Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
38. Menuju Gunung Luhur


__ADS_3

Saat pagi tiba, Erlangga merasa sedikit membaik daripada sebelumnya. Tangannya yang sebelumnya mati rasa kini sudah mulai bisa digerakkan dengan leluasa. Walaupun kakinya masih terasa mati rasa namun ia tetap bersyukur. Setidaknya sekarang ia bisa lebih baik daripada sebelumnya.


"Kalian berdua mau pergi sekarang?" Saat mendengar Laksminingrum dan Aji Dharma mengatakan salam perpisahan Erlangga berkata begitu. Ia ingin bisa lebih lama lagi bersama mereka.


"Kami punya tujuan yang harus kami capai secepatnya. Sebenarnya kami ingin berada lebih lama lagi disini, tapi suara panggilan untuk terus berkelana terus menghantui kami ."


"Kalau itu mau kalian aku tidak bisa menahannya. Semoga kalian bisa mencapai tujuan kalian ya," dengan tersenyum walaupun tidak rela Erlangga berkata.


"Suatu saat nanti, aku harap kita bisa bertemu kembali. Pada saat itu , aku ingin kita bisa melakukan perjalanan bersama lagi,"lanjutnya lagi.


Laksminingrum dan Aji Dharma berjalan keluar dari rumah yang itu dengan membawa sebuah peta yang dibuat oleh Nyi Arum Sari. Rute mereka terlihat lumayan jauh. Saat melihatnya , mereka berdua memperkirakan akan sampai di Gunung Luhur dua atau tiga bulan kemudian jika tiada aral melintang.


Perlahan, mereka terus pergi menuruni bukit itu terus berjalan ke arah Utara sesuai arah yang ada di peta itu. Hutan yang luas terus mereka susuri. Sebelum malam tiba mereka berdua ingin sampai di perkampungan terdekat.

__ADS_1


***


"Suatu saat nanti, kalian berdua juga akan berpisah. Boleh aku tahu tujuanmu berguru ilmu Kanuragan?" Nyi Arum Sari bertanya kepada Dewi Ratih yang terlihat sedih.


"Aku ingin jadi seperti ayahku yang hidup di medan perang. Aku juga ingin membebaskan negeri tempat aku dilahirkan dari tangan orang lalim."


"Niat yang bagus . Aku tahu itu tujuan yang bagus, tapi aku tidak tertarik sebenarnya . Kalau kamu tidak menunjukkan gelang itu, aku tidak mau melatih mu. Untuk apa bersusah payah jika harus mengantarkan nyawa?" Nyi Arum Sari sepertinya sedang menguji Dewi Ratih.


"Untuk apa? Apa yang salah jika hendak membebaskan negeri kelahiran yang sedang terpuruk sekarang? Aku berjuang demi negeriku . Tidak masalah jika mati, selama tujuanku tercapai aku tidak peduli."


***


"Apakah arah ini sudah benar?" Tanya Aji Dharma.

__ADS_1


"Menurutku ini sudah benar. Kenapa kamu jadi ragu?" Tanya Laksminingrum.


"Aku cuma ingin memastikannya saja. Berapa lama lagi kita akan sampai perumahan?" Tanya Aji Dharma.


"Entah, tapi aku harap kita bisa sampai sebelum malam."a


"Sebentar, aku sepertinya mendengar suara wanita sedang meminta pertolongan. Apa kamu mendengarnya juga?" Tanya Aji Dharma.


"Ya, aku mendengarnya," setelah terdiam sejenak Laksminingrum menjawab. Mereka berdua segera berlari menuju ke arah dimana terdengar suara itu.


Mereka mendapati seorang wanita uang yang nampaknya mulai dilucuti pakaiannya oleh seorang pria yang terlihat setengah telanjang. Setelah melihat hal itu, keduanya segera menyerang pria yang nampaknya punya niat tidak baik kepadanya.


Pertarungan berjalan tidak lama. Dalam sekejap pria itu bisa dikalahkan. Ingin rasanya Aji Dharma membunuh pria itu, tapi karena pria itu berkata bahwa dia anak kepala desa disitu, Aji Dharma berubah pikiran. Ia tidak ingin punya masalah dengan para penduduk.

__ADS_1


Daripada terus berlama-lama disitu, ia memilih untuk membawa pergi wanita itu ke rumahnya. Setidaknya dengan begitu, orang tua si gadis akan segera mengetahui apa yang terjadi dengan putri mereka agar bisa menemukan solusi yang tepat. Dengan begitu, kejadian buruk seperti itu tidak akan terjadi lagi nantinya.


__ADS_2