
"Sekarang pria itu sudah pergi. Aku rasa sekarang kita juga harus segera pergi dari sini. Tidak ada gunanya juga kan kita terus disini?" Erlangga mengajak keduanya untuk pergi .
"Apa sebaiknya kita melihat lebih dekat apa yang terjadi? Aku masih penasaran dengan orang yang dibangkitkan itu, apakah itu nyata atau tipuan mata semata?" tanya Dewi Ratih.
"Aku rasa tidak. Lagipula kita sudah terlalu lama disini."
"Kalau itu maunya kakang, aku akan ikut saja."
"Kita akan pergi kemana?"
"Hmmm , kita akan ke arah Utara."
"Kalau begitu mari kita pergi," mereka melanjutkan perjalanan. Langkah kaki mereka menuju ke arah Utara. Setelah agak jauh berjalan, mereka bertemu dengan seorang pemuda desa yang terlihat sedang mengembara seperti mereka. Dari wajahnya ia terlihat seperti orang yang sedang waspada.
"Apakah kalian adalah pengembara?" tanyanya.
__ADS_1
"Itu sudah jelas bukan?"
"Kalau kalian memang benar adalah seorang pengembara maka kalian harus pergi dari sini. Atau kalian bakal celaka nantinya, negeri ini sudah mati. Rakyat banyak yang kelaparan, penjarahan terjadi dimana-mana. Kalian seperti salah arah jika menampakkan kaki di negeri kami."
"Kamu bukan pengembara?"
"Aku bukan pengembara. Aku akan bergabung dengan pasukan pemberontak. Dalam waktu singkat negeri ini akan menjadi arena bertarung."
"Mengapa kisanak mau ikut memberontak?"
"Apakah itu penting bagi kalian? sedangkan kalian sendiri bukan bagian dari negeri ini?"
"Kalian lebih baik pergi dari sini, itu jauh lebih membantu," kata pria di depannya.
Dewi Ratih tanpa aba-aba langsung menyerang pria yang ada di hadapannya. Ia merasa marah karena dirinya telah diremehkan. Dia benar-benar tidak suka dengan orang itu. Ia ingin jadi yang terkuat, ia benar-benar merasa marah. Serangannya benar-benar brutal dan tanpa arah.
__ADS_1
"Tenang dulu. Aku rasa kita tidak perlu ikut campur urusannya, lagipula kita punya tujuan sendiri," setelah berhasil melerai pertarungan antara mereka, ia berkata begitu untuk menenangkan hati Dewi Ratih.
"Maaf kisanak, kami tidak akan mengganggumu lagi . Kalau boleh tahu, kita sekarang berada di negeri apa?" Laksminingrum paham dengan tingkah wanita itu. Hal itu juga pernah berlaku saat ia pertama bertemu dengannya.
"Negeri Prabakerta. Ingatlah nama itu agar kalian tidak menginjakkan kaki di negeri ini lagi atau kalian akan terjebak di arena pertempuran nantinya."
"Kami akan mengingatnya," setelah berkata begitu Laksminingrum segera mengajak mereka pergi.
***
"Kenapa aku tidak boleh menghajar dia? Dia pikir kita siapa?" setelah terpisah agak jauh dengan pria tadi Dewi Ratih memprotes kedua temannya itu.
"Jangan buat masalah dengan orang yang baru kamu temui. Kita tidak tahu dia siapa. Lagipula apa kau lupa mengapa kita melakukan perjalanan jauh?" Erlangga berkata dengan tegas.
"Bagaimana kalau kita selidiki Negeri Prabakerta ini? Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu yang menarik? Aku tahu tujuan kita, tapi aku ingin tahu bagaimana rasanya berada di dalam sebuah peperangan. Aku ingin tahu mengapa ayahku lebih betah di arena pertarungan daripada di rumah."
__ADS_1
"Menurutku ide yang menarik. Aku juga ingin bisa memaksimalkan potensi pedangku. Di pertempuran terakhir , aku baru menyadari kalau aku belum benar-benar menguasai pedangku ini. Mungkin kalau kita ikut campur aku bisa menggunakan pedangku dengan cara yang lebih baik."
"Kalian berdua ini. Kalau itu mau kalian apa boleh buat," Erlangga tidak bisa menyanggah ucapan kedua temannya itu.