Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#168. Saudara Seperguruan


__ADS_3

Chen Khu langsung menarik kembali aura langit miliknya setelah mendengar kata gelang yang diucapkan oleh kaisar Xiao Yan.


Kedua orang itu langsung bisa bernafas lega ketika aura yang dimiliki oleh Chen Khu kembali memasuki tubuhnya.


"Kenapa dengan gelang ini..? " ucap Chen Khu dengan tatapan tajam pada kaisar Xiao Yan.


Setelah merasakan tekanan aura langit yang dimiliki oleh Chen Khu.. jendral Guan Yu langsung menghampiri kaisar Xiao Yan yang masih berusaha menormalkan pernafasannya.. beberapa orang prajurit tiba - tiba terlihat memasuki ruangan karena suara kursi yang diduduki oleh kaisar Xiao Yan hancur berkeping - keping terdengar oleh pengawal yang berjaga diluar ruangan.


"Semua baik - baik saja.. kalian keluarlah..!! " perintah jendral Guan Yu pada lima belas orang prajurit yang sudah memasuki ruangan.


Kelima belas orang prajurit itu saling menatap kebingungan karena mereka bisa mendengar dengan jelas suara kursi yang hancur, namun perintah jendral Guan Yu tidak berani mereka pertanyakan..


"Maafkan kami tuan Chen.. tapi kami sangat mengenali gelang itu.. dan aura ini dari mana kamu mempelajarinya. ." ujar kaisar Xiao Yan sambil menunjuk gelang yang ada di tangan Chen Khu..


"Ooh.. gelang ini.. "Chen Khu menurunkan lengan jubahnya untuk memperlihatkan gelang yang dimaksud oleh kaisar setelah meleparkan pedang milik jendral Guan Yu yang sudah berbentuk spiral dan sudah tidak bisa digunakan lagi.


Jendral Guan Yu hanya bisa menatap iba pada pedang pusaka yang telah menemaninya selama bertahun - tahun seolah menjadi besi rongsokan ketika digulung oleh Chen Khu.


"Tuan Maruka yang memberikannya padaku.. " jawab Chen Khu singkat.


"Guru Maruka..? kamu pernah bertemu dengannya..?? " kaisar Xiao Yan terlihat penasaran lalu manarik sebuah kursi untuk digunakannya duduk kembali.


"Guru..?? pendekar aneh itu memintaku memanggilnya tuan guru.. " ujar Chen Khu dengan pandangan menerawang kedepan sambil tersenyum mengingat kembali sosok Maruka yang dianggapnya aneh dan berkepribadian ganda itu.


"Kami tidak sengaja bertemu...... " Chen Khu melanjutkan lalu menceritakan awal pertemuannya dengan Maruka setelah mengambil sebuah kursi untuk diduduki lalu meneruskan ceritanya karena Chen Khu merasa keadaan sudah terkendali.


Kaisar Xiao Yan dan jendral Guan Yu mendengarkan dengan khidmat cerita Chen Khu.. bahkan sesekali mereka saling berpandangan sambil tersenyum saat Chen Khu menceritakan tingkah Maruka yang menurutnya sangat aneh.


"Tuan Chen.. maafkan kami yang sudah membuat anda tidak nyaman.. tadinya kami berpikir jika gelang itu telah anda curi atau anda rebut dari guru Maruka.. " kaisar Xiao Yan memperlihatkan penyesalannya setelah mendengar seluruh cerita Chen Khu.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa berpikir jika aku bisa mencuri apalagi merebut gelang ini darinya..?? aku sendiri bahkan tidak bisa merasakan sampai dimana batas kemampuan kakek aneh itu.. " balas Chen Khu sambil menggaruk kepalanya.


"Dan jika aku berhasil merebut gelang ini dari tuan guru.. bukankan sebuah tindakan bodoh jika kalian masih berani untuk melawanku..? " ujar Chen Khu melanjutkan.


"Kami sangat mencintai guru Maruka dengan semua keanehannya.. maafkan kami yang telah berbuat gegabah sebelumnya.. " balas Xiao Yan memberi hormat pada Chen Khu diikuti oleh Guan Yu.


"Sepertinya tuan guru memiliki tempat tersendiri dihati yang mulai dan jendral..? "ucap Chen Khu mengeryitkan keningnya.


Kaisar Xiao Yan menoleh pada jendral Yu yang kini duduk disampingnya..dan setelah menganggukkan kepalanya jendral Guan Yu memulai ceritanya.


