Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#126. Prajurit Andhara


__ADS_3

Matahari sudah kembali ke peraduannya saat prajurit - prajurit Gurjara selesai memakamkan semua mayat yang ada. Setelah selesai menguburkan semua mayat dengan layak, prajurit - prajurit itu kemudian bergerak kembali untuk membakar seluruh bangunan yang sebelumnya menjadi pemukiman sekte Aghori. Api berkobar dan asap hitam membumbung tinggi di udara menghabiskan bangunan - bangunan yang tersisa..


Mathanadeva memutuskan untuk berkemah di bekas pemukiman sekte Aghori untuk mengistirahatkan pasukannya.. raut wajah kelelahan serta rasa lapar mulai menggayuti seluruh pasukannya termasuk Mathanadeva sendiri.


Bergerak sejak dini hari dan baru beristirahat saat hari sudah gelap tentu saja sangat menguras fisik prajurit - prajuritnya, dan Mathanadeva memahami akan hal itu, sebab sebelum dirinya menjadi seorang raja dan masih termasuk dalam pasukan Gurjara.. dia juga sering merasakan hal yang sama dan sering tidur di alam terbuka dan hanya beratapkan langit. Dilahirkan sebagai seorang putra mahkota tidak lantas membuatnya mendapat fasilitas lebih dibandingkan prajurit lainnya.. kesetaraan dalam sebuah kesatuan sudaj diterapkam sejak ayahnya menjadi raja Gurjara dan hal itu juga yang diterapkan oleh Mathanadeva pada Aahana saat ini.


Keadaan seperti ini menjadi waktu untuk menjalin keakraban bersama pasukannya sehingga ikatan diantara mereka bukan hanya sekedar raja dan prajurit, bahkan saat dialam terbuka seperti ini semua bisa bercanda dengan bebas meskipun para prajurit tetap menjaga kewibawaan sang raja dan momen seperti ini sering digunakan oleh para prajurit untuk bersenda gurau dengan sang raja karena saat kembali ke istana semua akan kembali formal dan semua terikat pada aturan yang dibuat dalam istana.


Bivak Khusus dibuatkan sebagai tempat istirahat Mathanadeva sedangkan Aahana memilih untuk bergabung bersama prajurit lainnya.. meskipun menjadi wanita satu - satunya Aahana tidak pernah merasa canggung untuk berkumpul dengan pria - pria itu.


Bivak lain juga dibuat sebagi tempat istirahat mantan anggota sekte Aghori.. ditempat itu beberapa orang prajurit memberikan bimbingan serta nasehat kepada mantan anggota sekte Aghori untuk meninggalkan ajaran yang selama ini mereka ikuti, dan Mathanadeva yang juga sempat mengunjungi tempat itu bahkan menjanjikan akan memberikan perlakuan yang adil bagi mereka jika bersedia meninggalkan ajaran sesat dan sejarah kelam yang pernah mereka alami akan disembunyikan sehingga orang - orang itu dapat berbaur bersama masyarakan lainnya.


Ratusan orang prajurit baru kembali dari berburu dengan membawa banyak hewan buruan. Kedatangan mereka tentu saja disambut meriah oleh prajurit lainnya yang telah menunggu...hewan buruan yang sudah disembelih dan dibersihkan kemudian dibakar pada tempat - tempat yang sudah disediakan dan setelah matang.. beberapa orang prajurit mengantarkan makanan terlebih dahulu pada mantan anggota sekte Aghori.


Rupanya hal - hal kecil seperti itu serta Aahana yang juga ikut menemani para anak kecil perlahan berhasil menghilangkan ketakutan yang mereka rasakan seharian ini.


Kemenangan yang diraih prajurit Gurjara hari ini tidak lantas membuat suasana menjadi meriah.. banyak diantara mereka memanfaatkan waktu untuk beristirahat sedangkan yang lainnya saling berseda gurau di dekat api unggun untuk melewati malam yang dipenuhi bintang - bintang serta bulan yang bersinar terang seolah memberi selamat atas kemenangan mereka.


***

__ADS_1


Kobaran api yang menghanguskan seluruh bangunan yang ada di bekas pemukiman sekte Aghori menghasilkan asap tebal dan terlihat oleh penduduk desa sekitar hutan larangan.. kejadian itu tentu saja menarik perhatian penduduk desa apalagi hutan larangan merupakan tempat yang menakutkan bagi mereka.


Desas - desus akan munculnya siluman dihutan larangan tersebar cepat hingga akhirnya terdengar oleh Vijay yang menjadi walikota Shimla. Vijay memerintahkan seratus orang prajurit terpilih untuk menyelidiki kejadian di hutan larangan.


