
Setelah mengucapkan terimakasih karena telah diperbolehkan untuk bermalam, Dewi Ratih dan kawan-kawan segera pergi menuju ketempat dimana markas pemberontak berada. Sebenarnya tanpa ikut dengan para pemberontak mereka juga telah berencana untuk membantu mereka. Walaupun begitu, mereka tetap ingin bergabung agar bisa mengenal kawan yang akan mereka jadikan sekutu. Menurut mereka, itulah yang terbaik.
Lagipula tanpa mengetahui siapa musuh dan mana kawan setidaknya perlu mengetahui bagaimana cara mereka bersikap, bagaimana cara mereka berlaku . Menganggap teman yang tidak diketahui siapa dirinya itu sama sekali bukan sesuatu yang baik. Begitulah yang menjadi pertimbangan mereka.
"Apakah kita akan segera sampai?" tanya Dewi Ratih tidak sabar .
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Erlangga.
"Aku rasa saat sampai sana kita akan disambut oleh senjata mereka. Aku rasa sifatnya mereka semua dengan pria yang kita temui kemarin . Apakah kalian siap untuk diusir?" tanya Laksminingrum.
"Kita angkat senjata kita. Apakah kau takut?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Anggap saja kita sedang bermain-main."
***
"Bagaimana kalau kita menyerang Minggu depan? Aku rasa kekuatan kita sudah hampir mendekati target yang telah kita tetapkan sejak awal. Mungkin ada kekurangan, tapi kita bisa menyempurnakannya," saat berada di sebuah ruangan yang sedikit tertutup, sang pangeran berbicara kepada seorang yang menjadi kepercayaannya itu.
"Hamba pikir itu terlalu lama. Dengan kekuatan kita, kurasa kita bisa melakukannya lebih cepat. Mungkin lusa atau bahkan besok."
"Mau bagaimana lagi? Kita hanya melakukan apa yang harus kita lakukan. Hamba juga sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tapi kita harus terus maju, atau apa yang kita lakukan selama ini akan sia-sia."
"Aku tahu itu. Aku hanya sedikit tak menyangka bahwa takdir kita adalah menjadi pemberontak di negeri sendiri. Paman tadi bilang bahwa kita kalau bisa menyerang istana esok atau lusa, apakah paman sudah memikirkan strateginya?"
__ADS_1
"Yang pertama kita harus menyebarkan pasukan di semua pintu gerbang menuju istana. Lalu kita lakukan serangan mendadak dengan begitu mereka tak akan bisa membalasnya. Setelah mereka tak bisa membalas , kita akan kerahkan pasukan yang lebih besar untuk agar mereka benar-benar bisa kita kalahkan. Bagaimanapun juga mereka tak bisa memprediksi serangan kita, mereka takkan tahu jika kita menyerang mereka. Hamba pikir strategi ini akan berhasil jika diantara pasukan kita tak ada pengkhianat," kata orang kepercayaannya itu panjang lebar.
"Aku pikir itu adalah strategi yang bagus. Kapan kira-kira kita akan memberitahukan rencana penyerangan ini terhadap mereka?"
"Nanti malam , saat semuanya berkumpul kita akan memberitahu mereka. Hanya saja , untuk menghindari bocornya siasat, lebih baik kita memberitahukan mereka strategi penyerangan saat kita benar-benar sudah menuju ke Medan perang."
"Aku setuju, memang rawan bocor jika kita memberitahukannya juga nanti malam."
"Apakah tuan siap untuk berhadapan dengan Baginda raja?"
"Kali ini aku tidak akan bertindak seperti seorang pengecut lagi. Aku pastikan dia akan takluk di tanganku," dengan semangat berapi-api sambil mengingat hari itu, sang pangeran berkata.
__ADS_1
"Itulah yang hamba harapkan. Demi masa depan negeri Prabakerta . Hamba senang mendengar kemantapan hati tuan," sambil tersenyum orang itu berkata.