Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#83. Perbatasan. VIII


__ADS_3

Seorang gadis muda tampak berkeliling kesana kemari mencari seseorang.. Gadis itu tidak lain adalah Xie Annchi yang sejak tadi tidak terlihat olehnya pemuda yang dicari - carinya. Dia juga menanyakan keberadaan Chen Khu pada beberapa orang tapi jangakan melihat.. kenal saja dengan orang yang bernama Chen Khu saja tidak..


Jendral Chou melihat Xie Annchi yang terlihat kebingungan seperti sedang mencari seseorang. Jendral Chou segera turun dan menghampiri Xie Annchi.


"Chen Khu sepertinya sedang memulihkan kekuatannya " ujar Jendral Chou dari arah belakang..


"Jendral...!! " ujar Xie Annchi terkejut lalu tertunduk malu sebab Jendral Chou mengetahui maksud kegelisahannya.


"Tadi pagi aku sempat berbincang dengannya yang bersama salah seorang tetua sekte Kuda Terbang.. tapi setelah itu aku tidak tau dua kemana " ujar Jendral Chou..


"Oh ya.. bagaimana kabar Fan Bingbing..? " lanjut Jendral Chou


" Dia Sebenarnya ingin ikut bersama kami Jendral.. tapi ketua tidak mengijinkannya.. sebab ketua khawatir akan keselamatannya.. saat ini dia bersama Jian Ying serta murid - murid muda berada di sekte.." jawab Xie Annchi.


Perbincangan berlanjut antara Xie Annchi dan Jendral Chou.. tapi saat Jendral Chou menanyakan perkembangan latihan putrinya.. Xie Annchi tidak bisa menjawab dan meminta Jendral Chou untuk menanyakan hal itu secara langsung pada Bao Yu.


Hari sudah lewat tengah hari dan prajurit Kekaisaran Qing sudah hampir menyelesaikan pekerjaan mereka untuk menguburkan rekan - rekan mereka.. semua gerik - gerik mereka terus diawasi oleh pemanah - pemanah dari Kekaisaran Ming tanpa lengah sedikitpun.. kali ini mereka tidak ingin lagi kecolongan karena mereka tidak tau rencana apa yang sedang dipersiapkan oleh Jendral Tian Li.


"Baru dua haru berpisah tapi kamu sudah merindukanku " terdengar suara dari arah belakang Xie Annchi yang duduk seorang diri agak jauh dari rekan - rekannya sesama anggota sekte Kuda Terbang.


"Kakak..!! " ujar Xie Annchi sambil memukul pundak Chen Khu dengan manja.


"Aku hanya ingin mengetahui keadaan kakak.. tidak ada maksud lain " ujar Xie Annchi melanjutkan dengan wajah cemberut.


"Hahaha.. ooh.. begitu rupanya.. jadi kamu tidak merindukanku.. hmm.. baiklah.. kalau seperti itu.. akan pergi saja " ucap Chen Khu lalu membalikkan badan hendak pergi meninggalkan Xie Annchi.


"Kakak.. jangan seperti itu.. " ujar Xie Ancchi dengan nada manja..


Chen Khu kemudian kembali membalikkan badannya.. kali ini Xie Annchi memberikan senyuman termanisnya untuk Chen Khu..

__ADS_1


"Huh... tidak usah berwajah manis seperti itu.. apa guru ikut bersama anggota sekte yang lain " ujar Chen Khu.


Hati Xie Annchi terasa remu redam mendengar ucapan Chen Khu yang malah menanyakan tentang gurunya daripada memuji senyuman terbaiknya..


"Iya.. ayah bersama anggota sekte yang lain " jawab Xie Annchi singkat lalu pergi meninggalkan Chen Khu dan bergabung kembali dengan anggota sekte Kuda Terbang lainnya dangan wajah cemberut.


Chen Khu hanya tertawa melihat tingkah putri gurunya tersebut.. meskipun dalam hatinyapun dia tidak bisa memungkiri jika dia sudah mempunyai perasaan lain sejak awal bertemu Xie Annchi..apalagi saat mereka berdua berlatih bersama selama hampir satu tahun.. Chen Khu merasa jika perasaannya pada Xie Annchi juga semakin besar.. hanya saja dia berusaha membendung perasaan itu karena merasa tidak enak hati pada gurunya.


Chen Khu lalu mengikuti Xie Annchi untuk bergabung dengan sesama anggota sekte Kuda Terbang.. Chen Khu duduk disamping gurunya.. keduanya lalu berbincang layaknya dua orang sahabat.. hanya saja Chen Khu tetap menjaga sikapnya layaknya seorang murid.


Xie Jiang berterima kasih pada Chen Khu yang telah berhasil membantu perkembangan ilmu beladiri Xie Annchi sampai menjadi seperti sekarang ini. Chen Khu hanya tersenyum mendengar ucapan gurunya..


"Aku tidak banyak membantu guru.. Annchi memang berbakat " ujarnya pelan.