"Semuanya bermula tiga puluh tahun yang lalu....saat kami berdua masih berusia sepuluh tahun.. " pandangan jendral Guan Yu menerawang jauh kedepan seperti kembali ke masa lalunya tiga puluh tahun sebelumnya..


***


"Pangeran.. sebelah sana..!! " teriak Guan Yu pada Xiao Yan yang memegang busur panah.


"Tapi pangeran.. kita sudah terpisah jauh dari para prajurit.. " ungkap Guan Yu cemas.


"Ah.. tidak perlu cemaskan itu.. mereka pasti akan mencari kita jika kita tersesat di hutan ini.. " balas Xiao Yan sambil berlari.


Guan Yu terpaksa mengikuti sang putra mahkota sambil sesekali menoleh ke belakang karena berharap melihat prajurit - prajurit yang mengawal perburuan mereka.


Setelah berlari beberapa lama.. Xiao Yan dan Guan Yu berjalan pelan dan mengendap - endap mendekati seekor rusa jantan yang sedang memakan buah mangga hutan yang jatuh..


"SLUUUPP..!! " sebuah anak panah tiba - tiba mengenai perut rusa jantan tersebut.


"Kena...!! " teriak Xiao Yan bersemangat.


namun rusa jantan yang terkena anak panah pada bagian perutnya itu bukannya ambruk ke tanah tapi malah lari menjauh seperti kesetanan.

__ADS_1


" Guan Yu.. jangan biarkan di lolos..!! " teriak Xiao Yan kembali.


Guan Yu yang melihat rusa itu berlari langsung mengejar sambil menghunuskan pedangnya berniat mengakhiri pelarian rusa jantan tersebut.


Xiao Yan yanv melihat Guan Yu berlari segera menyandang busur miliknya dan langsung mencabut pedang lalu berlari menyusul Guan Yu yang sudah lebih dulu berlari.


Guan Yu yang semual sangat bersemangat karena melihat rusa jantan itu mulai sempoyongan terpaksa mengentikan langkahnya karena rusa buruan mereka tidak lagi terlihat.


"Kemana dia..??! " ucap Xiao Yan yang baru sampai.


"Hilang pangeran..!! " jawab Guan Yu singkat sambil berusaha mencari jejak rusa tersebut.


Keduanya kemudian berjalan pelan sambil mencari jejak - jejak darah yang menempel pada dedunan atau batang pohon.. keduanya terus berjalan tanpa memperhatikan matahati yang sudah hampir terbenam serta awan hitam yang menggumpal diangkasa.


"Pangeraaan.. itu dia..!! " teriak Guan Yu sambil menunjuk seekor rusa yang terbaring lemas di sebuah tanah yang sedikit lapang di depan sebuah goa.


"Aku berhasiiiil... teriak Xiao Yan sambil berlari menuju rusa yang sudah terbaring, namun baru saja dia dan Guan Yu mencapai tubuh rusa itu.. suara guntur terdengar menggelegar dan hujan kemudian turun sangat deras.


Kedua anak itu kemudian dengan susah payah berusaha menyeret tubub rusa jantan besar itu ke dalam goa yang akan mereka jadikan sebagai tempat perlindungan sementara yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat rusa itu terbaring, lalu setelah itu.. Guan Yu dengan sigap mengumpulkan ranting - ranting kecil yang masih kering untuk dijadikan perapian.


Matahari belum benar - benar tenggelam namum awan tebal membuat hari itu sangat gelap seolah malam telah datang.


Xiao Yu cukup sigap memotong rusa hasil buruannya menjadi beberapa bagian sedangkan Guan Yu berusaha menyalakan api yang sudah beberapa kali gagal hingga menimbulkan asap yang memenuhi ruangan goa itu.


"Hentikan kegiatan kalian atau kalian akan membakar goa ini.. " Hardik seorang pria dari dalam goa yang kemudian keluar menemui Xiao Yan dan Guan Yu sambil terbatuk dengan mata kemerahan karena terkena asap.


Xiao Yan dan Guan Yu yang terkejut mendengar suara tersebut berusah tetap bersikap tenang, lalu sesaau kemudia.. seorang kakek dengan rambut dan jenggut yang sudah memutih muncul dari dalam goa.


"Maafkan kami kek.. tapi sepertinya api tidak akan bisa membakar dinding goa yang terbuat dari baru ini.. " ujar Xiao Yan sambil mengetuk - ketuk dinding goa.

__ADS_1


__ADS_2