Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
31. 12 Pedang Legendaris ( Pembuka 1)


__ADS_3

Matahari sudah berada tepat setinggi tombak. Arya Bayu dan juga pangeran sudah bersiap ditempat yang mereka sepakati kemarin. Di sekeliling mereka terlihat ada banyak sekali orang yang sedang menonton mereka . Terlihat Laksminingrum dan juga lainnya ikut menonton duel itu . Arya Bayu dan pangeran bertarung tanpa menggunakan senjata ditangan mereka.


"Kamu seharusnya lari saja dari pertarungan ini, kamu juga tidak akan menang melawan aku," sebelum duel dimulai, Arya Bayu memanasi pangeran .


"Aku tidak akan lari walaupun nantinya aku kalah. Aku punya harga diri yang sedang dipertaruhkan," jawab pangeran. Walaupun dia merasa tidak akan menang, ia akan tetap berusaha untuk tidak lari begitu saja.


Kalau begitu, mari kita mulai duel," Arya Bayu segera mengambil sikap berkuda. Ia sudah nampak tidak ingin menunda pertarungan.


Pertarungan segera terjadi , mereka saling memukul, menendang, saling menyikut satu sama lainnya. Dengan jurus andalan masing-masing, mereka bertarung demi harga diri mereka masing-masing.


Sementara sedang asyik bertarung, secara mendadak sebuah pasukan yang tidak terduga menyerang mereka semuanya. Pertarungan yang berjalan akhirnya mau tidak mau terhenti begitu saja tanpa penyelesaian. Masing-masing mereka lebih memilih menghabisi pasukan yang mereka belum tahu dari mana asalnya itu . Tak ada yang tahu siapa mereka, yang jelas Arya Bayu menghabisi mereka dengan perasaan kesal.


***

__ADS_1


"Kamu...? Kenapa kamu memberontak? Apa tujuanmu?" saat melihat siapa yang menjadi pemimpin mereka pangeran begitu terkejut, ternyata dia adalah salah satu orang yang ia percayai selama ini.


"Kamu bertanya kenapa aku memberontak? Aku sungguh muak dengan kerajaan. Sejak dahulu aku selalu mencari kesempatan untuk menyingkirkan keluarga istana. Dan sekarang, tinggal kamu saja yang perlu ku habisi," jawabnya.


Mimpi yang ia alami waktu itu ternyata menjadi kenyataan. Dia tak tahu apakah ada pengkhianat lain atau tidak. Yang jelas dengan seluruh kekuatannya ia akan berusaha untuk memusnahkan mereka semua.


"Kalau itu yang kamu inginkan, aku pasti akan menghabisimu ," dengan penuh amarah pangeran berkata. Duel terjadi diantara mereka, kali ini posisi pangeran tetap tidak untung, pasalnya lawannya itu menggunakan pedang yang terlihat memiliki kekuatan yang cukup kuat. Dia tak tahu pedang apa yang ada ditangannya, yang jelas hal itu sangat menyebalkan baginya.


Disaat yang tepat, Arya Bayu datang membantunya dengan menggunakan senjatanya. Padahal tadi dia sangat bernafsu untuk membunuhnya, pangeran tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Arya Bayu.


"Darimana kau dapatkan pedang itu?" tanya Arya Bayu kepada lawannya.


"Mau dapat darimana apa urusanmu?"

__ADS_1


"Tidak ada, tapi aku senang bisa melihat pedang itu sebelum ku hancurkan," dengan tersenyum Arya Bayu berkata. Dia tahu benar dengan pedang yang dipakai oleh orang itu.


"Kau mau menghancurkannya? kamulah yang akan dihancurkan oleh pedang ini!" jawabnya.


Mereka kemudian saling beradu pedang, dengan kekuatan yang tersimpan di masing-masing senjatanya, pertarungan terjadi cukup seru. Saking menghantam dan dan juga saling menghindar , mereka punya kekuatan yang terlihat seimbang.


"Kamu adalah pemberontak yang tidak dikenal, kenapa kamu harus bertarung disini?"


"Ada urusan yang harus aku selesaikan. Lagipula aku akan menjadi raja selanjutnya. Walaupun aku tidak pernah mengenal raja dengan baik, tetap saja aku masih keturunannya," jawab Arya Bayu .


"Kalau begitu, kamu harus mati juga!"


"Siapa takut? Aku tidak takut untuk mati. Tidak seperti kau dan para pengguna pedang yang kau pakai itu. Sejak awal kalian terkenal pengecut, omong besar. Pedang mu adalah pedang terlemah di antara 12 pedang legendaris. Sekarang , bersiaplah untuk mati wahai pecundang!"

__ADS_1


"Terlemah katamu? sekuat apa memangnya pedangmu itu?" suaranya terdengar seperti orang yang benar-benar sedang emosi. Dia memang sangat marah sangat pedangnya diejek, dia tak terima dengan omongan yang mengatakan pedangnya paling lemah. Hal itu karena demi mendapatkan pedang yang ada ditangannya ia hampir saja mati.


__ADS_2