Shimla adalah salah satu kota yang masuk dalam wilayah kerajaan Andhara yang menjadi kota terakhir berbatasan dengan Nalagarh, kota yang masuk dalam wilayah kerajaan Gurjara.. sedangkan kawasan hutan larangan yang merupakan kawasan pegunungan yang memanjang seolah menjadi benteng alam yang memisahkan wilayah kedua kerajaan tersebut.


Jarak antara kota Shimla dengan hutan larangan memang cukup jauh sehingga membutuhkan waktu setengah hari berkuda untuk sampai di desa terakhir yang berbatasan langsung dengan hutan.. dan malam itu seratus orang prajurit yang di utus oleh Vijay terpaksa harus bermalam di desa tersebut sebelum melanjutkan perjalanan pagi hari.


Prajurit - prajurit Gurjara yang membakar sisa - sisa bangunan saat hari mulai gelap tentu saja membuat cahay terang terlihat dari desa tersebut sehingga prajurit utusan Vijay harus menjaga kewaspadaan mereka sepanjang malam, jangan - jangan makhluk yang menjadi desas - desus akan menyerang desa.. bahkan penduduk desa yang terdiri dari laki - laki dewasa juga disiagakan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.


Saat pagi menjelang, seratus orang prajurit tersebut segera memasuki hutan larangan meskipun semalam tidak terjadi apa - apa.. tapi tugas untuk memastikan keadaan yang terjadi dalam hutan larangan tetap harus dilaksanakan.


Prajurit - prajurit tersebut menghentikan kuda tunggangan mereka saat mencapai tepi hutan dan segera menambatkan kuda - kuda mereka.. ada kengerian tersendiri yang mereka rasakan saat menatap hutan larangan tersebut. Hutan yang sangat rimbun dengan pohon - pohon besar tinggi menjulang dengan tumbuhan merambat seolah menutupi hutan tersebut dari cahaya matahari.. suhu dingin karena kurangnya cahaya matahari yang masuk adalah hal pertama dirasakan saat pertama kali memasuki hutan tersebut.


Pimpinan pasukan tersebut memerintahkan lima orang prajuritnya untuk kembali ke desa dan mencari bantuan secepatnya untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan sedangkan dia sendiri memimpin pasukannya menuruni bukit.


"Apa yang mereka lakukan disini...?? apa mungkin Mathanadeva berencana menyerang kita..? " tanya salah seorang petinggi prajurit.


"Aku tidak yakin.. sebab Mathanadeva bukan orang seperti itu, mungkin saja ada kelompok yang ingin mengadu domba kita dengan Gurjara.. " ujar prajurit lainnya.

__ADS_1


Nama Mathanadeva memang terkenal sebagai raja yang bijak dan cinta damai, tapi melihat panji kebesaran Gurjara tentu mebimbulkan banyak pertanyaan pada mereka.


Seluruh prajurit tersebut meningkatkan kewaspadaan saat mendekat dan melihat panji - panji kerajaan Gurjara berkibar disekitar perkemahan dan pimpinan prajurit tersebut memerintahkan sebagian prajuritnya untuk menunggu sedangkan dia dan lima orang prajurit lain yang membawa panji kerajaan Andhara menemui sekumpulan prajurit Gurjara.


***


"Yang mulia.. ada beberapa orang sedang mengarah kemari.. mereka membawa panji Andhara.. " salah seorang prajurit berjaga disekitar perkemahan memberi laporan pada Mathanadeva.


"Prajurit Andhara..?? ada hal apa mereka ke sini..? apakah kita melanggar perbatasan..? " gumam Mathanadeva lalu menoleh pada Shiva yang hanya mengangkat bahu serta mengeryitkan dahinya.


"Cepat temui mereka.. dan sampaikan untuk berbicara denganku.. " ujar Mathanadeva pada prajurit yang melapor tadi.


***


Seorang prajurit Gurjara terlihat berlari mendaki bukit hendak menemui prajurit Andhara yang sedang menuruni bukit.


"Mohon maaf tuan - tuan.. yang mulia meminta anda untuk menemuinya.. " ucap prajurit tersebut pada enam orang prajurit Andhara.


"Yang mulia..?? apakah maharaja Mathanadeva yang kamu maksudkan..? tanya pimpinan prajurit Andhara.

__ADS_1


"Benar sekali tuan.. silahkan.. " jawab prajurit Gurjara seraya mempersilahkan prajurit Andhara mengikutinya.


Nama Mathanadeva yang ada dalam perkemahan itu tentu membuat keenam orang prajurit Andhara itu saling bertanya - tanya.. dan hanya satu cara untuk menjawab pertanyaan mereka semua, yaitu dengan cara mengikuti prajurit yang menemui mereka.


__ADS_2