
Bukit Kinasih sudah didepan mata. Akhirnya setelah melewati perjalanan yang melelahkan , sampai juga di tempat tujuan. Dewi Ratih bersyukur karena akhirnya ia berada ditempat yang dituju selama ini. Ia berharap nanti Erlangga bisa mendapatkan pertolongan dari saudara seperguruan gurunya.
Saat hendak masuk lebih jauh , serangan yang mendadak datang. Laksminingrum dan lainnya yang tidak siap untuk mendapatkan serangan berusaha membalas sebisanya. Setelah merasa puas, yang menyerang menghentikan serangannya.
"Siapa kalian?" Tanyanya orang yang menyerang mereka. Dia terlihat sangat waspada.
"Aku rasa ini bisa menjadi jawaban ," Dewi Ratih berkata sambil menunjukkan gelang yang diberikan oleh gurunya itu. Dia juga menunjukkan gelang milik Erlangga.
"Mengapa hanya dua dari kalian yang punya gelang?" Saat melihat gelang itu , ia paham. Tapi ia masih tidak mengerti mengapa hanya sebagian saja yang punya.
"Mereka berdua adalah teman yang ku temui selama melakukan perjalanan panjang ke sini."
"Kalau begitu, masuklah. Kalian berdua adalah murid dari adik seperguruan ku , aku akan menganggap kalian sebagai murid ku juga."
__ADS_1
Mereka semua masuk ke dalam rumah yang berada di bukit itu. Setelah sampai dalam, Aji Dharma langsung menaruh Erlangga dan kemudian duduk disampingnya."
"Apa yang membuat kalian sehingga jauh-jauh ke sini?"
"Guru kami meninggal karena sakit. Dia berpesan agar kami pergi kesini untuk menyempurnakan ilmu yang telah kami pelajari. Dan juga kami meminta bantuan agar menolong kakak seperguruan ku. Dia terkena ajian serat lumpuh, dan kini ia tidak berdaya."
"Ajian serat lumpuh ya? Ternyata ilmu itu telah tiada. Siapa gerangan yang menggunakan ilmu itu kepada dia?"
"Kami hanya mengenalnya sebagai pendekar topeng perak," jawab Dewi Ratih.
"Kira-kira dua atau tiga purnama yang telah lalu. Saya sendiri lupa kapan pastinya."
"Ajian ini jika sudah menunjukkan reaksi seperti ini akan sulit untuk di obati. Mungkin seminggu lagi dia bisa mati. Tapi tenang, aku punya penawarnya," ia lalu pergi sebentar dan kemudian kembali lagi dengan gelas yang disana berisi mutiara yang bersinar kemerahan.
__ADS_1
"Aku sebenarnya tidak punya penawarnya. Hanya saja mutiara ini punya kekuatan untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh kekuatan tenaga dalam lawan walaupun tidak langsung seperti sediakala. "
"Maaf sebelumnya, karena kami tidak diberitahu siapa nama guru sebelumnya, boleh tidak kalah kami mengetahuinya?" Dewi Ratih memberanikan diri.
"Panggil saja aku Nyi Arum Sari. Dan namamu?"
"Saya Dewi Ratih, sedangkan dia adalah kakak seperguruan saya namanya Erlangga. Sedangkan mereka berdua Laksminingrum dan juga pangeran Aji Dharma."
"Apakah itu pedang naga langit?" Mata Nyi Arum Sari tertuju ke arah pedang yang dibawa oleh Laksminingrum saat menatapnya.
"Iya, ini adalah pedang yang diberikan guruku saat dia menyuruhku untuk berkelana."
"Setelah ini aku ingin mencoba kekuatan pedang itu. Walaupun aku tahu bahwa itu adalah hal yang tidak sopan namun aku tidak bisa menahannya," kata nyi Arum Sari. Sudah lama ia penasaran dengan pedang yang dahulu sangat terkenal di dunia persilatan sebelum pedang dan penggunanya menghilang ditelan bumi.
__ADS_1
Dia tak tahu apa yang terjadi 20 tahun yang lalu saat pendekar pedang naga langit sebelumnya menghilang. Desas desus yang beredar, ia mengasingkan diri setelah istrinya yang sedang hamil diserang hingga tewas oleh musuh bebuyutannya.
"Untuk sekarang kalian lebih baik beristirahat dahulu. Kebetulan ada 2 kamar kosong yang tidak berpenghuni, kalian bisa menggunakannya untuk sementara," kata nyi Arum Sari.