Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#94. Gangguan Siluman. II


__ADS_3

Pagi buta.. Shiva sudah datang hendak membangunkan Chen Khu yang akan mengikuti rombongan pasukan Mathanadeva untuk melawan Siluman harimau putih, tapi betapa terkejutnya Shiva saat sampai dan rupanya Chen Khu sedang melakukan peregangan.


"Apakah kita sudah akan berangkat Shiva..? " tanya Chen Khu pada Shiva yang sudah mengenakan pakain perang.


"Iya tuan muda.. aku ke sini hendak membangunkan tuan muda.. tapi rupanya tuan bangun lebih awal.. " jawab Shiva sambil tersenyum lirih.


"Mari tuan.. maharaja sudah menunggu kita " ucap Shiva melanjutkan.. lalu memberikan tali kekang salah satu dari dua ekor kuda yang dibawanya..


"Eeh.. Shiva.. mmm... bagaimana kalau kita menggunakan satu ekor kuda saja.. aku akan naik dibelakang.. " ujar Chen Khu dengan senyum kecut.. sebab selama ini memang belum pernah mengendari kuda.


"Baiklah kalau seperti itu yang tuan inginkan " jawab Shiva lalu melompat ke punggung kuda sambil menggelangkan kepala lalu disusul oleh Chen Khu yang duduk di belakangnya. Shiva bisa mengetahui maksud Chen Khu tapi dia mencoba untuk menahan tawanya agar Chen Khu tidak tersinggung..


"HIIIAAAAA... !!"


Shiva memacu kuda menuju sebuah tanah lapang yang sudah dipenuhi ratusan prajurit serta puluhan pendekar yang sudah berpakaian lengkap, dan Shiva kemudian mengarahkan kudanya pada sebuah kereta kuda yang ditumpangi oleh maharaja Mathanadeva.


"Cepat sekali..??" tanya Mathanadeva sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta.


"Tuan Chen Khu sudah siap saat saya sampai yang mulia jadi saya tidak perlu untuk menunggunya " jawab Shiva.


Mathanadeva mengangguk pelan lalu matanya tertuju pada Chen Khu yang duduk di belakang Shiva.


"Bagaimana kondisimu Chen Khu.. apa kamu masih merasa kurang sehat sehingga harus berkuda bersama Shiva..? " tanya Mathanadeva


"Mmm.. bukan begitu yang mulia.. aku hanya lebih senang jika duduk di belakang.. " jawab Chen Khu sambil tersenyum kecut.


"Hahahaha.. naiklah bersamaku Chen Khu..aku tidak menyangka kalau ada pendekar yang tidak bisa mengendarai kuda..Putriku Aahana saja lebih senang berkuda sendiri.. " ujar Mathanadeva sambil tertawa.. dan disambut gelak tawa oleh pendekar - pendekar yang ada didekatnya.

__ADS_1


Maharaja Mathanadeva sebenarnya masih meragukan kondisi Chen Khu.. yang meskipun mengaku sudah memulihkan enam puluh perseb kekuatannya tapi Mathanadeva sama sekali tidak bisa merasakan pancaran aura kekuatan yang dimiliki oleh Chen Khu.


"Aku disini saja bersama Shiva yang mulia " jawab Chen Khu sambil menggaruk kepalanya.


"Sudahlah kamu disini saja.. Shiva itu seorang joki yang handal.. dan kuda yang ditungganginya itu juga merupakan salah satu dari kuda - kuda tercepat yang kami miliki.. jadi sebaiknya kamu bersamaku saja " ujar Mathanadeva kembali.


"Baiklah yang mulia..! "jawab Chen Khu lalu melompat turun dari punggung kuda lalu naik kereta kuda bersama Mathanadeva.


"Khan.. kita berangkat sekarang.. !!" Perintah Mathanadeva pada Panglima Khan yang duduk diatas kuda tepat disamping kereta yang ditumpangi oleh Mathanadeva.


"Sejak tadi.. aku tidak melihatmu membawa pedang..?! tanya Mathanadeva pada Chen Khu setelah Chen Khu duduk dihadapannya.


"Aku menyimpannya di sini yang mulia.. " jawab Chen Khu lalu mengeluarkan kantong ajaib miliknya dari balik jubah yang dikenakannnya.


"mmm.. kantong lusuh itu..? " tanya Mathanadeva seolah tidak percaya sambil menggosok matanya..


"Kantong ini adalah pusaka pemberian guruku.. dan kantong ini bisa menyimpan benda apa saja asalkan benda itu terbuat dari benda mati atau makhluk hidup yang sudah tidak bernyawa " jawab Chen Khu lalu memasukkan kembali kantong ajaib miliknya kedalam jubah.


" Iya yang mulia..kantong ini sangat berguna.. jadi aku tidak perlu membawa banyak barang saat berkelana.. dan orang - orang tidak akan mengetahui jika aku juga adalah seorang pendekar pedang, sebab aku menyimpan semuanya dalam kantong ini " jawab Chen Khu lalu memasukkan kembali tangannya kedalam jubah dan saat dikeluarkan.. tangannya sudah menggenggam pedang halilintar.


