Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#207. Kelakuan Tuan Guru


__ADS_3

"Pusaka sialan..!! dimana kamu saat ini..??! " umpat Maruka dalam hati sembari menyilangkan kedua kakinya untuk duduk bersila diatas sebuah batu di tempat yang cukup jauh dari pusat kerajaan Gurjara.


"aku harus mencari keberadaan gadis emas dan murid bodoh itu sebelum mencari lokasi gading perak.. " gumam Maruka.


***


Hari itu.. ibukota kerajaan Gurjara terlihat sangat sibuk.. ribuan orang lalu lalang untuk mencari kebutuhan mereka masing - masing.


Mereka adalah prajurit - prajurit kerajaan yang terpaksa harus menyiapkan sendiri perbekalan mereka karena pemberitahuan akan keberangkatan mereka sangat mendadak.. dan waktu yang diberikan sangat singkat..


Hanya satu malam saja.. dan sebelum ayam jantan berkokok esok paginya.. mereka harus segera berkumpul di lapangan istana.. seperti itu perintah yang diberikan oleh Shiva.. tentu saja dia tidak ingin membuat Maruka marah jika prajuritnya terlambat.


Mathanadeva juga sudah mempersiapkan diri.. bahkan sebelum hari gelap..dia sudah berpakaian lengkap..


"Bagaimana kabar Aahana.. ?!"tanyanya pada Khan yang berdiri disebelahnya mengawasi prajurit - prajurit yang terus berdatangan untuk berkumpul di istana.


"Saya sudah memerintahkan orang untuk menyampaikan pada kepala biara tempat tuan putri bersemedi.. agar tidak memberitahu.. jika yang mulia.. atau prajurit - prajurit Gurjara akan berperang.. " balas Khan.


"Hmm... usahakan.. jangan sampai putriku tahu.. dan kalau bisa.. perpanjang masa semedinya.. "


Aahana sedang melakukan ritual penyucian diri di sebuah kuil yang ada di lereng gunung Kabru, dan letaknya sangat jauh dari ibukota.


Ritual penyucian diri itu sendiri merupakan ritual wajib bagi wanita gurjara yang telah memasuki usia perkawinan. ritual penyucian diri itu sendiri adalah empat puluh hari menyepi atau mengasingkan diri..dan khusus bangsawan atau keluarga kerajaan Gurjara.. selalu menjadikan kuil Dofu yang berada di lereng gunung Kabru sebagai tempat untuk melaksanakan ritual tersebut.


"Aku tidak ingin putriku ikut terlibat dalam pertempuran ini.. karena Chen Khu tidak akan meminta bantuan seperti ini jika dia yakin bisa memenangkan pertempuran.. " Mathanadeva terlihat memijat keningnya..


Tentu saja.. ini merupakan pengalaman pertama baginya.. dimana perang tanpa rencana dan persiapan.. tentu saja akan dianggap sebagai sebuah langkah bunuh diri...karena lawan yang akan mereka hadapi tentu saja sudah menyiapkan rencana mereka dengan sangat matang.


***


Matahari sudah sedikit meninggi.. namun Maruka yang di tunggu - tunggu belum juga terlihat..


Banyak prajurit yang terlihat menguap menantikan kedatangannya.. memang banyak diantara mereka yang tidak biasa tidur semalaman.. mungkin gugup.. karena ini merupakan hal yang baru mereka rasakan..


Banyak diantara mereka yang saling membicarakan hal tersebut.. dan mayoritas dari prajurit - prajurit itu beranggapan bahwa mereka hanya akan mengantarkan nyawa ke medan perang..tapi keyakinan serta kesetiaan mereka pada Mathanadeva membuat api semangat dalam diri mereka tetap berkobar meski banyak pertanyaan dalam pikiran mereka.


***


Matahari sudah meninggi, tapi Maruka yang ditunggu - tunggu belum juga muncul dihadapan ratusan ribu prajurit..sebagian dari mereka terlihat mulai gelisah.. tidak terkecuali Mathanadeva sendiri.


Saat suasana mulai riuh.. tiba - tiba terlihat seorang pria berjalan santai memasuki istana..


"Maaf yang mulia.. "

__ADS_1


"Aku ketiduran... "


Ucapnya dengan santai.


***


Saat Matahari terbit dan menampakkan sinar terangnya... pertempuran antara pasukan kekaisaran Han dan para pendekar kembali berlanjut..


Chen Khu yang sejak sehari sebelumnya sudah bertarung dengan kekuatan penuh dapat mengurangi jumlah musuh dengan cepat.. namun dari pihaknya sendiri juga tidak sedikit prajurit - prajurit yang terus berguguran.


Kolonel Lin yang melihat prajurit - prajuritnya mulai kelelahan dan semangat tempur yang juga ikut menurun, terpaksa menarik mundur pasukannya saat senja..


Namun.. pendekar - pendekar yang dipimpin oleh Riu Ji seperti tidak ingin memberi mereka kesempatan walau hanya untuk menghela nafas..mereka sepertinya tidak memperdulikan Chen Khu yang juga terus membantai rekan - rekan mereka dari garis tengah pertahan..meskipun pada akhirnya.. pertempuran mereka harus terhenti sejenak saat langit mulai gelap.


Pagi itu... api pertempuran yang kembali berkobar.. mengharuskan Chen Khu untuk kembali menggunakan seluruh kemampuannya meski Qi yang ada dalam tubuhnya juga sudah banyak berkurang.


