
Udara dingin menusuk tulang menyelimuti kerajaan Nishada yang letaknya berada di kaki gunung Himalaya itu..
Suhu dingin itu membuat pengawal - pengawal yang sedang bertugas diatas tembok benteng istana terlihat mengelilingi perapian yang memang disiapkan khusus untuk mengantisipasi suhu dingin yang terkadang cukup ekstrim dengan waktu yang tidak menentu.
Berbeda dengan Desmar serts seluruh anakn buahnya yang sedang menunggu isyarat penyerangan.. suhu dingin seolah tidak mempengaruhi mereka.. jantung yang berdegup kencang membuat aliran darah serta adrenalin yang tinggi tiap - tiap dari mereka cukup untuk membantu mantel - mantel yang terbuat dari kulit hewan menghangatkan tubuh mereka.
"Bagaimana.. " tanya Desmar pada salah seorang anak buahnya yang sedang berdiri disamping jendela dan bertugas menunggu sinyal dari Mathanadeva.
"Beberapa jam lagi matahari akan terbit jendral..! " ucap pria itu sambil lalu kembali melihat langit.
***
"Yang mulia Yaseka..!! " .."Yang mulia Yeseka..!! "
Sebuah panggilan menyadarkan Yaseka yang sedang tertidur, Yeseka kemudian segera berdiri di depan jeruji besi untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.
Tampak olehnya seorang pria membawa obor sedang memeriksa satu persatu sel yang ada di ruang bawah tanah itu..
"Mahotra..!! "
"Yang mulia..! " Mahotra yang tugaskan oleh Mathanadeva mencari sel yang ditempatiboleh Yeseka segera berlari menghampiri suara yang memanggilnya lalu dengan segera membuka pintu sel, dan kemudian berlutut memberi hormat pada Yaseka.
"Mahotra.. bagaimana kamu bisa ada disini.. dan bagaimana...... "
"Kita tidak punya banyak waktu.. kita harus segera keluar dari tempat ini.. "
Yeseka belum menyelesaikan ucapannya saat Mathanadeva tiba - tiba muncul dan menyuruh mereka untuk bergegas.
"Mathanadeva.. Kamu.... "
__ADS_1
"Nanti saja bicaranya.. sekarang ikuti Chen Khu menuju tempat yg aman.. aku akan memberi tanda pada jendral dan pasukannya.. " ucap Mathanadeva tidak memberi kesempatan pada Yaseka untuk berbicara lebih banyak.
"Chen Khu.. saatnya memancing ikan yang lebih besar.. "
"Dan kamu.. tunjukkan ruang tempat penyimpanan kembang api.. "
"Baik yang mulia ."
Chen Khu memahami maksud Mathanadeva untuk segera mengungsikan Yaseka ke tempat yang lebih aman, lalu dengan segera Chen Khu merangkul Yaseka pada bagian pinggang untuk dibawa terbang meninggalkan istana.
"Maaf yang mulia.. " bisik Chen Khu saat tangannya sudah memegang pinggang Yaseka.
"Lewat sini yang mulia.. " ujar Mahotra dan bergerak cepat menyusuri lorong istana dan ketika bertemu dengan pengawal yang sedang berjaga, Mathanadeva langsung bereaksi dengan melompat melewati Mahotra untuk melumpuhkan penjaga - penjaga itu.
***
"Jendral.. apakah mereka tertangkap..? " ucap salah seorang anak buas Desmar yang pandangannya tak henti menatap langit menantikan sinyal yang akan dikirimkan oleh Mathanadeva.
Istana kerajaan Nishada memang memiliki sebuah lonceng yang akan dibunyikan jika ada bahaya yang mendekati istana atau ada penyusup yang ketahuan memasuki istana, jadi meskipun matahari sudah akan terbit, tapi Desmar masih menyimpan harapan karena suara lonceng yang dimaksudkannya belum terdengar..
Tapi beberapa saat kemudian.....
DUAAAARR...!! DUAAAR...!! DUAAAR..!!
Terdengar ledakan kembang api yang disertai kilatan cahaya menerangi langit Nisahada. Ledakan beruntun itu cukup mengejutkan para penduduk yang sedang terlelap dibalik balutan selimut masing - masing, mereka pun mengintip dari jendela untuk mencari tau apa yang sedang terjadi.
"Itu yang kita tunggu..!! " teriak Desmar dan langsung berdiri serta menghunuskan pedangnya.
"Bangkit melawan atau mati tertindas...!! " teriak Mathanadeva sambil mengacungkan pedangnya dan disambut teriakan oleh seluruh anak buahnya yang memenuhi ruangan.