"Ini seperti sihir..!! dan kalau tidak melihatnya langsung.. rasanya sulit untuk percaya.. " ucap Mathanadeva terkejut melihat pedang dengan panjang lebih dari satu meter dikeluarkan dari dalam jubah Chen Khu.


Chen Khu tidak lagi menanggapi ucapan Mathanadeva.. dia hanya tersenyum melihat reaksi Mathanadeva lalu memasukkan kembali pedangnya kedalam jubah..


"Yang mulia.. berapa lama perjalanan untuk sampai ke daerah yang diserang oleh siluman itu..? " tanya Chen Khu kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Jika tidak ada masalah di jalan.. kita akan sampai di kota Chennai saat malam hari.. dan semoga saja kita masih bisa menyelamatkan penduduk di sana " jawab Mathanadeva dengan pandangan menerawang jauh kedepan.

__ADS_1


Chen Khu menganggukan kepala lalu terdiam seribu bahasa.. dia menikmati derap langkah kaki kuda yang terdengar sangat kompak dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Derap langkah ratusan ekor kuda itu menyisakan debu beterbangan di sepanjang jalan yang mereka lalu.. dan disepnajang jalan itu juga.. para penduduk mengelu - elukan nama Mathanadeva.


Bagi penduduk Gurjara.. Mathanadeva memang layak dibanggakan dan dicintai, sebab.. selain memimpin dengan bijak..dia juga tidak segan - segan untuk turun langsung membantu masyarakatnya yang ditimpa kesusahan, bahkan beberapa minggu dalam satu tahun.. Mathanadeva akan menyamar menjadi masyarakat biasa untuk memeriksa keadaan rakyatnya..


Hal ini dilakukannya.. agar tidak ada lagi pimpinan - pimpinan wilayah yang memberikan laporan palsu tentang kesejahteraan rakyat padanya.. sudah lima walikota yang dipancung karena memberikan laporan palsu padanya.. para walikota itu memberikan laporan jika daerah mereka sudah tidak ada masyarakat yang miskin, tapi saat mengembara dengan menyamar sebagai rakyat biasa.. Mathanadeva menjumpai masih banyak rakyatnya yang kelaparan. Akhirnya.. para walikota itu dihukum pancung dan dipertontonkan di hadapan warga ibukota.. Mathanadeva berharap.. dengan hukuman seperti itu maka setiap walikota akan bersungguh - sungguh melayani warganya, bukan malah mengeyangkan perut sendiri sedangkan masih banyak rakyat yang kelaparan, tapi memberikan laporan - laporan palsu hanya untuk sekedar menyenangkannya.


Sudah setengah hari perjalanan.. tapi rombongan Mathanadeva belum menurunkan kecepatan mereka.. hingga akhirnya Khan mengangkat tangan kananya memberi tanda pada rombongan untuk berhenti ditepi sebuah danau. Rombongan itu kemudian berhenti.. dan para pengawal dengan sigap turun dari kuda mereka masing - masing lalu membangun sebuah tenda sederhana untuk digunakan sebagai tempat istirahat Mathanadeva.


"Ada apa Khan..? kenapa kita berhenti..? " tanya Mathanadeva dari dalam kereta.


"Sudah setengah hari kita berkuda yang mulia..dan sepertinya kita harus mengistirahatkan kuda - kuda tunggangan kita " jawab Khan.


"Baiklah kalau begitu.. aku harap.. ada seseorang yang berbaik hati untuk mencarikan seeokor ayam hutan.. sebab sepertinya.. tamuku dari daratan tengah ini belum makan.. " ujar Mathanadeva lalu turun dari keretanya diikuti oleh Chen Khu yang terus - terusan menggaruk kepalanya menuju tenda yang sudah disiapkan oleh pengawalnya.


Seluruh anggota rombongan Mathanadeva beristirahat di tepi danau.. Kuda - kuda mereka juga yang sudah terus berlari selama setengah hari seperti tidak ingin melewatkan kesempatan untuk minum.. salah seorang pengawal terlihat mendatangi tenda yang ditempati oleh Mathanadeva sambil menenteng seekor ayam hutan yang sudah di bakar.


Pengawal yang berjaga di depan tenda lalu mengambil ayam tersebut dan membawanya ke dalam.


"Chen Khu.. makanlah..!! "ujar Mathanadeva lalu memerintahkan pengawal tersebut menyerahkan ayam hutan yang dibawanya pada Chen Khu.


Chen Khu tertunduk malu sambil tersenyum sendiri mengingat perlakuan sang Maharaja yang sangat perhatian perhatian padanya.


Kurang lebih satu jam rombongan itu beristirahat.. Mathanadeva kemudian memerintahkan untuk kembali melanjutkan perjalanan sebab mereka juga berpacu dengan waktu,dan benar saja saat hari mulai gelap rombongan tersebut mulai memasuki pinggiran kota tapi Khan kembali menghentikan rombongan itu secara tiba - tiba.


"BERHENTII..!! " teriak Khan

__ADS_1


"Ada apa lagi Khan..?? apa kita sudah sampai..? " tanya Mathanadeva dari dalam kereta.


"Maaf yang mulia.. sebaiknya yang mulia melihat sendiri " jawab Khan dengan suara berat dan agak terbata - bata.


__ADS_2