Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#150. Maruka


__ADS_3

Hujan perlahan reda saat malam telah larut.. berganti dengan udara dingin yang menusuk kulit, tapi dua orang pria yang duduk dalam bivak seperti tidak terpengaruh dengan dinginnya angin malam karena arak yang menemani membuat tubuh mereka lebih hangat.


Pria tua yang duduk dalam bivak menceritakan jika kantong ajaib yang dibawa oleh Chen Khu selama ini bernama Kuokaa.. kantong itu dahulu adalah miliknya ketika masih berusia sangat muda namun.. ketika dirinya sedang mandi di sebuah air terjun, dirinya tiba - tiba diserang oleh sekelompok orang berkemampuan tinggi, dan mampu membuatnya terdesak serta melarikan diri.


Kantong ajaib yang bernama Kuokaa itu serta sebilah tombak yang bernama taring perak yang disimpannya dibalik air terjun terpaksa ditinggalkannya.


Sekelompok orang itu bahkan terus mengejarnya selama berhari - hari sampai akhirnya dia menemukan tempat untuk bersembunyi dan lepas dari kejaran orang - orang tersebut.


Pelariannya yang cukup lama, membuatnya kehilangan arah akan letak air terjun tempat menyimpan kedua benda pusaka miliknya..dan setelah mencari selama beberapa minggu dengan menyusuri aliran sungai.. pria tua itu berhasil menemukan kembali air terjun yang dicarinya itu.. namun.. kedua benda pusaka miliknya itu sudah tidak lagi berada di tempatnya.. dan yang paling membuatnya terpukul adalah.. dia kehilangan pusaka taring perak yang berupa sebuah tombak dengan panjang satu setengah meter dengan ujung bilah yang mengeluarkan cahaya berwarna keperakan, dan malam ini.. dia sangat terkejut karena tidak pernah menyangka akan melihat pusaka itu lagi.


"Dari mana kamu memperoleh benda ini.. ?" tanya pria tua itu dengan tatapan tajam penuh selidik.


Sikap pria tua yang terus berubah - ubah membuat Chen Khu kebingungan.. saat bercerita.. raut wajahnya terlihat muram, tapi tiba - tiba berubah seketika menjadi marah.. bahkan kadang - kadang dia tiba - tiba menangis,dan terkadang juga tiba - tiba menjadi ramah.. Chen Khu merasa jika pria tua dihadapannya itu mungkin mengalami gangguan jiwa.


"Guruku yang memberikannya..! " jawab Chen Khu singkat.. Chen Khu berusaha menjawab seadanya untuk menjaga sikap jangan sampai ada perkataannya yang bisa menyinggung pria tua dihadapannya itu.


"Siapa nama gurumu..?! " tanya pria tua itu masih dengan tatapan yang tajam.


"Lee Han kek..!! "


"Lee Han pengacau itu..??! " tanya pria tua itu.. yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya.


"Kenapa..?! apa kakek mengenalnya..?? "


"Tidak.. !!aku hanya pernah mendengar jika pengacau itu hampir membuat seluruh benua daratan tengah porak poranda.. tp rupanya dia yang mencuri Kuokaa dariku.. " ucap pria tua itu sambil mendengus geram.


"Mohon maafkan guruku kek.. tapi.. guruku bercerita jika kantong ajaib tersebut serta sebuah pedang yang bernama pedang halilintar juga adalah pemberian dari gurunya selain sebuah kitab ilmu beladiri..." ucap Chen Khu berusah menenangkan pria tua dihadapannya itu.


"Gurunya..? aaah.. ceritanya akan semakin panjang.. tp sudahlah.. aku juga sudah tidak membutuhkannya lagi.. " ucap pria tua itu lalu menenggak arak pemberian Chen Khu.


malam terus berlalu.. kedua orang itu melanjutkan dengan berbincang - bincang seperti biasa, tidak ada lagi ketegangan.. dan hal ini membuat Chen Khu lebih tenang.. Chen Khu menyadari jika kemampuan pria tua yang berkelakuan aneh seperti orang yang sedang mengalami gangguan jiwa dihadapannya itu sangat jauh diatasnya, jadi memantik api perselisihan dengannya sama saja dengan bunuh diri.


***

__ADS_1


Kicau burung membuka hari itu, saat hujan karena hujan sudah berhenti sejak subuh...Chen Khu yang sedang tertidur pulas tiba - tiba terbangun dan langsung terduduk.


"Mimpi yang sama..!! " gumam Chen Khu pelan.


"Ada apa anak muda...?! mimpi buruk ya..?! " ucap pria tua disampingnya sambil membalikkan badan memperbaiki tidurnya.


"Benar Kek..! sudah dua kali aku memimpikan hal yang sama.. " jawab Chen Khu..tapi jawaban Chen Khu hanya dibalas suara dengkuran oleh pria tua disebelahnya.


"Kakek.. bangunlah.. !!" pinta Chen Khu sambil mengguncangkan tubuh pria tua itu..


"Whoaaaam..!! kepalaku berat sekali.. " ucap pria tua itu sambil berusah bangkit dari tidurnya.


"Kenapa kek..? kalau kakek tidak terbiasa minum arak...kenapa kakek semalam memintanya..? " ujar Chen Khu sambil memijat tengkuk pria tua itu.


