Pendekar Pedang Naga Langit

Pendekar Pedang Naga Langit
#121. Persiapan Penyerangan


__ADS_3

Tiga hari berlalu saat Mathanadeva pertama kali keluar dari kamar yang disiapkan Khusus untuknya.. dia berjalan ke halaman belakang kediaman walikota Nalagarh untuk meregangkan tubuhnya.


Dua hari masa pemulihan luka dirasanya sudah cukup mengingat tidak ada luka dalam yang didapatkannya selama pertempuran, dan setelah mendapatkan sumber daya berharga dari Chen Khu, luka - lukanya sembuh lebih cepat serta energinya juga hampir pulih sepenuhnya.


Mathanadeva mencabut pedang halilintar setelah beberapa saat melakukan peregangan, lalu kemudian mencoba menggerakkan badannya dengan memainkan pedang tersebut.


"Ayahanda.. jangan terlalu memaksakan diri..!! " ujar Aahana yang tiba - tiba muncul dari balik pintu.


"Ahh.. tidak putriku.. ini hanya sedikit pemanasan.. " jawab mathanadeva dan melanjutkan lagi gerakannya dengan mencoba teknik - teknik lain, sedangkan Aahana tidak berani berbicara lebih jauh karena sudah mengenal watak ayahnya yang memang tidak akan berhenti berlatih jika bukan karena kemauannya sendiri.


"Oh.. iya.. bagaimana keadaan Kumar..? " tanya Mathanadeva menghentikan latihannya lalu menyarungkan pedangnya.


"Walikota masih belum siuman ayah.. tapi kondisinya terus membaik.. setidaknya itu kata tabib.. " jawab Aahana lalu memberikan kain untuk mengeringkan keringat ayahnya.


"Hmm.. syukurlah.. semoga saja dia bisa segera pulih karena masih ada yang perlu aku bicarakan dengannya... lalu Chen Khu..? " tanya Mathanadeva kembali.


"Kakak Chen Khu melatih beberapa teknik baru pada para prajurit agar tidak bosan menunggu katanya.. "


"Hmmm.. tapi aku tidak mendengar suara orang sedang latihan..? "


"Ayaah.. aku kesini membawa seribu orang prajurit.. belum lagi tambahan seribu orang lagi yang dikirim oleh paman Khan dan baru tiba kemarin setelah paman Khan mendapat kabar jika kita akan menghadapi pertempuran yang lebih besar.. jadii.. pelataran kediaman walikota tidak cukup untuk menampung mereka semua.." jawab Aahana sambil memberikan air minum pada ayahandanya.


"Ooh.. lalu mereka berkemah dimana..? " tanya Mathanadeva setelah menghabiskan minumnya.


"Dua kilometer dari sini.. ada sebuah tanah yang sangat lapang yang mampu menampung lima ribu orang prajurit.. " jawab Aahana sambil menyodorkan nampan berisi buah - buahan.


"Antarkan aku ke sana.. ada yang perlu aku bicarakan dengan Chen Khu sebelum penyerangan dimulai.. " ujar Mathanadeva seraya berdiri dan diikuti oleh Aahana..

__ADS_1


"Siapkan kuda.. yang mulia akan ke perkemahan.. " perintah Aahana pada pengawal yang berjaga dan dengan sigap pengawal tersebut melaksanakan perintah setelah memberi hormat pada Mathanadeva dan putrinya.


Puluhan prajurit yang mengamankan kediaman walikota mengiringi Mathanadeva dan Aahana menuju perkemahan prajurit Gurjara dan tidak berapa lama, saat Mathanadeva sampai di perkemahan, seluruh prajurit yang sedang berlatih, menghentikan aktivitas mereka sejenak lalu memberi hormat padanya.


"Hormat pada yang mulia dan tuan putri..!! " ujar mereka serempak.


Mathanadeva menganggukkan kepala kemudian memberi tanda dengan tangannya agar prajurit - prajurit itu kembali berdiri dan meneruskan latihan.


"Selamat datang yang mulia..bagaimana kondisi anda..? " sambut Chen Khu sambil memberi hormat.


"Rasanya aku sudah baikan Chen Khu.. terima kasih sudah mau melatih prajuritku di saat seperti ini.. " jawab Mathanadeva sambil memberikan pelukan pada Chen Khu.


"Saya kurang paham tentang keadaan prajurit yang mulia.. tapi Shiva mengatakan jika semangat bertarung mereka akan menurun jika mereka merasa bosan.. makanya aku mengajarkan teknik - teknik baru sehingga dalam pertempuran nanti mereka akan lebih bersemangat untuk mencoba teknik baru yang baru mereka pelajari.. " jawab Chen Khu singkat lalu mempersilahkan Mathanadeva untuk duduk di kursi yang memang dibuat khusus untuk Chen Khu agar lebih mudah mengawasi latihan yang diberikannya.


