berhadapan dengan satu siluman yang lemah," kata Dewi Ratih mulai menyimpulkan.


"Bisa jadi. Lagipula memang disini suasananya lebih seram dibandingkan tempat sebelumnya. Padahal ini siang hari, tapi aroma Kematian nampaknya lebih berasa," Laksminiingrum setuju.

__ADS_1


"Kalau begitu, mulai dari sini kita harus berhati-hati. Jangan sampai nasib kita sama seperti orang-orang yang telah mati disini," kata Erlangga. Ia sepakat dengan kedua rekannya itu.


"Mulai dari sini kita tidak boleh terpisah apapun yang terjadi sampai kita menemukan perumahan penduduk," lanjutnya.


Kedua temannya itu sepakat. Lagipula itu demi keselamatan mereka. Jika ada musuh menyerang paling tidak bisa meminimalisir resiko. Walaupun tidak ada jaminan untuk selamat.


"Semuanya menunduk!" tak lama setelah berjalan, Erlangga berkata. Ia nampaknya menyadari sesuatu. Tak lama setelah ia berkata begitu, sebuah bayangan terlihat menyerang mereka. Untung saja bisa dihindari. Namun sayangnya, bayangan itu menyerang beberapa kali, walaupun begitu tetap saja bisa dihindari.


"Lembah Kematian yang sesungguhnya? Memangnya kamu itu siapa" tanya Dewi Ratih dengan ucapan yang terdengar angkuh.

__ADS_1


"Aku adalah dewa yang akan mengantarkan kalian semua ke neraka, jadi sekarang bersiaplah!" katanya dengan sikap angkuh.


"Siapa juga yang mau mati disini?" Dewi Ratih tanpa aba-aba langsung menyerang. Namun baru beberapa jurus ia langsung terjatuh. Melihat hal itu, Erlangga menyuruh Laksminingrum untuk tidak bertindak gegabah.


"Cuma segitu kemampuanmu cah manis? Sungguh mengecewakan. Apa kau pikir dengan kemampuanmu itu sudah cukup?" dengan santainya ia berkata begitu. Laksminingrum yang tidak dapat menahan segera ikut menyerang. Dibukanya sarung pedang miliknya itu.


Pertarungan terjadi lumayan lama. Pedang pusaka itu seperti sedang menari di atas udara. Terlihat begitu indah gerakan Laksminingrum mengayunkan pedangnya itu.


"Kamu lumayan hebat juga. Tapi gerakan mu itu terlalu lamban. Kamu sama sekali tidak cocok untuk menggunakannya," sambil tertawa seakan berada di atas angin ia berkata.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu caranya menggunakan pedang yang baik rupanya," ia masih berkata dengan nada mengejek saat melihat Laksminingrum nampak sedikit frustasi karena lawannya itu belum tumbang juga.


"Kamu tidak ingin bertarung juga? Lihatlah kedua perempuan ini, dimana harga dirimu?" pria itu berkata dengan mengejek Erlangga. Mendengarnya Erlangga tidak mampu menahan emosinya. Dalam sekejap ia masuk kedalam arena pertarungan.


__ADS_2