"Dulu arak selalu menjadi teman setiaku.. sampai.. aaahhh.. sudahlah.. aku sudah lupa kapan terakhir kali minum arak.. " jawab pria tua itu dan hendak merebahkan kembali tubuhnya..


"Eeeiiit... kakek.. bangunlah.. ada yang ingin aku tanyakan pada anda.. " ujar Chen Khu berusaha menahan kepala kakek tua itu agar tidak kembali rebah ke lantai bivak.


"Apa lagi anak muda..?" ucap pria tua itu sambil mengucek matanya.


"Hahaha..sihir katamu..?!kamu mau menjadi muridku..?? memangnya apa yang kamu tawarkan padaku..? ucao pria tua itu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Chen Khu.


"Mmm.... aku tidak tau apa yang bisa membuat kakek tertarik, tapi jika kakek bersedia aku akan berusaha semampuku untuk menuruti keinginan kakek.. " jawab Chen Khu dan tetap mempertahankan senyumnya, meskipun pria tua itu masih menguap saat wajah keduanya saling berdekatan.


"Arak..!! apa kamu masih memiliki arak seperti semalam..?? sepertinya arak itu bisa membuatku tidur nyenyak tanpa memikirkan taring perak.. " jawab pria tua itu yang wajahnya kembali muram.


"Hanya itu kek..?? " tanya Chen Khu lalu mengeluarkan beberapa guci arak hingga memenuhi bivak buatannya.


"Aku masih memiliki puluhan guci arak seperti ini.. jika kakek mau... " ucap Chen Khu.. tapi pandangan pria tua itu malah memperhatikan kantong ajaib Chen Khu bukannya guci - guci arak yang dimintanya.


"Kuokaa.. kemampuanmu masih tetap seperti dulu meskipun penampilanmu sangat lusuh.. " ucap pria tua itu dengan mata berkaca - kaca.


"Kakek ini bukan hanya mengalami gangguan jiwa, tapi dia juga memiliki dua kepribadian.. ah.. tidak mungkin tiga bahkan lebih.. " gumam Chen Khu dalam hati yang terus dibuat bingung oleh perubahan - perubahan ekspresi wajah dari pria tua di hadapannya itu.

__ADS_1


"Maaf kek.. kalau kakek masih menginginkannya.. ambillah.. " ujar Chen Khu lalu mengeluarkan pedang naga langit miliknya dan kemudian menyerahkan kantong ajaib yang selalu disebut Kuokaa oleh pria tua itu.


Melihat sarung pedang naga langit.. ekspresi pria tua itu kembali berubah.. kali ini tatapannya sangat serius melihat pedang naga langit yang baru saja dikeluarkan oleh Chen Khu namun pria tua itu tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Kakek kenapa..?! apa kakek juga mengenali pedang ini..? " ujar Chen Khu yang semakin kebingungan.


"Pusaka Taring Naga Langit..!! " gumam pria tua itu sambil melihat ke arah Chen Khu seolah meminta ijin untuk menyentuhnya.. dan tanpa kecurigaan apapun.. Chen Khu menyerahkan pedangnya.


Sesaat kemudian.. pria tua itu mencabut pedang naga langit, namun tiba - tiba melepaskannya sebab telapak tangannya terasa sangat panas ketika menyentuh gagang pedang itu.


"Hua Tuo..!!apa kamu tidak mengenaliku lagi..??! " bentak pria itu sambil menatap tajam pada pedang naga langit yang berdiri tegak tertancap di tanah.


"Maafkan aku tuan Maruka.. " asap berwarna kuning keemasan keluar dari pedang naga langit.. asap itu membentuk seekor naga dengan mahkota dikepalanya, lalu perlahan asap itu terkumpul dan membentuk sesosok tubuh yang pria seperti yang pernah ditemui oleh Chen Khu.


Pria itu kemudian membungkuk memberi hormat pada pria tua yang di panggilnya Maruka....


---@@@----


Sebelum menyudahi Chapter ini.. ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan :


**Khusus Chapter ini, saya membutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikannya.. memunculkan tokoh baru dengan kepribadian yang unik sangat menyulitkan bagi saya.


Saya sebagai penulis memohon maaf jika chapter sebelumnya belum juga rilis sampai sekarang, walaupun naskahnya sudah saya serahkan tiga hari yang lalu. Iri juga sih.. liat novel - novel lain tetap rilis meskipun jadwal tayangnya diluar hari/jam kerja dari MT/NT.😬😬tapi mungkin authornya sudah menulis beberapa hari sebelumnya.


Bagi yang suka bilangin saya payah.. terima kasih itu tandanya anda sangat menggemari karya saya.. meskipun nama anda tidak pernah tercantum dalam daftar pemberi vote.tapi apapun itu, saya tetap mengucapkan banyak terima kasih.



Terimakasih bagi pembaca setia Pendekar Pedang Naga Langit yang selalu memberikan like dan votenya..



Tetap jaga kesehatan.. jaga jarak.. dan jangan lupa tetap pakai masker.. semoga pandemi ini cepat berlalu**..

__ADS_1


Wassalam..!!


__ADS_2