Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
55. Menjadi Manusia Serigala (2)


__ADS_3

"Hai, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Oh ya, aku aku belum tahu siapa namamu," saat sedang berada di pasar karena suatu keperluan Panji merasa terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang ia temui saat sedang berburu rusa. Saat itu wanita itu sedang dikejar oleh seekor harimau.


Dia tak tahu apa yang dilakukan oleh wanita itu ditengah hutan. Yang jelas setelah menolongnya , Panji tidak berharap untuk bertemu dengannya lagi. Dia tidak ingin mengenal lebih banyak wanita karena ia sudah bosan dengan mereka yang selalu merayunya. Ia kasihan dengan mereka yang terlalu berharap kepadanya. Sedangkan dia sudah menetapkan hatinya kepada wanita lain.


"Namaku Panji," jawabnya singkat.


"Nama yang bagus , seperti orangnya. Perkenalkan namaku Seroja," kata wanita itu.


"Kakang Panji, punya waktu luang sekarang?" Tanyanya.


"Hmmmmm , kalau misalnya ada bagaimana?" Panji tidak langsung menjawab.


"Kalau misalnya kakang punya waktu luang, saya harap kakang Sudi mampir kerumah saya yang sederhana. Tapi mungkin kakang tidak mau karena rumahku berada di tepian hutan. "


"Aku mau mampir . Bahkan jika kamu menginginkannya sekarang," Panji mengiyakan . Sebenarnya tadi ia ingin menolak, tapi lidahnya berkata begitu tanpa bisa dikendalikan olehnya.


"Kalau begitu, kakang ikuti saya. Nanti di rumah aku akan menjamu kakang dengan jamuan yang spesial. Sesuatu yang tidak akan pernah dapatkan di manapun."

__ADS_1


"Benarkah itu? Aku jadi penasaran."


"Kalau kakang penasaran ikutlah," wanita itu kemudian berjalan pergi dari sana diikuti oleh pria bernama Panji itu. Sebenarnya otaknya menolak, tapi rasanya tubuhnya tidak bisa untuk tidak pergi mengikuti wanita itu. Ia sebenarnya tidak mengerti mengapa, tapi dia tidak menaruh curiga kepada wanita itu.


Mereka sampai disebuah rumah yang terletak tepat di tepian hutan yang sepi. Rumah yang berada disitu juga seperti sudah mulai tak layak untuk dipakai. Mereka segera masuk kedalam.


"Kakang, duduk dulu sebentar. Biar nanti ku buatkan minum dulu. Maaf , rumahku tidak sebagus punya orang lain," wanita itu segera menuju dapur dan kembali dengan segelas minuman.


"Silahkan diminum kakang. Maaf cuma air putih saja."


"Tidak mengapa. "


"Silahkan."


"Kakang sudah punya kekasih?"


"Sudah. Kami juga sudah berencana untuk menikah."

__ADS_1


"Apakah gadis itu lebih cantik dari aku?"


"Cantik atau tidaknya seseorang itu tergantung sudut pandang yang menilai."


"Bagaimana kalau kakang tinggal disini saja? Aku bosan tiap malam selalu sendirian."


"Aku kan sudah bilang kalau aku sudah punya calon."


"Semalam saja kalau begitu. Tidak akan ada yang tahu. Apapun yang terjadi aku tidak akan meminta kakang untuk bertanggungjawab. "


"Memang benar tidak ada yang tahu. Tapi...."


"Ini adalah perintah. Semua yang kakang kerjakan adalah atas kehendak ku. Kamu akan menjadi pengantinku setidaknya untuk satu malam," matanya terlihat sangat tegas. Suaranya benar-benar seperti perintah yang tak bisa dibantah.


"Baik," jawab Panji kemudian. Tak ada sanggahan yang keluar dari mulutnya. Dia tak mengerti sebenarnya dengan yang terjadi pada dirinya. Seolah-olah tubuhnya tidak dalam kontrolnya lagi. Walaupun dirinya sadar, tapi anggota badannya berjalan tidak sesuai dengan perintah otaknya.


"Kalau begitu, nanti kita akan melakukan ritual agar kita bisa menjadi pengantin yang bahagia. Kamu tidak perlu kembali lagi kepada kekasihmu . "

__ADS_1


"Aku akan melupakannya. Aku akan menjadi pengantin mu," sebenarnya Panji ingin menolak mentah-mentah, tapi mulutnya tidak dalam kontrolnya lagi .


__ADS_2