__ADS_1
Yaseka yang masih dibawa melayang di udarapun tidak kalah terkejutnya mendengar ledakan kembang api dini hari itu yang cukup memekakkan telinga, belum lepas keterkejutannya saat pertama kali melihat orang yang mampu melayang di udara dan terbang seperti seekor burung, kali ini ledakan kembang api yang terjadi berturut - turut kembali mengejutkannya.
Semula Yaseka berfikir jika Mathanadeva hanya melakukan misi untuk menyelamatkannya dari penjara bawah tanah, tapi setelah mendengar ledakan kembang api, Yaseka tidak menyangka jika Mathanadeva akan melakukan perang terbuka melawan Narendra yang mana belakangan ini, kemampuan militer yang dimilikinya cukup disegani oleh kerajaan - kerajaan tetangga.
"Maafkan aku yang mulia.. aku harus menurukan anda disini.. dan aku harus kembali bergabung bersama mereka.. " ujar Chen Khu sambil menunjuk pada ratusan orang yang bergerak menyerang pintu gerbang istana.
Keheningan malam kota Nishada berubah setelah ledakan kembang api beruntun.. prajurit - prajurit Nishada berlarian mencari tau dan sebagian lainnya berlarian kearah tembok saat menyaksikan rekan mereka yang sedang bertarung melawan dua orang, yang bahkan terus membunuh rekan - rekan mereka.
Ditempat lain...
Kobaran api dari bangunan - bangunan milik pemerintah yang terletak di luar kompleks istana juga menimbulkam kepanikan bagi penduduk kota Nishada.
Rencana Mathanadeva berjalan mulus.. para parajurit Nishada merasa jika mereka baru saja diserang oleh sebuah kuatan besar dengan secara tiba - tiba.. bahkan sebagian dari mereka saling bertanya - tanya kerajaan mana yang sedang menyerang mereka dan bagaimana memobilisasi kekuatan besar tanpa mereka ketahui.
Kepanikan besar menyelimuti ibukota Nishada dini hati itu.. dan kepanikan itu menyebabkan Narendra keluar dari kamarnya masih mengenakan pakaian tidurnya. Narendra menyaksikan jika prajurit - prajuritnya serta pendekar - pendekar yang dimilikinya berlarian ke atas tembok istana dan samar - samar Narendra bisa melihat jika prajurit - prajuritnya kewalahan menghadapi dua orang dia atas tembok itu.
Jalanan yang cukup sempit dan hanya bisa dilalui oleh dua orang sekaligus sangat menyulitkan prajurit - prajurit istana untuk menyerang kedua orang itu secara bersamaan.
Belum hilanh rasa penasaran Narenda tentang siapa kedua orang tersebut.. terdengar suara riuh dari depan gerbang istana.. prajurit - prajurit Nishada memang tidak mengetahui jika ada kelompok besar yang sedang bergerak ke arah gerbang karena mereka sedang disibukkan oleh dua orang di atas tembok yang sudah membunuh hampir seratus orang prajurit yang berusaha mendekati mereka.
Beberapa orang pendekar berkemampuan menengah dan memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi mencoba menaiki tembok setinggi lima belas meter itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki. Tapi saat dua puluh pendekar tersebut sedang dalam posisi melayang di udara dan akan melompat ke temlat Matahandeva dan Mahotra.. ratusan gelombang udara berbentuk sisik ular mengahantam tubuh mereka hingga terjatuh dan beberapa diantara mereka tidak sadarkan diri akibat dari pisau - pisau angin yang mengenai tubuh mereka saat tubuh mereka sedang tidak siap atau sedang tidak ada tumpuan karena posisi mereka sedang melayang di udara.
Chen Khu yang melihat kedua puluh orang pendekar tersebut langsung mengeluarkan jurus sisik naga untuk mengehentikan pergerakan pendekar - pendekar tersebut, lalu Chen Khu kemudian menginjakkan kakinya tepat disisi Mathanadeva.
"Chen Khu..disana itu yang bernama Narendra.. " Mathanadeva berbisiki pada Chen Khu sambil menunjuk pada seorang pria yang masih mengenakan baju tidur sedang memerintahkan lebih banyak prajurit untuk ke atas tembok dan mengarahkan prajurit lainnya ke gerbang istana.
" Baik yang mulia.. aku akan membuka jalan..!! "
"PEDANG NAGA LANGIT TINGKAT DUA.. LIDAH API..!!"
__ADS_1
Api terlihat berkobar sepanjang pedang naga langit yang digunakan oleh Chen Khu lalu dengan cepat Chen Khu melompat kedepan dengan melompat lalu memutar tubuhnya di udara dan menginjakkan kakinya pada anak tangga untuk menuruni tangga tersebut diikuti oleh Mathanadeva dan Mahotra yang sesekali melihat kebelakang untuk menjaga kemungikan adanya serangan dari arah belakang.