
Pagi - pagi buta.. ribuan pendekar sekte pembunuh iblis mulai bergerak. persiapan yang sebelumnya sudah mereka lakukan memang membuat semuanya menjadi lebih cepat.
Lebih dari seratus ribu pendekar itu melangkah dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi setelah sebelumnya mendapatkab serangan kejutan dari Chen Khu dan para ronin.. bagi mereka.. jika ada yang berani berurusan dengan ratusan ribu pendekar tentu saja bukanlah orang biasa.. apalagi.. pendekar tersebut mampu membunuh tangan kanan ketua tertinggi mereka Tio Fu.
Prajurit - prajurit Han yang ditugaskan untuk berjaga dan memantau pergerakan pasukan sekte pembunuh iblis buru - buru kembali ke pasukan mereka untuk melaporkan hasil pemantauan mereka.
"Kolonel... mereka sudah bergerak.. " ujar salah satu dari lima orang prajurit yang memiliki kemampuan ilmu meringankan tubuh lebih baik dari rekan - rekan prajurit lain yang tergabung dalam pasukan angin biru.
"Bersiaplah..!! sampaikan pada rekan - rekan.. pertempuran kita kali ini mungkin akan menjadi yang tersulit..!! "
"Tapi yang terpenting adalah.. bagaimana kita bisa bertahan selama mungkin sampai pasukan bantuan datang..!! " ujar Lin Dan berusaha memberi semangat.
Lin Dan menyadari.. meskipun Chen Khu memiliki kemampuan yang sangat luar biasa.. namun menghadapi musuh dengan perbedaan jumlah dan kemampuan bertarung yang sangat jauh..maka pertempurab kali ini boleh dibilang adalah sebuah misi bunuh diri.. dan satu - satunya yang mereka miliki dan tidak boleh hilang adalah semangat untuk melindungi rakyat Han.
Lin Dan menganggukkan kepala pada Chen Khu dengan senyum penuh pengharapan sebelum melesat menuju posisinya..menunggu kedatangan musuh yang beberapa saat lagi akan sampai.
***
"Seraaaaang...!! "
Terikan Lin Dan diikuti ribuan anak panah yang melesat ke udara saat matahari baru saja mengeluarkan semburat warna kuning keemasan.
Kemunculan matahari pagi itu seolah menjadi penanda dimulainya sebuah pertempuran besar.
Lesatan ribuan anak panah tersebut dilepaskan oleh pasukan Han yang memang ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi.
Pendekar - pendekar sekte pembunuh iblis tidak terlalu terkejut saat mendapat serangan yang datang secara tiba - tiba.. langkah mereka sudah dipenuhi kewaspadaan setelah penyerangan yang sebelumnya dilakukan oleh Chen Khu dan para ronin.
Dengan sigap.. pendekar - pendekar yang menggunakan perisai segera membuat atap pelindung dari serangan anak panah.. sedangkan pendekar lainnya langsung membentuk formasi bertahan untuk menangkis datangnya anak panah yang sangat banyak dan bahkan sejenak mampu membuat langit kembali terlihat gelap.
Meskipun serangan anak panah dari pasukan Han mampu menjatuhkan beberapa orang lawan.. namun serangan tersebut terbilang tidak efektif karena rapatnya pertahanan yang dibuat oleh lawan mereka.
Anak panah yang berhasil lolos dari tameng atau tangkisan pendekar lain hanya mampu melukai beberapa orang pendekar yang berkemampuan rendah.
Chen Khu yang melihat ada perbedaan kemampuan yang sangat signifikan berusaha membunuh musuh sebanyak mungkin.. meskipun tidak menggunakan seluruh kemampuannya mengingat masih panjangnya pertarungan yang akan mereka jalani.
"anak muda.. sampai kapan kamu akan terus bertarung seperti ini..? " sebuah suara tiba - tiba terdengar dalam kepala Chen Khu.
" Hua Tuo..???! "
"Apa maksudmu bertanya seperti itu..?! " balas Chen Khu dalam pikirannya.
__ADS_1
"selama pertempuran.. kamu hanya menggunakan tidak lebih dari lima puluh persen dari kemampuan yang kamu miliki.. "
"dan sekarang lihatlah.. kesekelilingmu"
"bukannya menyeimbangkan jumlah kalian dengan jumlah musuh.. akan tetapi.. semakin lama kamu bertarung.. maka jumlah anggota pasukan kalian yang kehilangan nyawa juga semakin banyak.. "
"apa kamu tidak tau perbedaan kekuatan diantara kalian.. ??" suara Hua Tuo sedikit meninggi.
Chen Khu terdiam sejenak sambil terus bertarung dia juga melihat ke sekelilingnya.. dan benar seperti apa yang dikatakan oleh arwah pedang yang digunakannya..
dengan perbedaan jumlah dan kemampuan..prajurit - prajurit kekaisaran Han tidak mampu bertahan lama membendung serangan dari pendekar - pendekar yang mereka hadapi.
