
"Kakang sudah merasa baikan sekarang?" Dewi Ratih yang melihat Erlangga sedang berjalan keluar berkata . Dia tak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya.
"Ini semua berkat Dewata Agung," jawab Erlangga.
"Dimana guru kita sekarang?" Ia kemudian menanyakan keberadaan Nyi Arum Sari.
"Dia tadi katanya ingin pergi mandi . Ada apa?"
"Aku ingin segera berlatih. Sudah lama sekali sejak saat itu aku menjadi beban. Aku ingin menjadi lebih kuat dari sebelumnya."
"Tapi kakang baru pulih, aku rasa lebih baik kakang beristirahat."
"Sudah lama aku beristirahat. Aku tidak ingin beristirahat lebih lama lagi. Kalau aku tidak bisa menjadi lebih kuat aku hanya menjadi beban bagi orang lain."
"Tidak ada yang merasa kalau kakang menjadi beban," Dewi Ratih berusaha menghibur Erlangga. Dia melihat ada keputusasaan yang teramat dalam saat Erlangga berkata.
__ADS_1
"Aku yang menganggap diriku sendiri beban."
***
"Tolong selidiki apa yang terjadi di kadipaten Boyokerto. Aku mendengar dari seorang pangeran dari Prabakerta kalau disana terdapat Lintah darat yang bekerjasama dengan Adipati Kencana Wulan. Ingat , jangan sampai misi yang kuberikan ini diketahui orang lain demi sebuah kebenaran," Raja Wanapati akhirnya mengutus seorang prajurit untuk menindaklanjuti laporan Aji Dharma.
"Sendiko dawuh Gusti. . Hamba akan menjalankan tugas yang dipercayakan kepada hamba sebaik mungkin," dengan sikap hormat , prajurit itu berkata.
"Kalau kamu melakukan tugas dengan baik, aku akan memberikan jabatan yang lebih tinggi," agar prajurit itu lebih bersemangat, sebelum melaksanakanan tugasnya Raja Wanapati memberikan iming-iming yang terdengar manis.
"Bagaimana kanda?"
"Aku mengutus seorang prajurit yang direkomendasikan oleh Senopati. Kita tidak bisa mengirim Telik sandi yang biasa karena akan gampang sekali ketahuan. Terutama dilingkungan kadipaten sendiri. Adipati Kencana Wulan sudah mengenal semua telik sandi yang kita miliki."
"Aku pikir itu ide yang bagus. Tapi entah mengapa aku merasa ragu-ragu mengenai keberhasilan misinya."
__ADS_1
"Aku sudah menjanjikan jabatan yang lebih tinggi untuknya. Aku pikir dia pasti akan berusaha keras. Aku tahu cara ini sedikit bertele-tele, tapi resiko yang dihasilkan akan lebih kecil."
"Aku paham maksud kanda ini. Semoga saja kita menemukan titik terangnya."
***
Arya Bayu duduk di singgasana kerajaan Prabakerta dengan gagahnya. Dengan posisinya sekarang, ia berusaha memajukan kerajaan dengan baik. Ia hanya tidak suka dengan raja sebelumnya, tidak dengan negeri Prabakerta. Biar bagaimanapun juga, Prabakerta adalah tanah kelahirannya juga.
Ia mencopot banyak pejabat yang yang terlihat memiliki gaya hidup yang mewah. Pajak yang memberatkan juga sekarang sudah ringan. Ia berharap warga yang pergi selama kekacauan berlangsung bisa kembali ke rumah mereka .
Di singgasana, setelah melakukan banyak pertemuan, Arya Bayu memikirkan Dewi Ratih yang pernah ia pedulikan saat hendak mengambil alih istana tempo hari. Wajahnya saat marah entah mengapa terus dan terus saja terngiang-ngiang. Ia bahkan tak bisa melupakannya.
Ingin sekali ia berbicara dengannya walau hanya sekali. Ia ingin tahu namanya, waktu itu ia hampir bertanya cuma karena gengsi ia tak jadi melakukannya. Sekarang, rasanya ada sedikit penyesalan di dalam dirinya. Ingin sekali pergi ketempat Dewi Ratih berada, namun ia tak tahu harus kemana.
Suatu saat nanti, ia berharap Dewata yang Agung akan mempertemukan kembali dengan Dewi Ratih. Pada saatnya tiba, ia akan memperbaiki sikapnya yang masih malu-malu mau. Walaupun kemungkinannya kecil, selama masih ada kemungkinan tidak ada salahnya untuk berharap.
__ADS_1