Siang itu berlalu begitu saja lewat obrolan dan senda gurau yang terjadi dalam benteng.. gencatan senjata rupanya mampu sedikit meredakan ketegangan.. Bao Yu dan Bao Kung juga terlihat berbincang - bincang.. kedua saudara kandung itu tampak sangat akrab. Jika selama ini keduanya boleh dibilang saling menjaga jarak.. tapi saat ini, tingkah keduanya seperti dua orang anak yang baru berusia belasan tahun yang baru saja selesau bermain. Mungkin saja.. kejadian yang baru saja menimpa Bao Kung menjadikan kedua bersaudara itu takut untuk kehilangan satu sama lain.


Senja mulai menebar pesonanya.. cahaya matahari yang kemerahan terlihat di ufuk barat.. tapi menjelang datangnya malam.. membuat Jendral Chou merasa kembali was - was.. dia terus memikirkan rencana yang akan dilakukan oleh Kaisar Yong Zheng selanjutnya.


Malam itu.. kedua kubu tidak lagi ada yang berani menyalakan api.. masing - masing dari mereka tidak ingin posisinya terlihat oleh musuh dari kejauhan..


Jendral Tian Li berjalan mondar - mandir di dalam tenda bersama Kaisar Yong Zheng.


"Ada apa Jendral..?? baru kali ini aku melihatmu gelisah..? " ujar Kaisar Yong setelah Jendral Tian Li terus berjalan mondar - mandir.


" Hari sudah malam yang mulia.. aku tidak sabar menunggu pendekar itu " jawab Jendral Tian Li.


"Kita tunggu saja.. Jendral.. sebaiknya beristirahatlah " ujar Kaisar Yong.


Malam begitu sepi.. hanya sesekali terdengar suara lolongan serigala.. Chen Khu yang sudah memisahkan diri dari kelompok sekte Kuda Terbang.. duduk bersila dan ditemani oleh Xie Annchu.. sudah dua jam lebih Chen Khu bermeditasi, untuk memulihkan seluruh tenaganya. Chen Khu mempunyai firasatat jika besok akan ada pertarungan yang lebih hebat.. meskipun jagoan - jagoan beladiri dari kekaisaran Ming sudah berkumpul tapi kemungkinan besok Kaisar Yong Zheng akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghentikan perlawanan mereka.

__ADS_1


" Aku harap perang ini segera berakhir.. " ujar Chen Khu setelah mengakhiri meditasinya.


"Aku juga berharap hal yang sama kak.. aku ingin berlatih lebih keras untuk meningkatkan kekuatan fisikku " jawab Xie Annchi yang telah membuat banyak goresan - goresan di tanah selama menunggu Chen Khu bermeditasi.


" Aku juga ingin secepatnya bisa menggunakan Pedang Penguasa Langit.. lalu kemudian mencari ayahku.. entah bagaimana keadaannya saat ini " ujar Chen Khu kembali.


"Setelah semua ini selesai.. apakah kakak akan kembali berkelana seorang diri..? " tanya Xie Annchi.


"Sepertinya begitu " jawab Chen Khu singkat.. Raut muka Xie Annchi langsung berubah.. tapi gelapnya malam menutupi semuanya.. sambil bertopang dagu dia kembali menggores tanah menggunakan kayu yang ada ditangannya..Keheningan terjadi diantara keduanya..


Derapa langkah kaki kuda terdengar dari kejauhan saat fajar baru saja menampakkan dirinya.. dari suaranya.. orang - orang bisa menebak jika derap langkah kaki kuda itu terdiri dari puluhan ribu orang.


"Akhirnya mereka sampai juga " ujar Jendral Chou pada Ken yang selalu setia bersamanya.


"Semoga saja jumlah mereka seperti apa yang Kaisar janjikan " jawab Ken.


"Jendraaall...!! Pasukan dari ibukota sudah sampai " teriak salah seorang prajurit yang datang menunggang kuda.


"Jendral.. Pasukan dari ibukota sudah memasuki gerbang.. " prajurit tersebut kembali memberikan laporan.


Tidak lama kemudian.. sekitar seratus ribu prajurit memasuki benteng.


" Jendral.. Aku membawa seratus ribu prajurit sesuai yang dijanjikan oleh Kaisar " ujar Ryu sambil memberi hormat pada Jendral Chou.


Ryu yang merupakan salah seorang pengawal pribadi Kaisar Shun Zhi.. dia bersama tiga orang rekannya diperintahkan untuk membawa seratus ribu prajurit untuk membantu Jendral Chou.


Jendral Chou memerintahkan seluruh prajurit yang baru sampai untuk beristirahat, prajurit - prajurit menyambut kedatangan mereka dan saling memberi salam.


"Maafkan Keterlambatanku Kaisar.." serang pria berjubah putih dengan rambut dan janggut juga serba putih memegang tongkat giok ditangan kanannya..

__ADS_1


Kemunculan pria tersebut secara tiba - tiba mengejutkan Kaisar Yong Zheng dan Jendral Tian Li yang berada dalam tenda dengan penjagaan ketat.. sedangkan kehadiran pria tersebut tidak diketahui oleh seorang pun pengawal.


__ADS_2