Lin Dan juga terlihat mulai kewalahan terus membendung serangan demi serangan yang datang bagaikan gelombang samudra.. selain harus melindungi dirinya sendiri.. dia juga harus melindungi orang - orang yang berada dalam jangkauannya..
sedangkan dari kejauhan.. tampak puluhan orang pendekar sedang berdiri dihadan ratusan pendekar lain dari pihak musuh masih belum bergerang dari tempat mereka berdiri seolah sedang mengawasi jalannya pertempuran.. dan mungkin sedang merencanakan sebuah serangan susulan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan..?? " bisik Chen Khu kemudian
"bertarunglah dengan seluruh kemampuanmu.. karena kamu juga tidak akan pernah tau sampai dimana batas kemampuanmu jika kamu belum mengerahkan semuanya.. "
"KENALI DIRIMU.. MAKA KAMU AKAN TAU SAMPAI DIMANA BATASMU.. "ucap Hua Tuo.
"Baiklah kalau begitu..!! sekarang bersiaplah...!! " jawab Chen Khu.
***
di tengah - tengah medan pertempuran tampak sesosok tubuh yang diselimuti aura berwarna keemasan sedang melayang di udara.
"Tuan Chen.. apakah seperti itu kemampuannya yang sesungguhnya..??! " gumam Lin Dan dalam hati.
***
Sesosok bayangan berkelebat di dekat istana kerjaaan gurjara tanpa diketahui satu orangpun dari prajurit - prajurit yang sedang berjaga.
Ashimoto tampak dengan mudah memasuki lingkungan istana kerajaan yang sedang menapaki masa kejayaannya dibawah pimpinan Mathanadeva itu.
"Jangan kira.. kamu bisa dengan mudah memasuki istana ini hanya dengan melewati penjaga - penjaga itu. ."
sebuah suara mengagetkan Ashimoto dan membuat langkahnya terhenti.
"kamu siapa..?! " balas Ashimoto sambil melihat ke sekelilingnya namun tidak menjumpai satu orangpun.
__ADS_1
"Hahaha... pertanyaan itu harusnya aku yang ajukan.. " balas suara itu.. dan tak lama berselang sesosok tubuh tiba - tiba berada disamping Ashimoto dan hanya berjarak beberapa meter saja.
meskipun terkejut dengan kehadiran orang tersebut Ashimoto masih bisa bersikap tenang dan tidak melakukan gerakan yang mengancam orang tersebut.
"Maafkan kelancanganku tuan.. "
"aku hanya tidak ingin melewati segala prosedur yang berbelit - belit hanya untuk dapat menemui yang mulia Mathanadeva.. " ujarnya seraya memberi hormat pada pria yang tiba - tiba saja muncul disampingnya.
Ashimoto yang merupakan seorang Shinobi tingkat tinggi bisa merasakan jika pria yang sekarang ada dihadapannya itu bukanlah orang sembarang.. Ashimoto yang telah melewati berbagai macam pertarungan dan telah bertarung dengan berbagai macam pendekar dari berbagai macam negara dan aliran itu masih belum bisa mengukur kemampuan pria yang ada dihadapannya itu.. meski demikian..
tujuan Ashimoto bukanlah untuk bertarung.. dan hanya menyampaikan surat dari Yaseka yang ditujukan pada Mathanadeva.. hanya saja dia tetap harus berhati - hati dengan setiap orang yang dijumpainya.
"bertemu yang mulia..??! "
"ada keperluan apa.. dan kenapa harus sembunyi - sembunyi seperti ini.. " ujar pria itu acuh sambil memutar - mutar rumput yang ada di gigitannya.
"Apa kamu ingin menipuku..hah..!!? lanjut pria itu.
"Maafkan aku tuan.. tapi.. yang mulia Yaseka berpesan agar aku sendiri yang menyampaikan gulungan ini pada yang mulia Mathanadeva.. " ujar Ashimoto mulai bersikap waspada.
"Sebagai seorang shinobi.. aku hanya memegang janjiku.. " ujarnya lagi.
"Hmmm... begitu yaa...!? "
"kalau begitu.. ikut saya.. " balas pria itu..
dan tanpa disadari oleh Ashimoto.. pria tangan pria itu tiba - tiba sudah berada di pundaknya.. dan masih belum sempat Ashimoto bereaksi mereka telah berada di dalam ruangan yang terlihat sangat mewah.
"Guru Maruka..!! "
"Siapa dia.. " ujar Matahanadeva tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena kehadiran Maruka yang tiba - tiba saja muncul di tengah - tengah aula kerajaan gurjara.
Ashimoto juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar suara Mathanadeva dari arah belakang.. karena rupanya.. saat memasuki ruang aula.. Maruka sempat membalikkan badannya sehingga saat ashimoto berada di dalam aula.. dia membelakangi singgasana yang diduduki oleh Mathanadeva..
dengan segera.. Ashimoto berbalik lalu berlutut memberi hormat pada raja gurjara itu meskipun dadanya masih berdegup kencang dan pikiran yang masih berusah mencerna apa yang baru saja terjadi.
------------------
JANGAN TANYA KENAPA BARU UP..
JAMAN SEDANG SUSAH.. KITA HARUS MENYELAMATKAN DIRI MASING - MASING..
__ADS_1
YANG PASTI..
NERAKA SUDAH PADAT.. MAKANYA SAYA MEMUTUSKAN UNTUK KEMBALI..!!