"Tunggu kakak Chen Khu.. sejak tiga hari yang lalu ayahanda mengatakan kita akan menghadapi pertempuran yang lebih besar, sekarang kakak juga mengatakan tentang pertempura.. memangnya pertempuran seperti apa yang akan kami hadapi nanti..?? kenapa tidak satupun dari kami yang mengetahuinya..? " tanya Aahana pada Chen Khu dengan tatapan tajam, akan tetapi Aahana langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah saat bertatapan dengan Chen Khu.. pikirannya kembali pada saat Chen Khu menyelamatkan nyawanya..dan sejak saat itu.. Aahana selalu terbayang pada wajah Chen Khu sebelum tidur.


"Dengarkan semua wahai prajurit Gurjara yang gagah berani..!! " Mathanadeva bersuara lantang dan membuat seluruh prajuritnya menghentikan latihan dan menghadap padanya dan kemudian meneriakkan yel - yel hidup Mathandeva dan hidup Gurjara sambil mengacungkan tinju mereka ke udara.


Mathanadeva mengangkat tangan untuk menghentikan keriuhan para prajurit pilihan tersebut dan saat suasana menjadi hening Mathanadeva pun melanjutkan.


"Malam nanti kalian istirahatlah yang cukup..!! karena besok.. kita akan menyerang markas sekte yang selama ini membuat kekacauan dengan mengerahkan siluman - siluman yang mereka taklukkan..!! "


Suara riuh seperti dengungan lebah kembali terdengar karena setiap prajurit saling berbicara satu sama lain membicarakan maksud raja mereka dan semuanya kembali terdiam saat Mathanadeva kembali mengangkat tangannya.


"Sekte itu pernah aku hancurkan beberapa puluh tahun lalu.. tapi rupanya.. menghilangnya mereka yang tersisa saat itu adalah untuk menyusun kekuatan baru untuk menyerang Gurjara.. "


Dengungan suara lebah kembali terdengar tapi tidak berlangsung lama karena Mathanadeva kembali menenangkan lalu menoleh pada Chen Khu dan memberi tanda untuk melanjutkan.

__ADS_1


" Aku bersama yang mulia sudah mengetahui lokasi markas mereka serta seberapa besar kekuatan yang mereka miliki.. jadi latihan hari ini saya cukupkan dan selanjutnya.. makanla yang banyak lalu istirahatlah yang cukup.. besok kita akan menyerang mereka dan meninggalkan kuda - kuda kita di sini.. "


Suara riuh kembali terdengar saat Chen Khu menyelesaikan ucapannya.. tentu saja karena baru kali ini prajurit - prajurit itu akan menempuh perjalan dengan berjalan kaki dan pasti itu akan sangat melelahkan.


"Kalian sudah dengar bukan..?? jadi kembali ke tenda kalian masing - masing.. strategi penyeranganya akan kami bicarakan malam ini.. dan masing - masing komandan pasukan untuk datang ke kediaman walikota saat hari mulai gelap.. " ucap Mathanadeva menampili dan seluruh prajurit kemudian memberi hormat padanya sebelum membubarkan diri.


"Chen Khu.. Shiva.. mari ikut bersamaku ke kediaman walikota..!! " ujar Mathanadeva.


" Baik yang mulia.. " jawab keduanya kompak dan dengan menunggangi kuda mereka kembali ke kediaman walikota Nalagarh.


***


Tamil Nadu hampir menyelesaikan tahap akhir latihannya baru saja keluar dari kamarnya lalu memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk memanggil para ketua lainnya.


Tamil Nadu memerintahkan pada pengawal itu untuk memanggil ketiga ketua untuk hadir secepatnya karena dia tidak bisa menunda latihannya cukup lama.. dan setelah menunggu beberapa lama hanya Gulika yang memasuki ruang pertemuan yang biasa mereka gunakan dengan wajah pucat dan terlihat ketakutan.


"Gulika.. ada apa denganmu..?? " mana Rajesh dan Vikhram...?? " tanya Tamil Nadu saat Gulika baru memasuki ruangan.


"Tuan Tamil.... Rajesh dan Vikhram belum kembali sejak tiga hari yang lalu.. " jawab Gulika dengan tubuh bergetar.. ketua divisi racun tersebut sadar jika Tamil Nadu pasti murka jika mengetahui jika yang dilakukan oleh kedua rekannya untuk meyerang dua kota secara bersamaan dan tanpa sepengetahuan serta persetujuannya.


"Hmm.. kemana mereka..?? "


Kali ini Gulika tidak berani untuk langsung menjawab.. dia harus mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab pertanyaan Tamil Nadu.


"Kenapa kamu diam saja..?? apa kamu tidak mendengarku..?? " Suara Tamil Nadu mulai meninggi.


"Ttt.. tuan... Rajesh menyerang kembali kota Nalagarh, sedangkan Vikhram menyerang Kolkata.. " jawab Gulika terbata - bata.

__ADS_1


"Apa..??! " teriak Tamil Nadu sambil memukul meja yang ada dihadapannya dan meja tersebut hancur berkeping - keping sampai tidak berbentuk.


__ADS_2