Upayanya untuk memulihkan tenaga saat malam hari dengan meditasi dan menelan pil obat yang didapatkannya dari Maruka tidak memberinya perubahan yang signifikan.. sebab pil - pil tersebut hanya memberi perubahan besar pada penambahan tenaga dalam.. tapi untuk Qi.. pil - pil itu tidak terlalu memberikan sumbangsih yang besar.


"Aku akan pinjamkan sedikit kekuatanku anak muda.. " bisik Hua Tuo dalam pikiran Chen Khu.


Huo Tuo menyadari..Qi yang ada dalam tubuh Chen Khu akan berkurang dengan cepat jika dia terus menggunakan seluruh kemampuannya.. untuk itu dia ingin memberi waktu lebih banyak pada tubuh Chen Khu untuk menyerap khasiat dari pil - pil yang telah dikonsumsinya semalam dengan sebaik - baiknya..


"Tapi..!! " Chen Khu coba membantah..


"Aku tidak akan mengambil alih tubuhmu.. dan kalaupun aku mau.. aku bisa mengambilnya dengan paksa saat ini.. dengan kondisimu yang mulai melemah..!! bentak Hua Tuo.


"Baiklah kalau begitu senior.. " ucap Chen Khu pasrah.


Saat ini.. mau tidak mau.. dia memang sangat membutuhkan energi yang cukup banyak untuk terus bertahan dari gempuran - gempuran anak buah Riu ji. Selain harus melindungi diri sendiri.. dia juga harus melindungi prajurit - prajurit Han yang jumlahnya hanya tunggal sekitar dua puluh ribu orang lebih.. dan saat ini mereka hanya mampi bertahan pada celah sempit tebing.


Chen Khu juga tidak lagi memasuki garis pertahanan musuh.. dan hanya bertahan di garis depan untuk bisa mengulur waktu selama mungkin.. sambil menunggu datangnya bantuan dari negara - negara terdekat yang sudah dikiriminya surat.


"Bersiaplah..!! " ujar Hua Tuo.


Sesaat kemudian.. aura besar kembali memancar dari tubuh Chen Khu.. dan hal ini cukup mengagetkan pendekar - pendekar pulau tengkorak..


"Pertempuran sudah sejauh ini.. dan pendekar itu masih menyimpan kekuatan yang sangat besar... " guman Riu Ji pada salah seorang tetua yang sedang mengawasi jalannya pertempuran dari kejauhan.


***


"Disitu kamu rupanya.." gumam Maruka..senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya.


***

__ADS_1


"Jadi sekarang bagaimana guru..??! "


"Apa aku berangkat lebih dulu..?! "ucap Mathanadeva gelisah.


"Hahaha.. berangkat lebih dulu..?? memangnya yang mulia tau mau kemana..?? "


"Yaa.. yang pasti ke kekaisaran Han guru.. " balas Mathanadeva kebingungan.


"Hah..memangnya kekaisaran Han itu seluas ini yah..?? balas maruka sambil membentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jari kemudian ditempelkan pada bola matanya..dan hal ini membuat Mathanadeva hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Lalu apa yang harus kami lakukan guru..?! "


"Coba saja kalau guru tidak menyuruh kami menunggu lalu guru sendiri datang terlambat.. mungkin saat ini kami sudah separuh jalan ke Andhara.. "gerutu Mathanadeva.


"Haah.. sudahlah...!! aku kan sudah bilang kalau aku ketiduran.. " balas Maruka.


"Jika kamu ingin berangkat lebih dulu.. bergabunglah dengan pasukanmu.. "


"meskipun tidak semuanya..tapi aku bisa mengirim kalian separuh dari jumlah kalian sekarang.. " lanjut Maruka.


"Separuh..??! " teriak Mathanadeva


"memangnya kenapa..??! " balas Maruka.


"Kenapa tidak bilang sebelumnya..?? " Mathanadeva tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.. meskipun dia sendiri belum tau apa yang akan dilakukan oleh Maruka..dengan separuh dari pasukannya.


"Memangnya saya tau jika pasukan yang dikumpulkan sebanyak ini..?! " balas Maruka mengeryitkan keningnya..


"Sudahlah..!! kalau yang mulia ingin berangkat lebih dulu.. cepat bergabung dengan para prajurit.. separuhnya lagi.. perintahkan untuk berangkat lebih dulu bersama Shiva.. "ucap Maruka melanjutkan.


Tanpa menjawab.. Mathanadeva berjalan menuruni tangga diikuti oleh Shiva dan pimpinan - pimpinan prajurit lainnya.


"ini yang jadi raja.. siapa sebenarnya..??! " gumam Mathanadeva dalam hati.


"Shiva..! kamu sudah dengan apa yang dikatakan oleh guru kan..??! cepat laksakanan..!! "


" baik yang mulia.. " jawab Shiva.. lalu dengan sigap dia menunjuk beberapa orang pemimpin pasukan untuk mengikutinya.. dan berjalan lebih dulu di depan Mathanadeva..


Tak lama kemudian...dua ratus ribu prajurit dibawah komando Shiva bergerak meninggalkan istana dengan segala pertanyaan yang ada di kepala mereka.


---@@@-----


MAAF.. CUKUP SULIT MENEMUKAN MARUKA..

__ADS_1


__ADS_2